
Dukung Ketahanan Pangan
Jember, Obor Rakyat – Sinergi antara dunia akademik dan kebutuhan industri kembali melahirkan inovasi nyata. Tim kolaborasi mahasiswa Teknik Mesin dan Teknik Pertambangan Universitas Jember (UNEJ) berhasil menciptakan Mesin Granulator Pupuk Organik berbasis limbah batu gamping, sebuah teknologi tepat guna yang menjawab persoalan lingkungan sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
Mesin inovatif ini dirancang untuk mengolah limbah batu gamping yang selama ini kurang bernilai ekonomis menjadi pupuk organik berkualitas dengan harga terjangkau bagi petani.
Dirancang Tiga Bulan, Gabungkan Mixer dan Granulator
Mahasiswa Teknik Mesin UNEJ, Iwan Ahmad, yang terlibat langsung dalam proses perancangan dan pembuatan mesin, menjelaskan bahwa pengembangan alat ini memakan waktu sekitar tiga bulan.
“Satu bulan untuk tahap persiapan dan desain, kemudian dua bulan berikutnya fokus pada proses fabrikasi di Laboratorium Manufaktur Teknik Mesin,” ujar Iwan, didampingi Koordinator Program Studi S2 Teknik Mesin UNEJ, Prof. Mahros Darsin, Senin (2/2/2026).
Mesin granulator ini menggunakan komponen utama berupa plat besi dan pipa galvanis tahan karat pada bagian roller. Untuk penggeraknya, tim memanfaatkan motor listrik berdaya 1.500 watt yang dipadukan dengan speed reducer tipe WPA rasio 1:50, sehingga mampu menghasilkan torsi tinggi dan stabil.
Keunggulan utama mesin ini terletak pada desainnya yang mengintegrasikan fungsi pengaduk (mixer) dan granulator dalam satu sistem.
“Ini desain baru di Indonesia. Kami merancang dari nol tanpa mengacu pada cetak biru perusahaan mana pun, karena ingin menyesuaikan dengan karakter bahan baku lokal,” tambah Iwan.
Berangkat dari Limbah Tambang Batu Gamping
Ketua Tim Peneliti sekaligus akademisi Teknik Pertambangan UNEJ, Rina Lestari, mengungkapkan bahwa riset ini berawal dari keprihatinan terhadap menumpuknya limbah batu gamping di salah satu perusahaan tambang di Desa Grenden, Kecamatan Puger, Jember.
“Limbah batu gamping ini harganya sangat murah, sekitar Rp100 per kilogram, bahkan sering tidak laku. Melalui dana hibah inovasi industri dari LP2M, kami mencoba menaikkan nilai ekonominya dengan mengolahnya menjadi pupuk,” jelas Rina.
Untuk memenuhi standar pupuk organik berkualitas, batu gamping yang bersifat anorganik dicampur dengan bahan organik lainnya. Komposisi pupuk meliputi batu gamping sebagai bahan dasar, fosfat untuk meningkatkan unsur hara, kotoran sapi yang telah difermentasi, serta tetes tebu sebagai pengikat dan sumber nutrisi tambahan.
Dukung Swasembada Pangan dan Buka Lapangan Kerja
Rina menegaskan bahwa inovasi ini sejalan dengan program pemerintah dalam mendorong swasembada pangan.
“Tanaman yang subur membutuhkan pupuk yang baik. Harapan kami, riset ini berkembang hingga memperoleh izin edar, sehingga bisa diproduksi massal oleh perusahaan, membuka lapangan kerja, dan memberikan pupuk murah bagi petani,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan menciptakan mesin granulator ini bukan sekadar pencapaian teknis, melainkan juga membawa misi sosial. Penerapan teknologi tepat guna (TTG) dinilai mampu mendorong pertumbuhan UMKM dan perusahaan rintisan berbasis inovasi lokal.
“Jika biaya produksi ditekan, petani langsung merasakan manfaatnya. Perusahaan bisa tumbuh dan menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar,” tambah Rina.
Dorong Peran Pemda dan Pengembangan Teknologi Tepat Guna
Lebih lanjut, Rina juga mendorong Pemerintah Kabupaten Jember untuk lebih aktif mendukung kreativitas masyarakat melalui penyelenggaraan lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) secara rutin, melibatkan desa, kecamatan, perguruan tinggi, hingga masyarakat umum.
Ia berharap teknologi tepat guna dapat menjadi solusi konkret dalam menekan angka pengangguran, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan ekonomi kerakyatan di Jember.
Selain itu, pemerintah daerah juga diharapkan memberikan pelatihan dan pembinaan kepada kelompok rentan seperti anak jalanan dan warga binaan lapas agar mampu terlibat dalam pengembangan inovasi dan kewirausahaan berbasis teknologi.
“Jika lahir banyak pengusaha baru, dampaknya bukan hanya ekonomi, tetapi juga berpotensi menurunkan angka kriminalitas di Kabupaten Jember,” pungkasnya. (*)
Penulis: Maria Agustina
Editor: Redaksi