Sosialisasi Toleransi di Banyuwangi: Upaya Merawat Keberagaman di Tengah Arus Informasi Digital

Banyuwangi, Obor Rakyat — Upaya merawat nilai toleransi dan keberagaman terus digaungkan di tengah dinamika sosial yang kian kompleks.
Kegiatan sosialisasi oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Martin H, S.H., M.H., di kawasan Genteng, Banyuwangi.

Banyuwangi, Obor Rakyat — Upaya merawat nilai toleransi dan keberagaman terus digaungkan di tengah dinamika sosial yang kian kompleks.

Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi PDIP, Martin H, menggelar kegiatan sosialisasi bertema “Merawat Toleransi dan Menghargai Keberagaman” di kawasan Genteng, Banyuwangi, Rabu (8/4/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Cafe Lumaris Sego Sambel ini dihadiri puluhan peserta dari berbagai latar belakang.

Antusiasme terlihat dari peserta yang memadati kursi yang telah disediakan sejak awal acara dimulai.
Dalam forum tersebut, sejumlah narasumber dihadirkan, di antaranya Fajar Isnaini, Risqon, serta tokoh pemuda Banyuwangi, Gus Ilham.

Dalam pemaparannya, Gus Ilham menekankan bahwa Indonesia memiliki kekayaan keberagaman yang luar biasa, mulai dari suku, agama, ras hingga budaya.

Baca Juga :  KPK Datangi Pendopo Pamekasan, Pertemuan Tertutup Tanpa Penjelasan Resmi

Namun, menurutnya, tantangan dalam menjaga toleransi semakin kompleks seiring perkembangan zaman.

“Perbedaan adalah kekayaan yang tak ternilai. Namun, memahami dan merawat perbedaan itu menjadi kunci menjaga kerukunan dalam bingkai kebangsaan,” ujarnya.

Senada dengan itu, Fajar Isnaini menegaskan bahwa toleransi tidak lagi sekadar nilai moral, melainkan kebutuhan sosial di era modern. Ia mengingatkan bahwa perbedaan seharusnya tidak menjadi sumber konflik, tetapi justru dirajut menjadi kekuatan bersama.

“Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling menguatkan,” ungkapnya.

Sementara itu, Risqon menambahkan bahwa toleransi merupakan fondasi utama dalam menjaga persatuan. Ia menilai keberagaman harus dipandang sebagai peluang untuk saling melengkapi, bukan memecah belah.

Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Gus Abdul Muiz, menandai berakhirnya rangkaian kegiatan yang sarat pesan kebangsaan tersebut.

Di sisi lain, perwakilan Martin, Dayu Langkung Prayogi, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menyikapi derasnya arus informasi di era digital.

Menurutnya, perkembangan teknologi yang pesat kerap diiringi dengan penyebaran informasi yang tidak akurat, sehingga masyarakat dituntut lebih cerdas dalam memilah informasi, terutama yang berkaitan dengan isu persatuan dan kesatuan.

“Kami berharap masyarakat semakin bijak dalam menerima informasi, serta menjadikan toleransi sebagai landasan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus digitalisasi, nilai-nilai toleransi tetap relevan dan harus terus dirawat.

Tidak hanya sebagai wacana, tetapi sebagai praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari demi menjaga keutuhan bangsa. (*)


Penulis: Kyasinto
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *