
Ngada, Obor Rakyat – Bupati Ngada, Raymundus Bena, menegaskan bahwa kematian tragis siswa sekolah dasar berinisial YBS (10) tidak bisa disimpulkan hanya disebabkan oleh ketidakmampuan orang tua membeli buku dan pulpen. Ia menilai anggapan tersebut terlalu menyederhanakan persoalan yang sesungguhnya jauh lebih kompleks.
Menurut Raymundus, berbagai faktor lain seperti kondisi sosial, lingkungan, dan psikologis anak perlu ditelusuri lebih dalam sebelum menarik kesimpulan.
“Saya rasa kesimpulan sementara yang diambil terlalu dini. Kalau saya melihat, masalah ini cukup kompleks. Bukan sekadar soal tidak bisa membeli buku dan pulpen,” ujar Raymundus Bena dikutip dari program Sapa Indonesia Malam Kompas TV, Rabu (4/2/2026).
YBS Dikenal Aktif dan Berprestasi di Sekolah
Raymundus mengungkapkan, berdasarkan keterangan pihak sekolah, YBS dikenal sebagai anak yang periang, aktif, dan memiliki perilaku baik. Bahkan, secara akademik, korban termasuk siswa berprestasi.
“Di sekolah anaknya periang, aktif, baik, dan taat. Prestasi juga bagus. Pada semester satu kelas 4, peringkat lima,” jelasnya.
Fakta tersebut, menurut Raymundus, semakin menguatkan bahwa motif YBS mengakhiri hidup tidak bisa dilihat dari satu faktor tunggal.
Keluarga YBS Tercatat Penerima Bantuan Sosial
Raymundus juga menjelaskan bahwa keluarga YBS memang masuk dalam kategori keluarga tidak mampu dan terdaftar sebagai penerima bantuan sosial. Namun, terdapat kendala administratif karena keluarga tersebut sempat berpindah tempat tinggal ke luar Kabupaten Ngada.
Meski demikian, YBS tetap mendapatkan bantuan pendidikan melalui Program Indonesia Pintar (PIP) dari Pemerintah Kabupaten Ngada, walaupun secara administrasi masih tercatat di wilayah sebelumnya.
Psikolog Anak: Bunuh Diri Anak
Akumulasi Tekanan Emosional
Psikolog anak, Vera, turut menanggapi kasus ini dan menyatakan sependapat dengan Bupati Ngada. Ia menilai bahwa penyebab bunuh diri pada anak tidak pernah berdiri sendiri.
“Bukan sekadar tidak bisa beli buku dan pulpen. Bahkan dari informasi yang saya terima, anak ini sebenarnya punya buku dan pulpen,” ujar Vera.
Menurutnya, keputusan mengakhiri hidup merupakan hasil dari akumulasi tekanan psikologis yang dialami anak dalam jangka waktu lama.
Vera menjelaskan bahwa ide bunuh diri pada anak biasanya muncul karena adanya referensi yang pernah dilihat atau dialami, baik dari media maupun lingkungan sekitar.
Faktor Keluarga dan Perasaan Tidak Dicintai
Lebih lanjut, Vera menyoroti latar belakang kehidupan YBS. Ia merupakan anak terakhir yang tinggal bersama neneknya, bukan dengan ibu kandungnya.
“Letupan emosi atau beban emosi ini bisa memengaruhi keputusan anak. Bukan semata ekonomi, tapi perasaan tidak diinginkan, tidak dicintai, dan tidak diperhatikan,” jelasnya.
Kondisi tersebut, menurut Vera, dapat membuat anak kehilangan makna hidup dan merasa sendirian dalam menghadapi tekanan.
Pentingnya Perlindungan Kesehatan Mental Anak
Kasus YBS menjadi pengingat serius bahwa persoalan kesehatan mental anak perlu mendapat perhatian lebih dari semua pihak, baik keluarga, sekolah, maupun pemerintah. Pendekatan yang sensitif dan menyeluruh dinilai penting agar tragedi serupa tidak kembali terulang. (*)
Penulis: Dede Bhima
Editor: Redaksi