
Reok Barat, Obor Rakyat — Tragedi tenggelamnya seorang siswa di kawasan wisata Tiwu Pai, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, pada 11 Desember 2026, membuka kembali perdebatan serius soal keselamatan wisata, tanggung jawab pengelola, dan kedisiplinan pengunjung.
Kawasan yang secara resmi telah diumumkan tutup sementara itu justru menjadi lokasi hilangnya satu nyawa.
Pengelola pribadi Tiwu Pai, Irenius Andar, menyatakan bahwa keputusan penutupan telah diberlakukan sejak 5 Januari 2026 akibat tingginya curah hujan dan kondisi alam yang dinilai berbahaya.
Informasi penutupan tersebut, menurutnya, telah diumumkan secara terbuka melalui akun Facebook resmi pengelola.
“Sejak 5 Januari 2026 Tiwu Pai sudah kami tutup sementara. Curah hujan sangat tinggi dan membahayakan pengunjung,” kata Irenius saat dikonfirmasi, Senin (12/1/2026).
Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa status ‘tutup’ tidak sepenuhnya menghentikan aktivitas kunjungan. Pada hari kejadian, Irenius mengaku didatangi rombongan 11 siswa yang tetap memohon untuk masuk ke area wisata tersebut.
Izin Bersyarat di Kawasan yang Ditutup
Irenius menegaskan bahwa sejak awal ia melarang keras rombongan siswa itu masuk karena kondisi cuaca buruk. Akan tetapi, desakan terus-menerus dari para siswa yang mengaku hanya ingin berfoto tanpa berenang, akhirnya membuat pengelola memberikan izin terbatas.
“Saya izinkan dengan catatan tegas, tidak boleh mandi dan tidak boleh berenang,” ujarnya.
Keputusan inilah yang kemudian menjadi titik krusial. Di kawasan wisata alam dengan risiko tinggi, izin bersyarat sering kali menjadi celah berbahaya ketika pengawasan tidak dapat dilakukan secara penuh.
Larangan Diabaikan, Nyawa Melayang
Dalam perjalanan menuju lokasi, beberapa siswa berlari lebih dulu meninggalkan rombongan. Ketika Irenius tiba, dua di antaranya sudah berada di dalam air.
“Saya kaget karena sudah ada dua anak berenang. Saya langsung menegur dan memarahi mereka,” tutur Irenius.
Namun teguran itu terlambat. Tak lama kemudian, kabar mengejutkan datang: salah satu siswa tenggelam. Upaya penyelamatan dilakukan secara manual oleh Irenius, yang berulang kali menyelam di tengah air keruh dan cuaca ekstrem.
“Saya menyelam berkali-kali sampai kelelahan, tapi korban belum ditemukan,” ungkapnya.
Akhirnya, pencarian dilanjutkan dengan bantuan warga setempat.
Tragedi yang Seharusnya Bisa Dicegah?
Kasus ini menimbulkan pertanyaan besar: jika kawasan sudah ditutup, mengapa masih ada toleransi?.
Di sisi lain, tragedi ini juga mencerminkan rendahnya kesadaran pengunjung terhadap risiko wisata alam, terutama di tengah cuaca ekstrem.
Tiwu Pai diketahui dikelola secara pribadi oleh Irenius Andar dan baru beroperasi sekitar lima bulan.
Minimnya sistem pengamanan, papan larangan yang tegas, serta pengawasan ketat menjadi sorotan publik pasca-kejadian ini.
Tragedi di Tiwu Pai bukan sekadar kecelakaan, melainkan peringatan keras bahwa wisata alam membutuhkan aturan yang tegas, kepatuhan pengunjung, dan keputusan pengelola yang tanpa kompromi. Dalam kondisi alam yang berbahaya, satu kelonggaran kecil bisa berujung pada kehilangan nyawa. (*)
Penulis : Susilo Hermanus
Editor : Redaksi