Banjir Berulang di Lengkosambi Barat Daya, DPRD Soroti Lambannya Respons Pemerintah

Ngada, Obor Rakyat – Banjir kembali merendam rumah warga di Desa Lengkosambi Barat Daya, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, pada Minggu (2/2/2026).
Kondisi Rumah Sovia Sear, setelah terendam Hujan.

Ngada, Obor Rakyat – Banjir kembali merendam rumah warga di Desa Lengkosambi Barat Daya, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, pada Minggu (2/2/2026).

Peristiwa ini menambah daftar panjang bencana banjir yang terus berulang setiap tahun tanpa penanganan konkret dari pemerintah.

Banjir tersebut bukan kejadian insidental. Warga setempat menyebut genangan air selalu terjadi saat curah hujan meningkat dan telah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun hingga kini, solusi permanen dinilai belum pernah direalisasikan.

Salah satu warga, Awy Senio, mengungkapkan bahwa laporan terkait banjir sudah berulang kali disampaikan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun pemerintah daerah. Bahkan, pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten disebut telah beberapa kali melakukan survei lapangan.

“Setiap banjir, kami lapor. Survei sudah sering, peninjauan juga sudah. Tapi sampai sekarang belum ada penanganan nyata yang bisa menghentikan banjir ini,” ujar Awy.

Kondisi tersebut mendapat sorotan tajam dari Anggota DPRD Riung Raya, Alexander Yohanes Songkares, Fraksi Golkar.

Baca Juga :  Kapolres Bondowoso Berikan Penghargaan kepada 18 Anggota Berprestasi
Anggota DPRD Ngada, Daerah Pemilihan Riung Raya, Alexander Yohanes Songkares – Fraksi Golkar.

Ia menilai pemerintah belum menunjukkan kehadiran yang nyata dalam menyelesaikan persoalan banjir yang terus menghantui masyarakat.

“Pemerintah harus sigap, buka mata dan buka hati. Ini bukan bencana baru, tapi sudah bertahun-tahun terjadi dan terus kami sampaikan,” tegas Alexander.

Menurutnya, lambannya penanganan tidak boleh lagi diselimuti alasan kewenangan antarinstansi maupun perbedaan level pemerintahan. Ia menekankan bahwa keselamatan dan kenyamanan masyarakat harus menjadi prioritas utama.

“Tidak boleh ada alasan ini kewenangan provinsi, ini kabupaten, atau pusat. Prinsipnya satu: masyarakat Ngada harus merasakan kehadiran negara yang cepat dan solutif,” katanya.

Alexander juga menyayangkan bahwa berbagai aspirasi dan keluhan masyarakat sejauh ini belum berbuah pada kebijakan atau tindakan yang berdampak langsung.

“Kami sudah konsisten menyuarakan ini. Harapan kami, ini menjadi penyampaian terakhir karena masyarakat butuh solusi, bukan sekadar survei berulang,” tambahnya.

Baca Juga :  Whip Pink Viral di Medsos, BPOM Ungkap Bahaya Nitrous Oxide yang Picu Euforia hingga Risiko Kematian

Masyarakat Desa Lengkosambi Barat Daya berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata dan berkelanjutan, mulai dari penanganan teknis aliran air, pembangunan infrastruktur pengendali banjir, hingga kebijakan lintas sektor yang terkoordinasi. Tanpa langkah konkret, banjir dikhawatirkan akan terus menjadi ancaman tahunan bagi warga. (*)

Penulis: Dede Bhima
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *