
Kupang, Obor Rakyat – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, mengecam keras Pemerintah Kabupaten Ngada menyusul kabar meninggalnya seorang siswa sekolah dasar yang diduga bunuh diri akibat persoalan ekonomi terkait buku dan bolpoin. Peristiwa tersebut dinilai sebagai kegagalan serius negara dan pemerintah daerah dalam melindungi warganya, khususnya anak-anak.
Kecaman itu disampaikan Gubernur Melki saat memberikan sambutan pada acara launching dan peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang, Rabu (4/2/2026).
“Tadi malam saya cek terakhir, belum ada perwakilan Pemda Ngada yang turun ke rumah duka. Ini gila namanya. Dalam situasi seperti ini, kita gagal sebagai pemerintah,” tegas Melki di hadapan peserta acara.
Ia mengaku sangat terpukul dan merasa malu sebagai kepala daerah atas tragedi tersebut. Menurutnya, kematian seorang anak akibat persoalan mendasar seperti alat tulis sekolah merupakan tamparan keras bagi sistem pemerintahan dan perlindungan sosial di NTT.
“Malu saya sebagai gubernur. Masa ada warga negara yang mati karena hal seperti ini. Kalau ini terjadi, berarti kita gagal mengurus warga kita sendiri,” ujarnya dengan nada keras.
Gubernur Melki menegaskan bahwa peristiwa ini tidak boleh dipandang sebagai masalah sepele. Ia menyebut kematian korban sebagai dampak langsung dari kemiskinan yang tidak tertangani secara serius oleh negara dan pemerintah daerah.
“Di saat kita duduk dengan nyaman, ada seorang warga Indonesia asal NTT, khususnya di Kabupaten Ngada, yang mati karena dia miskin,” katanya.
Untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, Melki mengaku telah berupaya menghubungi langsung pimpinan daerah setempat. Namun, respons yang diterima dinilainya sangat lambat.
“Saya kirim pesan WhatsApp ke pimpinan daerahnya, tapi lama sekali responnya. Karena itu saya perintahkan orang saya untuk turun langsung mengecek ke lapangan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Gubernur Melki menilai tragedi ini sebagai kegagalan kolektif, bukan hanya pemerintah, tetapi juga seluruh pranata sosial yang seharusnya hadir melindungi masyarakat.
“Pranata agama gagal, pranata sosial gagal, pemerintahan juga gagal, sampai orang bisa mati karena miskin seperti ini,” tegasnya.
Ia menekankan agar kejadian serupa tidak boleh terulang kembali di seluruh wilayah NTT. Melki meminta seluruh kepala daerah agar lebih peka, responsif, dan benar-benar hadir di tengah masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan keluarga miskin.
“Kejadian seperti di Ngada ini harus menjadi yang pertama dan terakhir,” pungkas Gubernur Melki. (*)
Penulis: Dede Bhima
Editor: Redaksi