
Ngada, Obor Rakyat – Di tengah laju kemajuan zaman yang kian gemerlap, masih ada kisah pilu tentang perjuangan hidup yang luput dari perhatian. Jimi Longa, seorang anak yatim asal Wogo, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus berjibaku sejak usia dini demi mempertahankan hidup bersama ibunda dan adik perempuannya.
Jimi terpaksa putus sekolah saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kondisi ekonomi keluarga yang terpuruk, ditambah sang ibu yang sakit dan hidup dalam keterbatasan, membuatnya harus memilih antara pendidikan atau menyambung hidup. Pilihan pahit itu akhirnya dijalani Jimi demi memastikan keluarganya tetap bisa makan.
Pada 14 Januari 2026, di bawah guyuran hujan di kawasan Mataloko Raya, Kabupaten Ngada, Jimi terlihat berjalan kaki menyusuri rumah-rumah warga. Di tangannya, tergenggam setengah kantong plastik berisi wortel.
Dengan tubuh kuyup dan langkah tertatih, ia mengetuk satu per satu pintu rumah, berharap ada warga yang bersedia menukar wortel tersebut dengan beras untuk makan sehari. Tidak semua rumah bersedia membantu. Namun Jimi tak menyerah. Meski lelah, ia terus melangkah, memikul harapan kecil di tengah derasnya hujan dan kerasnya hidup.
Sejak kecil, Jimi telah kehilangan ayahnya. Ia tumbuh bersama ibu dan neneknya di sebuah kebun di balik Kampung Wisata Wogo. Sejak tak lagi bersekolah, Jimi mengisi hari-harinya dengan berjualan kue dan sayur keliling kampung, berjalan kaki belasan kilometer demi mendapatkan sedikit penghasilan.
Ia rutin melintasi kampung demi kampung, mulai dari Kampung Doka yang berjarak sekitar tiga kilometer, hingga wilayah Malanuza, Kelurahan Todabelu, dan Kelurahan Mataloko. Terik matahari dan hujan lebat bukan halangan bagi Jimi, karena baginya berhenti berarti keluarganya tak bisa makan.
Meski hidup dalam keterbatasan, Jimi menyimpan mimpi sederhana: memiliki selembar ijazah. Ia sempat mencoba mengikuti sekolah persamaan, namun belum tahu kapan bisa menuntaskannya.
“Sekarang yang penting bisa makan hari ini,” ungkap Jimi dengan nada lirih, Minggu (18/1/2026).
Selain ingin kembali bersekolah, Jimi juga bercita-cita bertani dan beternak agar memiliki penghasilan yang lebih layak. Namun keterbatasan modal menjadi penghalang besar. Sang ibu pun menghadapi nasib serupa, ketika ingin mengembangkan usaha kue rumahan namun terhambat biaya dan kondisi kesehatan.
Perjuangan Jimi bukan hanya untuk dirinya sendiri. Ia juga memikirkan masa depan adik perempuannya yang kini duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dengan segala keterbatasan, Jimi berusaha membantu biaya pendidikan sang adik agar tidak mengalami putus sekolah seperti dirinya.
Kisah Jimi Longa menjadi potret nyata kemiskinan struktural yang masih membelenggu sebagian masyarakat di Kabupaten Ngada. Ia tidak meminta belas kasihan, apalagi memaksa. Namun derita yang dialaminya seharusnya mengetuk nurani semua pihak.
Diharapkan pemerintah daerah, lembaga sosial, serta para dermawan dapat memberikan perhatian khusus dan bantuan nyata bagi Jimi dan keluarganya. Sebab, di balik langkah kecilnya yang tertatih, tersimpan perjuangan besar seorang anak yatim yang rela mengorbankan masa depan demi menjaga ibu dan adik tercinta. (*)
Penulis : Dede Dhima
Editor : Redaksi