Tani Merdeka Tancap Gas di Nagekeo, Targetkan Jadi Lumbung Padi NTT

Nagekeo, Obor Rakyat – Gerakan Tani Merdeka mulai menunjukkan langkah konkret di Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Peninjauan pembukaan lahan sawah baru di Desa Waikokak, Kecamatan Aesesa.

Nagekeo, Obor Rakyat – Gerakan Tani Merdeka mulai menunjukkan langkah konkret di Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tidak berhenti pada agenda seremonial, organisasi ini langsung bergerak cepat meninjau pembukaan lahan sawah baru di Desa Waikokak, Kecamatan Aesesa.

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Wakil Ketua Umum (Waketum) Tani Merdeka Indonesia, Wilfridus Yons Ebit, sehari setelah pelantikan pengurus tingkat kecamatan, Minggu (29/3/2026).

Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Tani Merdeka berkomitmen menghadirkan perubahan nyata di sektor pertanian, dengan turun langsung ke lapangan dan memastikan program benar-benar menyentuh kebutuhan petani.

Di lokasi pembukaan lahan, Ebit menegaskan visi besar organisasi tersebut untuk menjadikan Nagekeo sebagai salah satu sentra produksi pangan di wilayah Flores dan NTT.

Baca Juga :  Pelantikan Tani Merdeka di Nagekeo: Dari Seremoni ke Harapan Nyata Penguatan Petani

“Tidak ada lagi alasan. Nagekeo harus kita dorong menjadi lumbung padi untuk Flores dan NTT,” ujar Ebit, Senin (30/3/2026).

Namun demikian, ia menekankan bahwa ambisi tersebut harus dibarengi dengan kesiapan yang matang, termasuk mekanisasi pertanian, ketersediaan alat modern, serta sistem pengelolaan yang berkelanjutan.

“Kalau kita buka lahan tanpa kesiapan alat dan manajemen, itu hanya akan jadi proyek gagal. Kita harus kerja total,” tegasnya.

Dalam pemaparannya, Ebit juga mengungkapkan pengalaman panjangnya mengunjungi berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.

Dari pengalamannya tersebut, ia menyimpulkan bahwa petani merupakan elemen paling krusial dalam pembangunan nasional.

“Saya keliling Indonesia, dan satu yang selalu saya urus adalah petani. Karena di situ letak kekuatan bangsa ini,” ungkapnya.

Menurutnya, penguatan sektor pertanian tidak hanya berkaitan dengan ketahanan pangan, tetapi juga menjadi fondasi stabilitas sosial dan ekonomi nasional.

Harapan dan Tantangan di Daerah

Di tingkat daerah, Ketua DPD Tani Merdeka Kabupaten Nagekeo menaruh harapan besar agar organisasi ini tidak sekadar menjadi simbol, melainkan mampu menghadirkan perubahan nyata bagi petani.

Ia menyoroti sejumlah persoalan klasik yang masih dihadapi petani, seperti keterbatasan alat pertanian, tingginya biaya produksi, serta banyaknya lahan potensial yang belum digarap secara optimal.

“Petani di sini butuh dukungan konkret. Jangan dibiarkan berjalan sendiri di tengah keterbatasan,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Penjabat Sekretaris Daerah Nagekeo, Imanuel Ndun, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam mendorong kemandirian dan kesejahteraan petani.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi adalah kunci agar masyarakat bisa benar-benar mandiri dan sejahtera,” katanya.

Dengan potensi lahan yang luas dan semangat kolaborasi yang mulai terbangun, Nagekeo dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat produksi pangan di NTT.

Namun demikian, tantangan utama kini terletak pada implementasi di lapangan.

Apakah gerakan ini mampu menjawab harapan petani, atau justru akan bernasib sama seperti program sebelumnya yang berhenti di wacana, waktu yang akan membuktikan.

Jika berhasil, Nagekeo tidak hanya akan menjadi lumbung padi, tetapi juga simbol kebangkitan petani di Nusa Tenggara Timur. (*)


Penulis: Dede Dhima
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *