
Bondowoso, Obor Rakyat — Perjalanan sejarah lembaga pendidikan dasar memiliki peran pivotal dalam merekonstruksi dinamika intelektual dan kultural masyarakat. UPTD SPF SD Negeri Sukosari 1, Kecamatan Sukosari, Kabupaten Bondowoso, secara resmi memperingati usia emas satu abad (Dies Natalis ke-100) pada Sabtu (1/8/2026).
Didirikan sejak 1 Agustus 1926 pada era pra-kemerdekaan, institusi pendidikan ini telah melintasi berbagai dinamika zaman dan terus konsisten dalam menjalankan fungsi pedagogisnya secara berkelanjutan.
Momentum bersejarah abad ke-1 ini ditandai dengan penyelenggaraan pergelaran seni budaya berupa tari rampak massal yang dipusatkan di Lapangan Sukosari.
Kegiatan kolosal ini melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) sekolah secara inklusif, mulai dari peserta didik, dewan guru, hingga paguyuban wali murid.
Acara tersebut tidak sekadar perayaan seremonial, melainkan sebuah manifestasi komitmen kelembagaan dalam merawat ingatan kolektif mengenai pentingnya eksistensi pendidikan sebagai instrumen pembangunan peradaban bangsa.
Internalisasi Nilai Kebinekaan Melalui Ekspresi Kultural
Dalam perspektif pedagogi modern, penanaman nilai multikulturalitas dan kebangsaan memerlukan pendekatan transformatif yang melampaui pembelajaran teoretis di dalam kelas. Pergelaran tari rampak massal yang menampilkan ratusan peserta dalam balutan busana adat dari berbagai penjuru Nusantara menjadi wahana artikulasi simbolik atas keanekaragaman budaya Indonesia (unity in diversity).
Gerakan tari yang diperagakan secara harmonis dan serempak di hadapan publik mengekspresikan pentingnya kolaborasi dan artikulasi estetika.
Pendekatan praksis kultural ini terbukti efektif sebagai media character building, menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas nasional, serta menginternalisasikan asas gotong royong dan kebersamaan sejak dini pada peserta didik.
Reorientasi Mutu dan Inovasi Layanan Pendidikan
Kepala UPTD SPF SD Negeri Sukosari 1, Yayuk Sri Pengasih, mengemukakan bahwa pencapaian usia seratus tahun (centennial milestone) harus dimaknai sebagai titik pijak strategis (strategic benchmark) dalam melakukan evaluasi kritis sekaligus reorientasi mutu pendidikan dasar.
“Usia seratus tahun bukan sekadar penanda akumulasi kronologis, melainkan cerminan dari dedikasi panjang dan konsisten dalam membina generasi muda yang berkarakter, berprestasi, serta berakar kuat pada nilai-nilai budaya bangsa. Momentum Dies Natalis ini menjadi akselerator bagi kami untuk terus berinovasi dalam memformulasi layanan edukatif yang adaptif dan berkualitas tinggi bagi seluruh peserta didik,” ungkapnya.
Ia menambahkan
bahwa pemilihan format tari massal dengan Pakaian Adat Nusantara dirancang secara terstruktur untuk mengukuhkan kesadaran kolektif warga sekolah akan pentingnya pelestarian kearifan lokal di tengah ekskalasi arus modernisasi dan globalisasi.
“Kami berkomitmen agar para siswa tidak hanya unggul secara akademis (academic excellence), tetapi juga memiliki kecerdasan kultural (cultural intelligence). Melalui kombinasi tari rampak dan pakaian adat beragam daerah, kami berharap rasa bangga terhadap identitas kebangsaan dapat terpatri kuat dalam struktur kepribadian setiap siswa,” tambahnya.
Sinergisitas Ekosistem Pendidikan dan Lanjutan Agenda Kultural
Penyelenggaraan perayaan ini juga mencerminkan soliditas sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat (Tri Pusat Pendidikan).
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Sekolah menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh elemen yang telah berkontribusi aktif.
“Apresiasi setinggi-tingginya saya sampaikan kepada dewan guru, tenaga kependidikan, peserta didik, paguyuban orang tua, alumni, serta masyarakat luas. Sinergitas ini merupakan energi positif dalam memperkuat mutu pembelajaran, membangun karakter mulia, dan menyiapkan generasi muda yang siap menghadapi tantangan era masa depan,” pungkas Yayuk.
Sebagai kelanjutan dari rangkaian peringatan centennial ini, UPTD SPF SD Negeri Sukosari 1 dijadwalkan akan menggelar Pawai Budaya Nusantara pada 4 Agustus 2026.
Agenda parade kultural tersebut dirancang untuk mengokohkan interaksi inklusif antara lembaga pendidikan dan masyarakat sekitar.
Peringatan satu abad SD Negeri Sukosari 1 menjadi bukti empiris bahwa lembaga pendidikan dasar tidak hanya berfungsi sebagai tempat mentransfer ilmu pengetahuan (transmission of knowledge), melainkan sebagai wahana pembudayaan (enculturation) yang secara aktif membentuk watak etis dan menjaga warisan kebudayaan bangsa. (*)
Penulis: Latif J