IKAMA Luncurkan SAKERA IKAMA, Pendekatan Budaya untuk Penguatan Keamanan yang Humanis

Jakarta, Obor Rakyat – Di tengah dinamika sosial yang masih diwarnai stereotip terhadap kelompok tertentu, Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) menghadirkan pendekatan baru dalam menjaga keamanan organisasi.
Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) meluncurkan program penguatan pertahanan dan keamanan bertajuk SAKERA IKAMA (Sajian Kesenian Madura).

Jakarta, Obor Rakyat – Di tengah dinamika sosial yang masih diwarnai stereotip terhadap kelompok tertentu, Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) menghadirkan pendekatan baru dalam menjaga keamanan organisasi.

Pada Minggu (22/2/2026) lalu, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IKAMA resmi meluncurkan program penguatan pertahanan dan keamanan bertajuk SAKERA IKAMA (Sajian Kesenian Madura) dengan menjadikan budaya sebagai fondasi utama dalam membangun rasa aman yang humanis.

Program ini digagas langsung oleh Ketua Umum DPP IKAMA, H. Muhammad Rawi, sebagai langkah strategis untuk menampilkan wajah masyarakat Madura yang santun, beretika, serta sarat nilai kearifan lokal.

Menurutnya, SAKERA IKAMA bukan sekadar simbol organisasi, melainkan upaya konkret menggeser cara pandang publik terhadap identitas Madura yang selama ini kerap disalahpahami.

“Budaya adalah kekuatan kita. Melalui pendekatan budaya, kita ingin menunjukkan bahwa masyarakat Madura menjunjung tinggi etika, penghormatan, dan kebersamaan,” ujarnya.

Budaya sebagai Sistem Pengamanan Humanis

Peluncuran SAKERA IKAMA menegaskan bahwa budaya Madura tidak dapat direduksi pada stigma kekerasan. Program ini mengangkat nilai luhur seperti penghormatan terhadap tamu melalui sajian kuliner khas serta ekspresi seni tradisional Madura sebagai medium komunikasi sosial.

Baca Juga :  Polresta Banyuwangi Siagakan Ratusan Personel Gabungan, Amankan Rekapitulasi Hitung Suara Pilkada 2024

Sekretaris Jenderal DPP IKAMA, Hanafi Sf, menjelaskan bahwa setiap simbol dan sajian dalam SAKERA IKAMA mengandung pesan moral tentang kebersamaan dan kedamaian.

“Setiap gerakan dan simbol yang ditampilkan membawa pesan tentang penghormatan dan harmoni. Ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi representasi nilai,” kata Hanafi, Selasa (3/3/2026).

Dalam implementasinya, DPP IKAMA menginstruksikan seluruh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), termasuk jaringan internasional, untuk mengadopsi SAKERA IKAMA sebagai identitas kultural sekaligus bagian dari sistem pengamanan organisasi. Namun, pendekatan yang diterapkan jauh dari kesan represif karena mengedepankan dialog, pendekatan persuasif, dan kearifan lokal.

Filosofi Merah Putih dan Komitmen Toleransi

Simbol SAKERA IKAMA mengusung warna merah dan putih. Merah melambangkan keteguhan prinsip, sementara putih mencerminkan kelembutan sikap. Filosofi ini menjadi penanda keseimbangan antara keberanian dan kebijaksanaan, dua nilai utama yang ingin ditanamkan kepada seluruh anggota IKAMA.

Baca Juga :  Sengketa Lahan, Gerbang SDN Pecoro 2 Jember Disegel Ahli Waris

Program pertahanan dan keamanan (Prohtam) ini juga menjadi bagian dari komitmen IKAMA dalam merawat toleransi antarumat beragama. Dengan memadukan nilai kebangsaan dan kearifan lokal, SAKERA IKAMA diharapkan menjadi jembatan yang mempererat persatuan di tengah keberagaman Indonesia.

Melalui langkah ini, IKAMA tidak hanya memperkuat organisasi dari sisi internal, tetapi juga menegaskan perannya sebagai penjaga harmoni sosial. Pendekatan berbasis budaya ini diharapkan menjadi model keamanan organisasi yang adaptif, inklusif, dan menenangkan di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks. (*)


Penulis: Wahyu Widodo
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *