
Jakarta, Obor Rakyat – Di balik tajamnya pena dan bidikan lensa kamera yang merekam setiap peristiwa, tersimpan perjuangan panjang seorang wartawan yang jarang diketahui publik. Mereka bekerja tanpa mengenal waktu, menerjang cuaca ekstrem, bahkan bertaruh keselamatan di wilayah konflik demi menghadirkan informasi yang akurat, objektif, dan berimbang kepada masyarakat.
Wartawan hadir ketika rakyat membutuhkan suara. Mereka berdiri di garis depan saat ketidakadilan terjadi, bertindak sebagai jembatan informasi antara pemerintah dan masyarakat agar kebenaran tidak tenggelam oleh arus disinformasi.
Namun ironisnya, di tengah pengabdian yang masif tersebut, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak wartawan yang harus berdarah-darah untuk mendapatkan hak-hak normatifnya sendiri.
Ironi “Dibutuhkan Saat Butuh, Ditinggalkan Saat Menuntut Hak”
Tidak sedikit insan pers yang bekerja siang dan malam—mengorbankan waktu bersama keluarga, tenaga, hingga pikiran—namun harus berhadapan dengan tembok ketidakpedulian saat memperjuangkan hak ekonomi maupun perlindungan kerja yang layak.
Fenomena sosial yang terjadi saat ini memperlihatkan sebuah standar ganda. Banyak pihak, mulai dari instansi korporasi hingga pejabat publik, berbondong-bondong mendekati wartawan saat membutuhkan publikasi, klarifikasi, atau pendongkrakan citra positif.
”Wartawan bukan pengemis. Wartawan adalah salah satu pilar demokrasi yang memiliki peran vital dalam menjaga keterbukaan informasi dan mengawal kepentingan publik.”
Sebaliknya, ketika wartawan mulai mempertanyakan hak, kesejahteraan, atau penghargaan atas kerja profesional mereka, tidak jarang pihak-pihak tersebut mendadak amnesia, menghindar, dan menutup mata.
Pilar Keempat Demokrasi yang Menjaga Bangsa
Padahal, peran profesi wartawan sangat krusial dalam roda pembangunan bangsa. Melalui produk jurnalistik yang sehat:
- Program dan kebijakan pemerintah dapat tersosialisasi dengan baik ke masyarakat.
- Prestasi anak bangsa dan potensi daerah dapat dikenal luas di kancah nasional maupun internasional.
- Fungsi kontrol sosial berjalan seimbang, sehingga suara rakyat kecil dapat sampai ke telinga para pemangku kebijakan (stakeholders).
Menagih Komitmen Bersama untuk Insan Pers
Sudah saatnya seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan memberikan penghormatan serta penghargaan yang layak kepada insan pers.
Hubungan antara media dan mitra kerja harus melepaskan pola transaksional yang timpang. Jangan hanya merangkul wartawan saat ingin diberitakan, tetapi mencampakkan mereka ketika mereka menuntut apa yang menjadi kewajiban untuk dipenuhi.
Sebab pada akhirnya, suara wartawan adalah representasi dari suara rakyat. Pengabdian mereka yang tanpa batas untuk negeri ini merupakan pilar utama dalam menjaga demokrasi, keadilan, dan keterbukaan informasi di Indonesia.
Hidup Wartawan! Hidup Pers Indonesia!. (*)
Penulis: Achmad Sugiyanto
Editor: Redaksi