
Aceh, Obor Rakyat – Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh belum sepenuhnya usai. Banjir dan longsor masih menyisakan luka mendalam bagi ribuan warga di berbagai kabupaten. Di tengah akses terputus, listrik padam, dan jaringan komunikasi yang lumpuh, kerja kemanusiaan terus bergerak. Salah satunya melalui misi NasDem Peduli yang telah berlangsung lebih dari satu bulan dan dipastikan terus berlanjut.
Hujan yang belum sepenuhnya reda membuat sejumlah jalur darat di pedalaman Aceh berubah menjadi lautan lumpur. Truk-truk bantuan harus berjibaku menembus medan berat demi memastikan logistik sampai ke tangan warga terdampak. Dalam situasi darurat seperti ini, solidaritas dan keberlanjutan bantuan menjadi kunci utama pemulihan.
10 Ton Sembako Disalurkan ke Bireuen dan Lhokseumawe
Komitmen Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, Irsan Sosiawan Gading, kembali diwujudkan melalui pengiriman 10 ton sembako menggunakan truk tronton ke Kabupaten Bireuen dan Kota Lhokseumawe. Bantuan ini merupakan bagian dari rangkaian penyaluran logistik sejak hari-hari awal bencana.
Irsan menegaskan bahwa bantuan tidak hanya difokuskan pada daerah pemilihan, tetapi juga menjangkau wilayah-wilayah yang terdampak paling parah.
“Dalam kondisi bencana, kehadiran harus nyata dan berkelanjutan,” ujarnya, Selasa (6/1/2026).
Dapur Umum Mahasiswa Jadi Perhatian Khusus
Selain masyarakat umum, bantuan juga disalurkan kepada dapur umum mahasiswa di Banda Aceh. Mahasiswa dari berbagai daerah terpaksa bertahan akibat akses jalan dan jembatan terputus serta hilangnya jaringan komunikasi.
Penyaluran bantuan berlangsung pada 10–17 Desember 2025, menyasar dapur umum di Asrama Mahasiswa Kota Langsa, IPPAT Aceh Timur, IPAU Aceh Utara, Aceh Tamiang, serta mahasiswa asal Aceh Tengah dan Bener Meriah di kawasan Anjungan PKA Banda Aceh. Di tengah keterbatasan, mahasiswa berinisiatif membangun dapur umum secara swadaya memasak, berbagi logistik, dan menjaga solidaritas di masa krisis.
26 Ton Bantuan Menjangkau Tujuh Kabupaten
Hingga tahap ketiga, DPW Partai NasDem Aceh telah menyalurkan 26 ton bantuan kemanusiaan ke tujuh kabupaten terdampak, yakni Pidie Jaya, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Tamiang, dan Nagan Raya.
Bantuan mencakup kebutuhan pokok, logistik darurat, perlengkapan pengungsian, hingga kebutuhan mendesak lainnya. Distribusi dilakukan melalui jalur darat dan udara, termasuk ke wilayah-wilayah yang terisolasi.
Posko Darurat di Aceh Tamiang, Bertahan di Tengah Sunyi
Di Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, relawan mendirikan posko darurat sederhana di depan sekolah negeri. Lumpur masih menggenang, air bersih sulit diperoleh, dan sinyal komunikasi nyaris tak ada.
Relawan harus berjalan ratusan meter melewati lumpur demi mendapatkan air bersih, bahkan berpindah beberapa kilometer hanya untuk berkomunikasi. Dari posko inilah distribusi logistik, pembersihan rumah warga, hingga perbaikan hunian darurat dilakukan.
Perjalanan relawan menuju lokasi menempuh lebih dari 2.000 kilometer, melintasi Pulau Jawa hingga Sumatra. Kendaraan rusak dan ban pecah menjadi tantangan tersendiri, namun tidak menghentikan misi kemanusiaan.
Menjangkau Dataran Tinggi dan Wilayah Terisolasi
Bantuan juga menyasar wilayah dataran tinggi seperti Takengon dan Gayo Lues, daerah dengan tantangan geografis berat. Di Bener Meriah, Pidie, dan wilayah lainnya, bantuan difokuskan pada pengungsi, termasuk kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan lansia. Dapur umum dan posko darurat masih menjadi tumpuan utama warga yang kehilangan rumah dan mata pencaharian.

Komitmen Berkelanjutan, Bukan Sekadar Seremonial
Irsan Sosiawan menegaskan bahwa bencana tidak boleh diperlakukan sebagai peristiwa sesaat. Menurutnya, kehadiran di tengah masyarakat harus diwujudkan melalui kerja nyata, bukan simbol politik.
“Masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan hari ini, tetapi pendampingan hingga benar-benar pulih,” tegasnya.
Menuju Fase Pemulihan
Saat ini, Aceh memasuki fase krusial pascabencana. Kebutuhan darurat masih tinggi, sementara pemulihan jangka menengah seperti perbaikan rumah, akses air bersih, sanitasi, dan pemulihan ekonomi mulai mendesak.
Relawan NasDem Peduli bersiap menjangkau wilayah yang belum bisa dilalui kendaraan bermotor. Bantuan akan dipanggul dan dibawa berjalan kaki, menembus jalur yang belum tersentuh.
Di tengah sunyi pascabencana, kerja bersama menjadi penopang harapan. NasDem Aceh menegaskan komitmennya untuk terus hadir dan bergerak bersama masyarakat, memastikan bahwa pemulihan Aceh tidak berhenti ketika sorotan mulai meredup. (*)
Penulis : Muhammad
Editor : Redaksi