BPBD Jember Raih Juara Umum Dua Tahun Berturut-turut di Tingkat Jatim

​Jember, Obor Rakyat — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember kembali mencatatkan prestasi gemilang di tingkat provinsi.BPBD Jember sukses mempertahankan gelar juara umum dalam Lomba Gelar Peralatan dan Logistik BPBD se-Jawa Timur 2026, yang mengukuhkan raihan back-to-back setelah pencapaian serupa pada 2025.
BPBD Jember saat Tasyakuran dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke- 81.

Langsung Fokus Tangani Kekeringan di 7 Kecamatan

​Jember, Obor Rakyat — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember kembali mencatatkan prestasi gemilang di tingkat provinsi.

BPBD Jember sukses mempertahankan gelar juara umum dalam Lomba Gelar Peralatan dan Logistik BPBD se-Jawa Timur 2026, yang mengukuhkan raihan back-to-back setelah pencapaian serupa pada 2025.

​Kepastian gelar juara umum ini diraih usai BPBD Jember menyabet Juara I kategori Manajemen Pergudangan, Juara II Lomba Relawan/Ketangguhan, serta Juara IV pada kategori pendukung lainnya.

​Atas raihan tersebut, BPBD Jember menggelar syukuran yang bertepatan dengan momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kantor BPBD Jember, Rabu malam (12/8/2026).

​Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, menegaskan bahwa apresiasi ini merupakan buah kerja keras seluruh jajaran BPBD dan dukungan dari berbagai pihak.

Kendati demikian, ia mengingatkan agar penghargaan ini tidak sekadar menjadi capaian administratif semata.

Baca Juga :  Kuasa Hukum Samsu Laporkan Dugaan Penyerobotan Lahan ke Polres Jember

​”Ini menjadi suntikan motivasi bagi kami. Tidak hanya ingin menjadi yang terbaik dalam lomba, tetapi juga harus terbaik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Edy.

Gelar Operasi Penanganan Kekeringan di 7 Kecamatan

​Kesiapsiagaan BPBD Jember kini langsung diuji di lapangan. Memasuki puncak musim kemarau, sebanyak tujuh kecamatan di Kabupaten Jember dilaporkan mulai terdampak kekeringan. Enam wilayah di antaranya telah selesai diasesmen dan menerima penanganan darurat berupa distribusi air bersih secara berkala.

​Beberapa titik prioritas penyaluran air bersih meliputi:

  • Kecamatan Pakusari (Desa Sumberpinang): Penanganan dilakukan sejak 2 Juli dengan total pasokan mencapai 20 tangki air (kapasitas 5.000 liter per tangki).
  • Kecamatan Kalisat (Desa Sumberjeruk) & Silo (Desa Mulyorejo): Penyaluran air bersih dikirim secara berkala, terutama di kawasan dataran tinggi Mulyorejo.
  • Kecamatan Bangsalsari & Sumbersari: Penyaluran menyasar Desa Banjarsari, wilayah Panduman, serta Kelurahan Antirogo untuk menyokong kebutuhan harian sekitar 50 Kepala Keluarga (KK).
  • Kecamatan Rambipuji (Desa Kaliwining): Wilayah terdampak terbaru di mana debit sumur warga menyusut drastis serta mengalami perubahan warna dan bau. BPBD mengagendakan pengiriman dua tandon air per dua hari sekali untuk penanganan 50 KK mulai Kamis (13/8/2026).

​Guna mengantisipasi kemarau yang diproyeksikan dapat berlangsung hingga September, BPBD Jember telah memetakan pasokan air bersih berdebit stabil di sejumlah titik cadangan, seperti Garahan, Gelanggang, JSG, Ibnu Katsir, SMK Balung, serta fasilitas PDAM. Kooperasi dengan BPBD Provinsi Jawa Timur juga terus diperkuat jika sewaktu-waktu pasokan air perlu ditingkatkan.

​Edy pun mengimbau warga agar efisien dalam mengonsumsi air bersih selama masa krisis.

​”Air untuk konsumsi, makan, memasak, dan minum harus menjadi prioritas. Kita harus bijak karena tidak tahu sampai kapan kondisi kekeringan ini berlangsung,” tegasnya.

​Rencana Aktifkan FPRB dan Evaluasi Bencana

​Sebagai langkah mitigasi jangka panjang, BPBD Jember saat ini sedang menyusun draf pengurusan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) periode 2026–2030, mengingat masa bakti periode sebelumnya telah berakhir pada Desember 2025.

Forum kolaboratif ini direncanakan melibatkan sekitar 55 unsur dari jajaran pemerintah, akademisi, dunia usaha, relawan, hingga media.​Langkah ini dinilai krusial mengingat catatan statistik bencana di Kabupaten Jember cukup tinggi.

Berdasarkan data BPBD, sepanjang Januari hingga 30 Juni 2026 telah terjadi 345 kejadian bencana, terdiri dari 274 bencana alam (banjir, tanah longsor, angin kencang, dan 16 kasus kekeringan) serta 71 kejadian nonalam.

​”Semakin banyak yang berpikir, semakin banyak yang bisa memberikan solusi. Harapannya, potensi risiko bencana di Jember bisa semakin diminimalkan,” tutup Edy. (*)


Penulis: Maria Agustina
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *