Opini  

Merusak Pohon Kopi Bukan Perjuangan, Itu Membunuh Masa Depan

Perusakan pohon kopi yang belakangan terjadi di sejumlah sentra perkebunan bukan sekadar tindakan vandalisme atau luapan emosi sesaat. Lebih dari itu, tindakan tersebut adalah bentuk pengingkaran terhadap masa depan ekonomi, lingkungan, dan keberlanjutan hidup masyarakat sendiri.
Merusak Pohon Kopi Bukan Perjuangan, Itu Membunuh Masa Depan

Perusakan pohon kopi yang belakangan terjadi di sejumlah sentra perkebunan bukan sekadar tindakan vandalisme atau luapan emosi sesaat. Lebih dari itu, tindakan tersebut adalah bentuk pengingkaran terhadap masa depan ekonomi, lingkungan, dan keberlanjutan hidup masyarakat sendiri.

Merusak pohon kopi bukanlah perjuangan, itu adalah langkah mundur yang merugikan semua pihak.
Kopi bukan tanaman biasa. Di banyak daerah Indonesia, kopi adalah tulang punggung ekonomi rakyat, sumber penghidupan petani kecil, sekaligus komoditas strategis yang mengharumkan nama bangsa di pasar global.

Ketika pohon kopi dirusak, yang hancur bukan hanya batang dan daun, tetapi juga harapan, kerja keras bertahun-tahun, serta keberlanjutan generasi berikutnya.

Perjuangan Tidak Pernah Lahir dari Perusakan

Dalam sejarah perubahan sosial, perjuangan selalu berangkat dari gagasan, dialog, dan solusi bukan dari penghancuran sumber kehidupan. Tindakan merusak kebun kopi, dengan dalih apa pun, justru melemahkan posisi masyarakat sendiri. Petani kehilangan hasil panen, pekerja kehilangan mata pencaharian, dan daerah kehilangan potensi ekonomi jangka panjang.

Baca Juga :  Mitos Atau Fakta Robohnya Punden Manukan Wetan, Ludruk Tulen Diganti Ludruk Milenial

Lebih ironis lagi, pohon kopi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh produktif. Satu aksi perusakan dapat menghapus investasi waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Ini bukan perlawanan, melainkan sabotase terhadap masa depan bersama.

Dampak Lingkungan yang Tidak Bisa Diabaikan

Pohon kopi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Sistem perkebunan kopi yang baik membantu mencegah erosi, menjaga kesuburan tanah, dan menopang keanekaragaman hayati.

Ketika pohon-pohon ini dirusak, risiko kerusakan lingkungan meningkat: longsor, degradasi tanah, dan hilangnya ekosistem lokal menjadi ancaman nyata.
Di tengah krisis iklim global, tindakan yang mempercepat kerusakan lingkungan adalah langkah yang bertolak belakang dengan kepentingan publik.
Kritik Harus Berujung Solusi, Bukan Kerusakan

Jika ada persoalan struktural, baik terkait kebijakan, kepemilikan lahan, atau tata niaga kopi, maka jalannya adalah advokasi, dialog, dan penegakan hukum. Merusak pohon kopi hanya akan memperlemah pesan kritik itu sendiri dan mengalihkan fokus dari substansi masalah ke tindakan destruktif.
Negara, aparat, dan pemangku kepentingan harus hadir memastikan konflik diselesaikan secara adil. Namun masyarakat juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga sumber kehidupan bersama.

Baca Juga :  RDP DPRD atau Drama Penyelamatan Diri?

Menjaga Kopi, Menjaga Masa Depan

Kopi Indonesia adalah warisan sekaligus modal masa depan. Merawatnya berarti menjaga ekonomi rakyat, kelestarian lingkungan, dan martabat bangsa. Sebaliknya, merusaknya adalah tindakan yang mengorbankan hari esok demi amarah hari ini.

Perjuangan sejati tidak pernah lahir dari penghancuran. Ia tumbuh dari keberanian berpikir jernih, bertindak bijak, dan menjaga apa yang seharusnya dilindungi. Merusak pohon kopi bukan perjuangan, itu adalah membunuh masa depan. (*)

Penulis: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *