
Labuan Bajo, Obor Rakyat – Ketua DPW Partai NasDem Nusa Tenggara Timur (NTT), Edi Endi, menegaskan bahwa partai politik memiliki tanggung jawab historis untuk merawat tradisi diskursus gagasan kebangsaan dan memperjuangkan pembebasan rakyat dari berbagai bentuk penderitaan sosial, ekonomi, dan politik.
Penegasan tersebut disampaikan Edi Endi dalam pernyataan yang diunggah oleh Pius Rangka di akun Facebook pribadinya, Selasa (14/1/2026) lalu, di Labuan Bajo.
Menurut Edi Endi, partai politik tidak boleh direduksi hanya sebagai mesin elektoral. Lebih dari itu, partai harus menjadi ruang hidup ide dan gagasan, tempat lahirnya pemikiran kritis yang berpihak pada kepentingan rakyat.
“Partai politik itu harus aktif merawat diskursus gagasan. Dari sanalah lahir ide-ide hebat yang kemudian bisa menjadi agenda setting politik pembangunan untuk kepentingan rakyat,” ujar Edi Endi, yang juga merupakan Bupati dua periode Kabupaten Manggarai Barat.
Apresiasi “Bengkel Gagasan” NasDem Manggarai
Pernyataan Edi Endi tersebut disampaikan sebagai respons atas inisiatif Ketua Bapilu DPD Partai NasDem Kabupaten Manggarai, Heri Baben, yang menggagas penguatan tradisi diskursus akademik dan kritis di Sekretariat Partai NasDem Ruteng melalui program bertajuk “Bengkel Gagasan”.
Edi Endi menilai program tersebut sebagai langkah strategis dan progresif yang sejalan dengan semangat partai politik modern, yakni pertarungan ide dan gagasan, bukan semata-mata pertarungan suara dalam pemilu.
“Apa yang digagas Saudara Heri Baben adalah sesuatu yang sangat positif. Ini mencerminkan ruh perjuangan partai politik modern yang berbasis pada gagasan, bukan sekadar kekuatan elektoral,” tegasnya.
Kritik terhadap Sekretariat Partai yang Sepi Diskursus
Lebih jauh, Edi Endi menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi banyak sekretariat partai politik yang dinilainya tidak berfungsi sebagai ruang dialektika sosial dan politik.
Ia menilai, masih banyak kantor partai yang hanya aktif menjelang momentum pemilu, sementara pada hari-hari biasa justru sepi dari diskursus yang menyentuh persoalan rakyat.
“Saya prihatin melihat banyak sekretariat partai yang tidak diisi dengan diskursus gagasan. Padahal partai politik itu harus hadir setiap hari, sekurang-kurangnya melalui diskursus untuk mencermati realitas sosial masyarakat yang hendak dibelanya,” kata Edi Endi.
Harapan Jadi Model Pendidikan Politik
Edi Endi berharap, inisiatif seperti Bengkel Gagasan dapat menjadi model bagi seluruh struktur dan kader Partai NasDem di berbagai daerah di NTT maupun secara nasional.
Menurutnya, sekretariat partai idealnya menjadi pusat pemikiran, pendidikan politik, dan pengabdian nyata kepada rakyat, bukan sekadar bangunan administratif.
“Sekretariat partai harus hidup. Ia harus menjadi rumah gagasan, tempat kader belajar, berpikir kritis, dan merumuskan solusi bagi persoalan rakyat,” pungkasnya. (*)
Penulis : Susilo Hermanus
Editor : Redaksi