30 Hari Menyusuri Jalur Lumpur Aceh, Muslim Ayub Pilih Hadir Bersama Korban Banjir dan Longsor

Aceh, Obor Rakyat – Hujan belum sepenuhnya reda ketika sebuah mobil bak terbuka berhenti di pinggir jalan tanah di pedalaman Aceh. Lumpur masih tebal, rumah-rumah warga tampak miring, dan suara sungai meluap terdengar tak jauh dari lokasi. Di tengah kondisi itulah, Muslim Ayub memilih berada selama sebulan terakhir meninggalkan ruang rapat dan podium pidato, demi turun langsung ke jalur bencana.
Muslim Ayub saat menyusuri seluruh wilayah Aceh yang terdampak banjir dan longsor.

Aceh, Obor Rakyat – Hujan belum sepenuhnya reda ketika sebuah mobil bak terbuka berhenti di pinggir jalan tanah di pedalaman Aceh. Lumpur masih tebal, rumah-rumah warga tampak miring, dan suara sungai meluap terdengar tak jauh dari lokasi. Di tengah kondisi itulah, Muslim Ayub memilih berada selama sebulan terakhir meninggalkan ruang rapat dan podium pidato, demi turun langsung ke jalur bencana.

Selama 30 hari, sejak akhir November hingga penghujung Desember 2025, Muslim Ayub menyusuri hampir seluruh wilayah Aceh yang terdampak banjir dan longsor. Dari pesisir barat hingga pedalaman tengah, dari wilayah selatan hingga timur Aceh, ia berpindah dari satu titik krisis ke titik lainnya.

Pola ceritanya nyaris sama: rumah hanyut, sawah rusak, dan warga yang menunggu kepastian bantuan.
Perjalanan itu tidak mudah. Banyak ruas jalan terputus, memaksa tim menyeberangi sungai menggunakan sampan, menembus lumpur dengan berjalan kaki, hingga berulang kali tertahan karena kendaraan tak mampu melaju. Di beberapa lokasi terpencil, distribusi bantuan dilakukan secara manual, karung demi karung dipanggul melewati jalur sempit dan licin.
Namun yang paling melelahkan bukan jarak tempuh, melainkan cerita warga. Di pengungsian darurat, Muslim Ayub lebih banyak duduk dan mendengar.

Ia berbincang dengan petani yang kehilangan lahan, ibu-ibu yang memasak dengan peralatan seadanya, hingga anak-anak yang terpaksa menghentikan sekolah sementara waktu. Di salah satu titik, ia bahkan ikut memasak dan makan bersama warga, tanpa sekat, tanpa panggung.

“Yang mereka butuhkan bukan hanya bantuan, tapi keyakinan bahwa mereka tidak sendirian,” ujar Muslim Ayub saat ditemui di sela kunjungan, Sabtu (3/1/2026).

Baca Juga :  NasDem Peduli Korban Banjir dan Longsor Aceh Timur, Tim Kesehatan Layani Warga Gratis di Lima Desa

Aksi kemanusiaan ini melibatkan relawan dan tim NasDem Peduli Bencana Aceh, bekerja bersama aparat TNI dan Polri di lapangan. Kolaborasi tersebut membuat bantuan dapat menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini sulit diakses.

Meski demikian, misi tidak selalu berjalan mulus. Ban kendaraan pecah, logistik sempat tertahan, bahkan dua kecelakaan terjadi di tengah perjalanan. Namun upaya bantuan tidak dihentikan.

Bagi Muslim Ayub, kehadiran langsung di lokasi bencana menjadi cara untuk melihat persoalan secara utuh. Ia mencatat kerusakan infrastruktur, kondisi tanggul sungai, hingga kebutuhan pascabencana yang kerap luput dari perhatian.

“Bencana tidak berhenti saat air surut. Justru setelah itu, warga paling membutuhkan pendampingan,” katanya.

Tidak ada seremoni penutupan di akhir perjalanan. Tim hanya berkemas dan kembali ke Banda Aceh. Namun jejak perjalanan itu tertinggal di banyak tempat, dalam bentuk bantuan yang sampai, percakapan yang didengar, dan kehadiran yang memberi rasa aman.

Tiga puluh hari di jalur lumpur Aceh menunjukkan satu hal sederhana: di tengah bencana, kemanusiaan sering kali hadir bukan lewat janji, melainkan lewat langkah kaki yang memilih mendekat. (*)

Penulis : Muhammad
Editor : Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *