
Menempatkan Kawasan Ijen sebagai Ruang Ekologis, Sosial, dan Investasi Masa Depan
Bondowoso, Obor Rakyat – Kawasan Ijen di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, kembali menjadi perhatian publik. Namun sayangnya, sorotan yang muncul kerap terjebak dalam narasi konflik, tarik-menarik kepentingan, serta ketegangan antaraktor.
Padahal, jika ditelisik lebih dalam, Ijen sejatinya bukan medan konflik. Ijen adalah penyangga kehidupan secara ekologis, sosial, dan ekonomi bagi ribuan warga di sekitarnya.
Narasi konflik yang dilekatkan pada kawasan Ijen berisiko menyederhanakan persoalan yang kompleks menjadi hitam-putih. Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, Ijen bukan sekadar objek perebutan kepentingan, melainkan ruang hidup yang mempertemukan relasi manusia dan alam secara utuh.
Fungsi Ekologis Ijen yang Tak Tergantikan
Sebagai kawasan pegunungan dengan ekosistem vulkanik aktif, Ijen memiliki peran ekologis strategis. Kawasan ini berfungsi sebagai daerah resapan air, pengatur iklim mikro, serta habitat keanekaragaman hayati.
Fungsi-fungsi tersebut menopang kehidupan masyarakat di wilayah hilir, terutama dalam sektor pertanian, ketersediaan air bersih, dan ketahanan lingkungan.
Ketika narasi konflik mendominasi ruang publik, fokus terhadap perlindungan lingkungan kerap terpinggirkan. Padahal, degradasi ekologis di kawasan Ijen akan membawa dampak jangka panjang, lintas wilayah, dan lintas generasi. Kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan hari ini, tetapi beban masa depan.
Ijen sebagai Ruang Hidup Masyarakat
Bagi masyarakat sekitar, Ijen bukan semata lanskap alam atau destinasi wisata unggulan Jawa Timur. Ijen adalah ruang hidup. Aktivitas ekonomi warga—mulai dari pertanian, pariwisata, hingga jasa pendukung sangat bergantung pada keberlanjutan kawasan ini.
Pelabelan Ijen sebagai medan konflik berpotensi meminggirkan suara masyarakat lokal yang selama ini hidup berdampingan dengan alam.
Pendekatan yang lebih adil adalah menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam pengelolaan kawasan, bukan sekadar objek kebijakan. Partisipasi warga menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial.
Menggeser Narasi: Dari Konflik ke Kolaborasi
Sudah saatnya para pemangku kepentingan—pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pelaku usaha—menggeser cara pandang terhadap Ijen. Kawasan ini tidak membutuhkan eskalasi konflik, melainkan kolaborasi.
Dialog terbuka yang berbasis data ilmiah, kajian lingkungan, dan kearifan lokal menjadi fondasi penting dalam merumuskan kebijakan yang berkelanjutan.
Narasi publik yang sehat akan mendorong lahirnya solusi jangka panjang, bukan memperuncing perbedaan. Setiap kebijakan terkait Ijen seharusnya diuji dengan pertanyaan mendasar: apakah langkah ini menjaga keberlanjutan hidup manusia dan alam secara bersamaan?
Ijen, Warisan untuk Generasi Mendatang
Lebih dari sekadar isu aktual, Ijen adalah warisan masa depan. Cara kita membicarakan dan mengelola kawasan ini hari ini akan menentukan kualitas lingkungan dan kehidupan generasi mendatang. Karena itu, Ijen perlu dilepaskan dari stigma konflik dan dikembalikan pada jati dirinya sebagai ruang hidup bersama.
Menjaga Ijen berarti menjaga kehidupan. Dan kehidupan tidak tumbuh dari konflik, melainkan dari kesadaran kolektif untuk merawat, melindungi, dan mengelola alam secara bijak. (*)
Penulis : Redaksi