
Bondowoso, Obor Rakyat — Tata kelola pembangunan infrastruktur pedesaan berbasis partisipasi publik kembali teraktualisasi di Kabupaten Bondowoso.
Kelompok Masyarakat (Pokmas) Desa Mangli, Kecamatan Pujer, merelisasikan program hibah 50 drum aspal dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air, dan Bina Konstruksi (BSBK) untuk pengerjaan rehabilitasi akses jalan desa.
Ketua Pokmas Desa Mangli, Syaifullah Mukhlis, mengonfirmasi bahwa pengerjaan fisik jalan sepanjang 800 meter dengan lebar 3 meter tersebut telah dimulai sejak Jumat, 17 Juli 2026.
Proyek yang membentang dari titik awal di persimpangan Masjid Baburrahman (RT 11/RW 03) hingga titik akhir di kawasan RT 15/RW 03 ini menerapkan pendekatan community-based development melalui keterlibatan aktif pemuda dan warga setempat.
Capaian Fisik: Hingga Sabtu, 1 Agustus 2026, akumulasi progres perbaikan infrastruktur jalan jalan desa tersebut telah mencapai panjang 600 meter (75% dari total target), dengan sisa 200 meter yang masih dalam tahap penyelesaian.
Skema Kolaborasi dan Pembiayaan Multi-Pihak
Pengerjaan proyek ini menunjukkan skema pendanaan berkelanjutan (co-financing) yang menggabungkan dukungan pemerintah, kontribusi perorangan, dan kemandirian kolektif masyarakat:
- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso: Hibah material utama berupa 50 drum aspal.
- Dukungan Mitra Sektor: Penyediaan alat berat pemadat (wales/stoom roller) oleh fasilitator lokal (Sdr. Zola).
- Swadaya Masyarakat: Penyediaan material pendukung, alokasi tenaga kerja ahli (tukang), hingga pemenuhan logistik operasional secara mandiri berbasis prinsip gotong royong.
Kebutuhan Material dan Keberlanjutan Proyek
Meskipun progres fisik tergolong signifikan, pihak Pokmas Desa Mangli menekankan pentingnya pengawasan partisipatif (participatory monitoring) dari stakeholder terkait. Guna menjamin ketahanan struktur jalan secara optimal, proyek ini masih membutuhkan dukungan pasokan material pendukung, khususnya agregat kasar (koral) dan agregat halus (pasir).
Inisiatif lokal ini diharapkan menjadi tolok ukur efektivitas sinergi antara kebijakan hibah pemerintah daerah dan penguatan kapasitas modal sosial (social capital) masyarakat pedesaan. (*)
Penulis: Syayudi
Editor: Redaksi