
Jakarta, Obor Rakyat – Kongres X Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI) yang digelar pada 2–5 Februari 2026 di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Hukum, Kementerian Hukum Republik Indonesia, menjadi momentum bersejarah bagi organisasi mahasiswa hukum tertua di Indonesia. Forum tertinggi organisasi ini secara resmi mengakhiri dualisme kepemimpinan dan melahirkan kepemimpinan nasional yang sah dan kolektif.
Kongres X PERMAHI berhasil menyatukan dua poros kepemimpinan sebelumnya, yakni yang dipimpin oleh Saiful Salim dan Fahmi Namakule. Melalui mekanisme konstitusional organisasi, dialog terbuka, dan semangat rekonsiliasi, kedua pihak sepakat melebur dalam satu barisan demi menjaga marwah dan keberlangsungan PERMAHI.
Penyatuan tersebut kemudian melahirkan kepemimpinan baru dengan terpilihnya Azhar Sidiq S sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PERMAHI periode 2026–2028, mengusung tagline besar “PERMAHI Mendunia.”
40 DPC Hadir, Azhar Raih Suara Terbanyak
Dalam Kongres X PERMAHI tercatat sebanyak 53 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) se-Indonesia. Dari jumlah tersebut, 40 DPC hadir dan menggunakan hak suara secara sah, menandakan kuatnya legitimasi forum kongres.
Pemilihan Ketua Umum DPN PERMAHI berlangsung secara demokratis, terbuka, dan konstitusional. Hasil pemungutan suara menunjukkan Azhar Sidiq S (DPC Jambi) memperoleh 24 suara, unggul atas Chairul Anwar (Alken) dari DPC Ambon dengan 16 suara, sementara M. Pati Abdillah dari DPC Jakarta Selatan tidak memperoleh suara.
Dengan perolehan suara mayoritas, Azhar Sidiq S secara sah ditetapkan sebagai Ketua Umum DPN PERMAHI periode 2026–2028.
Akhir Dualisme, Awal Babak Baru PERMAHI
Terpilihnya Azhar menjadi penanda resmi berakhirnya dualisme kepemimpinan yang sempat menghambat konsolidasi organisasi. Kepemimpinan baru ini lahir dari semangat persatuan, kebesaran jiwa, dan komitmen bersama seluruh elemen PERMAHI untuk menatap masa depan yang lebih solid dan inklusif.
Dalam pidato perdananya, Azhar menegaskan bahwa kemenangan tersebut merupakan kemenangan kolektif seluruh kader PERMAHI di Indonesia.
“Kemenangan ini bukan milik satu orang atau satu kelompok, melainkan kemenangan seluruh kader PERMAHI di Indonesia,” ujar Azhar.
Ia juga menegaskan bahwa berakhirnya kongres menandai berakhirnya seluruh perbedaan internal di tubuh organisasi.
“Kongres telah selesai. Perbedaan kita sudahi. Hari ini kita kembali dalam satu barisan, satu identitas: PERMAHI,” tegasnya.
PERMAHI Mendunia: Cabang Jadi Fondasi Utama
Mengusung tagline “PERMAHI Mendunia,” Azhar menyatakan komitmennya untuk memperkuat konsolidasi internal, membenahi tata kelola organisasi, serta menegaskan peran strategis cabang sebagai fondasi utama PERMAHI.
“Saya siap turun langsung ke cabang-cabang, menyapa kader, mendengar persoalan di bawah, dan bergerak bersama. Karena PERMAHI dibangun dari cabang, bukan hanya dari pusat,” jelasnya.
Menurut Azhar, misi utama kepengurusannya adalah menjaga persatuan organisasi sekaligus mendorong PERMAHI agar semakin berdaya saing dan berpengaruh di tingkat nasional hingga internasional.
“Bersama-sama kita perkuat solidaritas dan mendorong PERMAHI naik kelas—kuat di daerah, berpengaruh di nasional, dan siap melangkah ke level internasional. Inilah makna PERMAHI Mendunia,” ujarnya.
Menutup pidatonya, Azhar mengajak seluruh kader PERMAHI untuk bekerja secara kolektif demi kemajuan organisasi.
“Kalau rekan-rekan bekerja keras untuk PERMAHI, saya akan bekerja keras untuk PERMAHI. Mari kita berjalan bersama dan ijtihad PERMAHI Mendunia”, pungkasnya. (*)
Penulis: Muhammad
Editor: Redaksi