Hidup Sebatang Kara, Siswi SMP di Manggarai Tetap Gigih Sekolah Meski 4 Km Berjalan Kaki Setiap Hari

Manggarai, Obor Rakyat – Perjuangan hidup harus dijalani Marselina Cainai Rametawa, siswi kelas VII di SMP Negeri 1 Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Remaja yang tinggal seorang diri di Pongara, Kelurahan Pitak, Kecamatan Langke Rembong ini menjadi yatim piatu sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Marselina Cainai Rametawa, siswi kelas VII di SMP Negeri 1 Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, NTT, saat dikunjungi oleh perwakilan PSI bersama Junaidin di kediamannya.

Manggarai, Obor Rakyat – Perjuangan hidup harus dijalani Marselina Cainai Rametawa, siswi kelas VII di SMP Negeri 1 Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Remaja yang tinggal seorang diri di Pongara, Kelurahan Pitak, Kecamatan Langke Rembong ini menjadi yatim piatu sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Marselina kehilangan ayahnya pada 2023 saat masih kelas V SD. Setahun kemudian, pada 2024, ibunya menyusul berpulang. Sejak itu, anak tunggal tersebut harus bertahan hidup sendiri di rumah peninggalan orang tuanya di Kabupaten Manggarai.

Hidup Mandiri di Usia Belia

Di usia yang masih sangat muda, Marselina menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi. Untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum sehari-hari, ia kerap mengalami kesulitan. Hingga kini, ia juga belum pernah menerima bantuan pendidikan seperti Program Indonesia Pintar (PIP) maupun bantuan sosial lainnya.

Meski hidup dalam kondisi serba terbatas, semangatnya untuk menempuh pendidikan tidak pernah surut. Demi memenuhi persyaratan sistem zonasi sekolah negeri, Marselina bahkan harus menumpang Kartu Keluarga (KK) milik tetangganya agar dapat diterima di sekolah.

Setiap hari, ia berjalan kaki sejauh kurang lebih empat kilometer menuju sekolah. Jarak yang cukup jauh tersebut tidak menyurutkan tekadnya untuk terus belajar dan menggapai cita-cita.

Baca Juga :  Bareskrim Ungkap Produksi Oli Palsu Sehari Capai 312 Ribu Botol

Dukungan Terbatas dari Keluarga dan Tetangga

Walau tinggal sendiri, Marselina masih mendapat pendampingan dari sang oma dari pihak ibu yang sesekali datang menemaninya. Namun, kondisi opa yang menderita stroke serta faktor usia membuat sang oma tidak bisa setiap hari berada di samping cucunya.

Dalam keseharian, peran tetangga dan keluarga sekitar menjadi penopang utama. Mereka membantu sebisanya, baik dalam bentuk perhatian, makanan, maupun kebutuhan dasar lainnya.

Bantuan PSI Beri Harapan Baru

Di tengah perjuangannya, Marselina mendapat perhatian dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Pada 21 Februari 2026, perwakilan PSI bersama Junaidin mengunjungi langsung kediamannya di Pongara dan menyerahkan bantuan.

Kunjungan tersebut menjadi momen yang sangat berarti bagi Marselina. Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, ini merupakan kali pertama ia menerima kunjungan dan bantuan secara langsung dari pihak luar.

“Saya sangat senang dan bangga. Terima kasih kepada PSI dan Pak Junaidin yang sudah datang melihat kondisi saya,” ungkap Marselina dengan haru.

Junaidin menyampaikan bahwa dirinya bersama PSI siap memberikan dukungan lanjutan, khususnya untuk memastikan pendidikan dan kebutuhan dasar Marselina tetap terpenuhi.

Potret Anak Bangsa yang Membutuhkan Perhatian

Baca Juga :  Responsif, Kanitreskrim Polsek Sukomanunggal Datangi Lokasi Kebakaran

Kisah Marselina menjadi potret nyata masih adanya anak-anak di pelosok daerah yang berjuang dalam keterbatasan ekonomi dan sosial demi mempertahankan hak atas pendidikan.

Akses terhadap bantuan pendidikan dan perlindungan sosial dinilai perlu lebih merata agar tidak ada anak yang terpaksa menghadapi beban hidup sendirian.

Perjuangan Marselina Cainai Rametawa bukan sekadar tentang bertahan hidup, tetapi juga tentang menjaga harapan di tengah kesendirian. Semangatnya menjadi pengingat pentingnya gotong royong dan kepedulian sosial untuk memastikan setiap anak Indonesia memperoleh kesempatan yang sama dalam meraih pendidikan dan masa depan yang lebih baik. (*)

Penulis: Susilo Hermanus
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *