
Tegaskan Arah Gerak Spiritual dan Sosial
Jakarta, Obor Rakyat — Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Madura (DPP IKAMA) resmi menutup rangkaian Ziarah Wali Songo dan aksi sosial 2026 dengan menggelar ziarah di makam Syaikhona Kholil di Bangkalan, Madura.
Penutupan ini tidak sekadar seremoni, tetapi menjadi penegasan arah gerak organisasi yang menekankan keseimbangan antara penguatan spiritual dan kontribusi sosial.
Ziarah ke makam ulama kharismatik yang dikenal sebagai guru para ulama Nusantara, termasuk tokoh-tokoh pendiri Nahdlatul Ulama, menjadi simbol penghormatan terhadap warisan keilmuan dan perjuangan dakwah Islam yang membumi.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung selama dua hari tiga malam, sejak Minggu (15/3/2026) hingga Selasa (16/3/2026), mencerminkan perjalanan napak tilas sejarah Islam di Pulau Jawa.
Rombongan DPP IKAMA mengunjungi 13 titik penting yang menjadi pusat penyebaran Islam, mulai dari Jakarta, Cirebon, Demak, Kudus, hingga Jawa Timur.
Sejumlah situs penting yang diziarahi antara lain makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, Sunan Kalijaga di Demak, dan Sunan Ampel di Surabaya.
Selain itu, rombongan juga mengunjungi makam ulama besar seperti Hasyim Asy’ari dan Wahab Hasbullah di Jombang.
Sekretaris Jenderal DPP IKAMA, Hanafi SF, yang memimpin langsung kegiatan bersama Bendahara Umum Ach Arif Efendi, menegaskan bahwa ziarah ini memiliki dimensi strategis yang melampaui tradisi keagamaan.
“Ini bukan sekadar perjalanan religi, tetapi napak tilas perjuangan dakwah. Kita diingatkan bahwa Islam dibangun dengan keteladanan, keikhlasan, dan keberpihakan kepada umat,” ujar Hanafi, Kamis (19/3/2026).
Menurutnya, nilai-nilai yang diwariskan para wali harus terus dihidupkan dalam konteks kekinian, terutama di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks.
Ia menekankan bahwa organisasi keagamaan dituntut tidak hanya aktif dalam simbol, tetapi juga hadir memberikan solusi konkret bagi masyarakat.
“Para wali tidak hanya berdakwah, tetapi juga membangun masyarakat. Itu yang ingin kami hidupkan kembali—organisasi harus hadir, memberi manfaat, dan menjadi solusi,” tambahnya.
Hanafi juga menegaskan bahwa kegiatan tetap berjalan meski Ketua Umum DPP IKAMA, Muhammad Rawi, tengah berada di Tanah Suci.
Hal ini menunjukkan konsistensi organisasi dalam menjalankan program secara kolektif.
“Ini bukti bahwa IKAMA berjalan secara sistem, bukan bergantung pada satu figur. Program tetap berjalan, kepemimpinan kolektif berfungsi,” tegasnya.
Selain ziarah, DPP IKAMA juga mengintegrasikan kegiatan sosial dengan menyalurkan bantuan kepada masyarakat di sejumlah titik yang dikunjungi.
Langkah ini disebut sebagai implementasi nyata nilai keislaman yang tidak hanya berhenti pada doa, tetapi juga aksi.
Penutupan di Bangkalan berlangsung khidmat dengan doa bersama yang menjadi refleksi atas tanggung jawab melanjutkan perjuangan para ulama.
Momentum ini sekaligus mempertegas pesan bahwa ziarah bukan sekadar ritual, melainkan sarana membangun kesadaran kolektif untuk memperkuat dakwah dan memperluas kontribusi sosial.
Dengan berakhirnya rangkaian Ziarah Wali Songo 2026, DPP IKAMA menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan warisan dakwah para ulama dalam bentuk kerja nyata di tengah masyarakat.
“Warisan para wali bukan hanya sejarah, tetapi tanggung jawab yang harus diteruskan,” pungkas Hanafi. (*)
Penulis: Wahyu Widodo
Editor: Redaksi