Jembatan Darurat Rp75 Juta di Bondowoso Rusak Sebelum Difungsikan

Bondowoso, Obor Rakyat — Upaya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso membangun jembatan darurat sebagai solusi sementara pasca ambruknya Jembatan Sentong di Kelurahan Nangkaan justru menuai sorotan. Infrastruktur alternatif yang belum sempat diresmikan itu mengalami kerusakan akibat terjangan arus sungai dengan debit tinggi.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo saat diwawancarai.

Bukti Perencanaan Belum Adaptif terhadap Cuaca

Bondowoso, Obor Rakyat — Upaya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso membangun jembatan darurat sebagai solusi sementara pasca ambruknya Jembatan Sentong di Kelurahan Nangkaan justru menuai sorotan. Infrastruktur alternatif yang belum sempat diresmikan itu mengalami kerusakan akibat terjangan arus sungai dengan debit tinggi.

Jembatan darurat yang dibangun menggunakan material kayu tersebut menelan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp75 juta. Awalnya, jembatan ini disiapkan sebagai akses khusus pejalan kaki untuk mengurangi dampak terputusnya jalur utama warga.

Namun realitas di lapangan berkata lain. Sebelum sempat dimanfaatkan secara optimal, struktur jembatan sudah mengalami pergeseran. Material kiriman berupa kayu, bambu, ranting, hingga batu yang terbawa arus sungai menghantam bagian bawah konstruksi dan menyebabkan kerusakan.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, mengakui adanya kekurangan dalam perencanaan awal. Ia menyebut desain jembatan memang dibuat sederhana dengan asumsi kondisi musim kemarau yang relatif aman.

“Perencanaan awal mempertimbangkan debit air yang rendah. Namun perubahan cuaca yang cepat membuat volume air meningkat drastis,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).

Baca Juga :  Kapolres Bondowoso Tinjau Jembatan Gentong

Evaluasi pun dilakukan. BPBD menemukan sejumlah titik lemah pada struktur yang perlu diperkuat agar mampu menahan tekanan arus dan material kiriman. Perbaikan difokuskan pada peningkatan ketahanan konstruksi terhadap kondisi cuaca yang kini sulit diprediksi.

Sementara itu, jembatan darurat ditutup sementara selama proses perbaikan berlangsung. BPBD memperkirakan penutupan tidak akan berlangsung lama.

“Penutupan paling lama tiga hari karena masih dalam tahap perbaikan,” kata Kristianto.

Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa pembangunan infrastruktur darurat sekalipun tetap membutuhkan perencanaan yang adaptif terhadap dinamika lingkungan. Terlebih, perubahan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi menuntut respons teknis yang lebih matang, bahkan untuk solusi sementara.

Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk bersabar sembari menunggu jembatan kembali dapat digunakan. Pemerintah daerah diharapkan mampu memastikan bahwa perbaikan kali ini tidak sekadar cepat, tetapi juga lebih kuat dan berkelanjutan. (*)


Penulis: Latif J

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *