
Bondowoso, Obor Rakyat – Menjelang pelaksanaan Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Bondowoso yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Mei 2026 di Nahdlatul Ulama Kabupaten Bondowoso, dinamika bursa calon Ketua PCNU mulai menjadi perhatian warga Nahdliyin.
Dari sejumlah nama yang beredar, sosok KH. Mas’ud Ali disebut sebagai salah satu figur yang paling kuat dan representatif untuk memimpin PCNU Bondowoso periode 2026–2031.
Konfercab tahun ini dinilai memiliki makna strategis karena akan menentukan arah gerakan jam’iyah di tengah tantangan sosial, keagamaan, dan kebangsaan yang semakin kompleks.
Dalam situasi tersebut, warga NU membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya matang secara organisatoris, tetapi juga kuat secara keilmuan dan dekat dengan akar tradisi pesantren.
Nama KH. Mas’ud Ali menguat karena dinilai memenuhi tiga unsur penting kepemimpinan NU: khidmah, kapasitas intelektual, dan pengalaman organisasi.
Lahir dari Tradisi Pesantren dan Tempaan Ulama NU
KH. Mas’ud Ali merupakan alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, salah satu pesantren besar yang dikenal sebagai pusat kaderisasi ulama dan tokoh NU di Indonesia.
Beliau pernah dididik langsung oleh almaghfurlah KH. As’ad Syamsul Arifin beserta para masyayikh Sukorejo lainnya. Lingkungan pesantren yang sarat dengan tradisi tafaqquh fiddin dan nilai Ahlussunnah wal Jamaah membentuk karakter beliau menjadi sosok yang tawadhu’, tegas dalam prinsip, serta santun dalam berdakwah.
Sejak masih nyantri hingga menempuh pendidikan tinggi, KH. Mas’ud Ali dikenal aktif dalam organisasi kepesantrenan dan kemahasiswaan, termasuk di lingkungan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Aktivitas tersebut menjadi bekal penting dalam membangun kemampuan kepemimpinan dan kepekaan sosial terhadap problem umat.
Rekam Jejak Panjang di NU
Bagi kalangan Nahdliyin Bondowoso, KH. Mas’ud Ali bukanlah figur baru. Pengabdian beliau di tubuh NU berlangsung cukup panjang dan bertahap dari bawah.
Beliau pernah aktif sebagai pengurus Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Bondowoso selama beberapa periode. Setelah itu, amanah organisasi terus mengalir hingga dipercaya menjadi Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Bondowoso dan kemudian menjabat Wakil Rois Syuriah PCNU Bondowoso.
Rekam jejak tersebut menunjukkan bahwa KH. Mas’ud Ali tumbuh melalui proses kaderisasi dan pengabdian yang panjang, bukan figur instan yang muncul menjelang momentum konferensi.
Di mata banyak kader NU, pengalaman lintas struktur itu menjadi modal penting untuk memahami kebutuhan jam’iyah sekaligus menjaga harmoni antara kalangan muda, pesantren, dan tokoh masyarakat.
Aktif Merawat Kerukunan dan Dakwah Moderat
Selain aktif di lingkungan NU, KH. Mas’ud Ali juga dipercaya memimpin Forum Kerukunan Umat Beragama. Amanah tersebut memperlihatkan kapasitas beliau dalam membangun komunikasi lintas agama dan menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Dalam aktivitas dakwah, KH. Mas’ud Ali dikenal sebagai muballigh yang sejuk dan komunikatif. Ceramahnya kerap mengedepankan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin, persatuan umat, dan penguatan akhlakul karimah.
Beliau rutin mengisi pengajian di berbagai masjid, majelis taklim, hingga pelosok desa di Bondowoso. Bahkan dakwahnya juga menjangkau masyarakat Indonesia di Malaysia.
Gaya dakwah yang santun namun argumentatif membuat beliau diterima lintas kalangan, mulai dari santri, akademisi, tokoh masyarakat hingga generasi muda Nahdliyin.
Ulama, Akademisi, dan Pengasuh Pesantren
Di tengah aktivitas organisasi dan dakwahnya, KH. Mas’ud Ali juga mengasuh Pondok Pesantren Riyadhus Sholihin.
Tidak hanya itu, beliau juga aktif sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember. Perpaduan peran sebagai ulama, akademisi, dan aktivis sosial inilah yang membuat banyak pihak menilai beliau sebagai figur yang relevan untuk membawa PCNU Bondowoso lebih adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi Aswaja.
Harapan Warga Nahdliyin
Menjelang Konfercab NU Bondowoso 2026, aspirasi warga Nahdliyin mulai mengerucut pada sosok yang dinilai mampu menjaga marwah organisasi sekaligus membawa semangat pembaruan.
Dengan bekal pengalaman organisasi yang matang, jaringan sosial yang luas, serta basis keilmuan pesantren yang kuat, KH. Mas’ud Ali dipandang memiliki kapasitas besar untuk membawa PCNU Bondowoso semakin progresif, mandiri, dan bermartabat.
Bagi banyak warga NU, kepemimpinan bukan sekadar soal jabatan, melainkan amanah untuk melanjutkan perjuangan ulama dalam menjaga agama, merawat tradisi, dan mengabdi kepada umat. Dalam konteks itulah, nama KH. Mas’ud Ali kini semakin diperhitungkan sebagai calon kuat Ketua PCNU Bondowoso periode mendatang. (*)
Penulis: K Priyanto
Editor: Redaksi