Akselerasi Ekonomi Santri 2026: Mengukuhkan Resiliensi UMKM dan Ekologi Hijau

Bondowoso, Obor Rakyat — Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Kabupaten Bondowoso secara resmi membuka perhelatan Gebyar Ekonomi Santri (GES) 2026 di kawasan Alun-Alun Raden Bagus Asra (RBA) Ki Ronggo, Rabu (28/10/2026).
LPNU Kabupaten Bondowoso secara resmi membuka perhelatan Gebyar Ekonomi Santri (GES) 2026. (Fot Ist)

Bondowoso, Obor Rakyat — Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Kabupaten Bondowoso secara resmi membuka perhelatan Gebyar Ekonomi Santri (GES) 2026 di kawasan Alun-Alun Raden Bagus Asra (RBA) Ki Ronggo, Rabu (28/10/2026).

Perdana digelar dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional, agenda ini diproyeksikan sebagai instrumen strategis untuk mengakselerasi kemandirian ekonomi berbasis komunitas pesantren, memperkuat resiliensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta mensolidkan jejaring kelembagaan di lingkup Nahdlatul Ulama.

​Rangkaian agenda yang dijadwalkan berlangsung hingga 4 November 2026 tersebut memadukan orientasi akselerasi pertumbuhan ekonomi kerakyatan dengan komitmen ekologis melalui pengusungan tema “Gerakan Ekonomi Santri (GES) 2026 yang Bebas Sampah”.

Convergence Pelayanan Publik dan Inkubasi Ekosistem UMKM

​Ketua Panitia Pelaksana GES 2026, Muhasyim, menegaskan bahwa agenda ini dihadirkan sebagai representasi nyata komitmen LPNU dalam merespons dinamika perekonomian daerah. Event ini dirancang menjadi wahana inkubasi, promosi, sekaligus fasilitasi aksesibilitas bagi para pelaku usaha lokal.

​”Ini merupakan gerakan perintis yang diinisiasi oleh jajaran pengurus LPNU. Kami berkomitmen mengawal amanah kelembagaan ini secara terukur guna memastikan seluruh muatan program, khususnya dalam mendongkrak kesejahteraan ekonomi masyarakat, santri, dan pelaku UMKM dapat terealisasi secara inklusif dan berkelanjutan,” papar Muhasyim.

​Guna menghadirkan tata kelola kegiatan yang sistematis, panitia mengonstruksi kawasan acara ke dalam beberapa zonasi fungsional, salah satunya Zona Pelayanan Publik.

Baca Juga :  Perdana Digelar di Bondowoso, Gebyar Ekonomi Santri 2026 Dorong UMKM dan Ekonomi Pesantren

Struktur zonasi ini mengintegrasikan korelasi lintas sektor antara birokrasi pemerintah daerah dan institusi keagamaan:

  • Sinergitas Organisasi Perangkat Daerah (OPD): Keterlibatan kolaboratif Dinas Kesehatan, Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag), serta Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) dalam memformulasikan penyediaan layanan administratif serta asistensi kewirausahaan secara langsung di lokasi.
  • ​Integrasi Struktur Kelembagaan NU: Kehadiran 18 lembaga serta badan otonom di bawah naungan PCNU Bondowoso seperti Fatayat, GP Ansor, dan Banser—yang membuka ruang konsultasi publik, mencakup fasilitasi Sertifikasi Halal Gratis hingga pendampingan hukum oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH).

​Eko-Efisiensi dan Manifestasi Ekonomi Hijau

​Selain berfokus pada penguatan kapasitas finansial warga, GES 2026 menempatkan prinsip keberlanjutan lingkungan sebagai arus utama penyelenggaraan. Implemetasi konsep zero waste (bebas sampah) di sepanjang pelaksanaan acara ditargetkan mampu menjadi benchmark (tolok ukur) baru bagi tata kelola perhelatan publik yang berwawasan lingkungan di Kabupaten Bondowoso.

​Melalui sintesis antara penguatan daya saing UMKM, integrasi layanan lintas instansi, dan edukasi ekologis, perhelatan ini diharapkan mampu memperkokoh posisi santri serta warga Nahdhiyin sebagai pilar utama transformasi sosio-ekonomi daerah yang responsif, adaptif, dan berkelanjutan. (*)


Penulis: Syayudi
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *