Gus Lilur Kembali Gaungkan “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU” Pasca-Muktamar NU ke-35

HRM Khalilur R. Ab. S. (Fot Ist)

Situbondo, Obor Rakyat — Pernyataan “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU” kembali mengemuka di tengah dinamika Nahdlatul Ulama (NU) pasca-Muktamar ke-35 yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Istilah tersebut diklaim pertama kali dilontarkan oleh HRM Khalilur R. Ab. S., atau yang akrab disapa Gus Lilur, pada 2022. Setelah sempat menuai kritik, ia kembali menyuarakannya dalam konteks dinamika internal NU setelah Muktamar ke-35.

Bagi Gus Lilur, “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU” bukan ajakan untuk meninggalkan NU. Menurut dia, istilah tersebut merupakan penegasan bahwa kecintaan terhadap NU dan pengamalan tradisi keagamaannya tidak harus selalu diwujudkan melalui keterikatan dengan struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

“Istilah ber-NU tanpa ber-PBNU ini Januari 2022. Saat itu saya dikecam dan dinyinyirin banyak orang,” kata Gus Lilur.

Ber-NU Tak Harus Ber-PBNU

Gus Lilur menjelaskan, menurut pemahamannya, menjadi bagian dari tradisi keagamaan NU berkaitan dengan cara seseorang menjalankan ajaran Islam, bukan semata-mata posisi dalam struktur organisasi.

Ia menyebut tiga prinsip yang menurutnya menjadi bagian penting dari tradisi keagamaan NU, yakni bermadzhab Syafi’i, berakidah Asy’ariyah, serta mengamalkan tasawuf dalam tradisi Imam Junaid Al-Baghdadi dan atau Imam Al-Ghazali.

“Ber-NU bagi saya adalah beragama Islam dengan cara NU. Seseorang yang mengamalkan tradisi keagamaan tersebut tidak harus berada dalam struktur PBNU,” tegasnya.

Menurut Gus Lilur, ajaran dan tradisi tersebut telah lama diajarkan oleh para kiai NU.

“Para kiai alim NU sudah mengajarkan kami hal tersebut. Mengamalkan tiga cara beragama sesuai ajaran NU di atas tidak perlu ber-PBNU,” katanya.

Dari gagasan tersebut kemudian muncul sejumlah variasi slogan yang menurut Gus Lilur memiliki pesan serupa, di antaranya:

  • “Ber-NU selamanya, ber-PBNU sekedarnya.”
  • “Ber-NU saklawase, ber-PBNU sak cukupè.”
  • “Ber-NU saklawasè, ber-PBNU sekedarè.”
Baca Juga :  Program Makan Bergizi Gratis untuk Pelajar di Jakarta Sudah Dimulai

Bagi Gus Lilur, slogan tersebut hendak membedakan antara identitas keagamaan seseorang sebagai bagian dari tradisi NU dan keterikatannya terhadap struktur organisasi PBNU.

Kritik terhadap Dinamika Internal NU

Gus Lilur mengaitkan kembali munculnya slogan tersebut dengan dinamika internal NU setelah Muktamar ke-34 di Lampung.

Menurut dia, perselisihan yang berkaitan dengan kepengurusan organisasi saat itu membuat sejumlah persoalan internal NU terbuka ke ruang publik. Ia menilai kondisi tersebut turut memunculkan rasa prihatin di kalangan warga NU.

“Mandataris Muktamar ke-34 Lampung berantem, saling buka borok sendiri, saling pecat. Semua warga NU malu pada kelakuan mereka yang di PBNU,” ujarnya.

Menurut Gus Lilur, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan dirinya kembali menggaungkan istilah “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU” setelah Muktamar ke-35 di Tambakberas.

Ia menilai perlu ada pemisahan antara kecintaan terhadap tradisi dan nilai-nilai ke-NU-an dengan dinamika yang terjadi di dalam struktur organisasi.

Soroti Rais Aam PBNU

Selain berbicara mengenai relasi antara warga NU dan struktur PBNU, Gus Lilur juga menyampaikan kritik terhadap Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar.

Gus Lilur mengaku memiliki pandangan tersendiri mengenai kapasitas keilmuan Rais Aam. Kritik tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari alasan yang memperkuat sikapnya dalam menggaungkan konsep “ber-NU tanpa ber-PBNU”.

Ia juga menyinggung dua video yang menurut pengakuannya dibuat oleh timnya atas permintaannya.

Video tersebut menampilkan seorang anak bernama Siti yang memberikan komentar mengenai dua pidato KH Miftahul Akhyar.
Menurut Gus Lilur, dua pidato yang menjadi sorotan tersebut adalah pidato penutupan Munas-Konbes NU di Bangkalan dan pidato pembukaan Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang.

Baca Juga :  Bupati Jember Ngantor di Ambulu, Gandeng Emak-Emak Sosialisasikan Layanan Kesehatan dan Pendidikan Gratis

Ia menyebut video tersebut sebagai bagian dari argumentasi untuk menunjukkan apa yang menurut penilaiannya merupakan persoalan dalam pidato Rais Aam PBNU.

Gus Lilur juga mengklaim kritik terhadap pidato tersebut telah diberitakan oleh sekitar 80 media. Ia menyebut terdapat sejumlah hal dalam pidato tersebut yang menurut penilaiannya perlu dikritisi.

Antara Identitas Keagamaan dan Struktur Organisasi

Pernyataan Gus Lilur pada akhirnya menempatkan “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU” sebagai gagasan yang membedakan dua hal: identitas keagamaan dan struktur organisasi.

Bagi dia, seseorang tetap dapat menjalankan tradisi keislaman yang selama ini identik dengan NU tanpa harus menjadi bagian dari struktur PBNU.

Gagasan tersebut kembali mencuat di tengah dinamika NU pasca-Muktamar ke-35. Di satu sisi, NU merupakan organisasi dengan struktur kepengurusan yang berjenjang.

Di sisi lain, tradisi keagamaan NU telah berkembang jauh melampaui batas-batas struktural organisasi.

Dalam konteks itulah Gus Lilur kembali menegaskan slogan yang pernah ia lontarkan pada 2022:
“Ber-NU selamanya, ber-PBNU sekedarnya.”

Slogan tersebut, bagi Gus Lilur, bukan berarti meninggalkan NU. Ia mengartikannya sebagai penegasan bahwa menjalankan Islam dengan tradisi ke-NU-an tidak selalu identik dengan berada di dalam struktur PBNU. (*)


Penulis: Eko Apriyanto
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *