Sang Guru Telah Tiada, Nasihatnya Harus Tetap Hidup di Hati Keluarga Besar IKAMA

​Jakarta, Obor Rakyat — Wasiat almarhum KH. Syukron Makmun, pendiri sekaligus Ketua Dewan Penasihat DPP Ikatan Keluarga Madura (IKAMA), bukan sekadar pesan menjelang akhir hayat. Di dalamnya tersimpan peringatan keras tentang arah perjuangan organisasi, kemurnian niat, dan tanggung jawab moral bagi para penerusnya.
Sang Guru telah tiada, nasihatnya harus tetap hidup di hati Keluarga Besar IKAMA.

​Jakarta, Obor Rakyat — Wasiat almarhum KH. Syukron Makmun, pendiri sekaligus Ketua Dewan Penasihat DPP Ikatan Keluarga Madura (IKAMA), bukan sekadar pesan menjelang akhir hayat. Di dalamnya tersimpan peringatan keras tentang arah perjuangan organisasi, kemurnian niat, dan tanggung jawab moral bagi para penerusnya.

​Pesan mendalam tersebut menjadi pengingat bagi seluruh pengurus dan anggota bahwa organisasi kemasyarakatan bukanlah panggung untuk memburu jabatan, membangun kepentingan pribadi, atau mencari keuntungan finansial. IKAMA adalah ruang pengabdian yang menuntut ketulusan, pengorbanan, dan keberpihakan nyata pada kemaslahatan masyarakat.

​Dalam pertemuannya bersama Ketua Umum DPP IKAMA H. Muhammad Rawi, anggota Dewan Penasihat H. Muchaji, serta sejumlah pengurus inti lainnya, almarhum menyampaikan wasiat khusus terkait lokasi pemakaman yang telah ditentukan, sekaligus meminta para santrinya mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari sepanjang masa.

​Wasiat tersebut menegaskan betapa nilai spiritual dan kesinambungan tradisi keilmuan menjadi fondasi utama dalam perjalanan hidup almarhum. Namun bagi keluarga besar IKAMA, warisan terpenting yang harus terus dihidupkan adalah pesan tegas mengenai hakikat pengabdian dalam berorganisasi.

Menjaga Etika dan Orientasi Pengabdian

​Almarhum KH. Syukron Makmun secara eksplisit mengingatkan bahwa IKAMA dibangun sebagai wadah mengabdi bukan partai politik untuk memburu kekuasaan, juga bukan perusahaan untuk mencari kekayaan.

​Pesan moral ini membawa makna mendalam sekaligus peringatan bagi setiap pemegang amanah kepengurusan. Jabatan dalam organisasi seharusnya menjadi sarana untuk memperbesar manfaat bagi masyarakat luas, bukan alat membesarkan kepentingan pribadi.

Baca Juga :  Bareskrim dan BNN Razia Kelab Malam Jakarta-Tangerang, 9 Pengunjung Positif Narkoba

​Menjadi pengurus IKAMA berarti bersedia mengabdikan tenaga, pikiran, waktu, dan sumber daya demi kepentingan bersama. Kehormatan sebuah organisasi tidak ditentukan oleh tingginya jabatan struktur kepengurusan, melainkan oleh integritas, keteladanan, dan dampak positif yang dirasakan masyarakat.

Mengakar pada Falsafah Bhuppa’, Bhabhu’, Ghuru, Rato

​Menanggapi arahan tersebut, Ketua Umum DPP IKAMA H. Muhammad Rawi menegaskan bahwa moral dan etika harus menjadi fondasi utama dalam menjalankan roda organisasi.

IKAMA tidak boleh hanya dipandang sebagai wadah berkumpul, melainkan instrumen yang aktif menjaga nilai-nilai luhur budaya Madura.
​Prinsip pergerakan ini berakar kuat pada falsafah kultural Madura: “Bhuppa’, Bhabhu’, Ghuru, Rato” sebuah ajaran tata krama yang menekankan penghormatan berjenjang kepada ayah, ibu, guru, serta pemerintah atau pemimpin.

​“Prinsip dasar yang mendasari pergerakan dan mengilhami AD/ART IKAMA adalah falsafah Madura Bhuppa’, Bhabhu’, Ghuru, Rato. Setiap program dan langkah organisasi harus dilandasi penghormatan kepada orang tua, guru, serta pemerintah sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya,” ujar H. Rawi, Senin (19/10/2026).

​H. Rawi menambahkan, tradisi pengurus yang senantiasa meminta nasihat kepada para sesepuh merupakan wujud nyata penghormatan terhadap posisi guru. Langkah ini penting agar organisasi tidak kehilangan pegangan moral di tengah arus perubahan zaman.

​Menjawab Tantangan Keberlanjutan Organisasi

​Sepeninggal tokoh kunci, tantangan terbesar bagi IKAMA bukanlah sekadar mengenang jasa-jasanya, melainkan meneruskan nilai-nilai substansial yang diperjuangkan almarhum.
​Keberlanjutan organisasi tidak cukup hanya diukur dari pergantian kepengurusan secara administratif atau pelaksanaan kegiatan seremonial.

IKAMA membutuhkan kader-kader yang mampu menjaga kemurnian niat, menghindari konflik kepentingan, serta menempatkan kepentingan publik di atas ambisi pribadi.
​Penghormatan tertinggi kepada pendiri dan sesepuh diwujudkan dengan menjalankan nasihat mereka secara konsisten, menjaga marwah organisasi, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan bangsa.

​Pada akhirnya, kebesaran IKAMA tercermin dari seberapa luas manfaat yang ditebarkan. Wasiat KH. Syukron Makmun menjadi refleksi abadi bahwa organisasi hadir bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Tokoh bisa saja berpulang, namun nilai perjuangannya harus tetap menyala. (*)


Penulis: Wahyu Widodo
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *