
Palembang, Obor Rakyat — Ikhtiar intelektual dan ketekunan akademik kembali berbuah manis bagi peserta didik Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Palembang.
Delegasi sains madrasah tersebut sukses mengamankan podium ketiga (Juara 3) dalam ajang Physics Quiz Championship yang menjadi rangkaian agenda bergengsi 16th Physics in Action di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sriwijaya (FKIP Unsri), Indralaya.
Kompetisi yang dihelat secara intensif, pada Selasa (27/10/2026), mempertemukan talenta-talenta muda dari berbagai sekolah menengah guna menguji ketajaman penalaran analitis, penguasaan hukum-hukum fisika fundamental, serta solidnya keutuhan kolaborasi tim dalam lanskap akademik perguruan tinggi.
Formasi tim MAN 1 Palembang yang digawangi oleh Alvin Julian Fikri, M. Farid Hidayatullah, and Rizki Ramadhan ini tampil trengginas di bawah komando bimbingan Andini Pratiwi.
Sinergi antara ketekunan peserta didik dan pendampingan institusional membuktikan bahwa ekosistem pendidikan madrasah mampu melahirkan kompetensi sains yang kompetitif.
Kepala MAN 1 Palembang, Widiawaty, memberikan apresiasi mendalam atas capaian kolektif tersebut.
Menurutnya, torehan prestasi ini merefleksikan efektivitas ikhtiar madrasah dalam merajut mutu akademik dengan pembentukan karakter holistik.
”Alhamdulillah, kami bangga atas pencapaian ini. Keberhasilan tersebut menegaskan kapasitas siswa madrasah dalam bersaing secara sehat di kancah ilmiah. Kami berharap momentum ini menjadi katalisator bagi seluruh peserta didik untuk terus memelihara etos belajar, menjunjung sportivitas, serta mendedikasikan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan bersama,” ujar Widiawaty.
Integrasi Sains dan Kesadaran Ekologis
Ada dimensi epistemologis yang menarik dari capaian ini, yakni relevansinya dengan diskursus ekoteologi yang tengah dikembangkan di lingkungan MAN 1 Palembang.
Paradigma ini memandang bahwa penguasaan sains, khususnya fisika sebagai instrumen pembaca fenomena alam tidak boleh tereduksi sekadar menjadi mekanika rumus dan kalkulasi matematis semata.
Lebih jauh, hukum-hukum fisika mengenai termodinamika, konservasi energi, dinamika fluida, hingga tata kelola sumber daya alam harus dimaknai sebagai instrumen teologis untuk memahami keteraturan alam semesta (kalam kauniyah) sekaligus memikul tanggung jawab moral sebagai penjaga bumi (khalifah fil ardhi).
Melalui pendekatan ini, diskursus teoretis tentang efisiensi energi, konservasi air, dan mitigasi krisis lingkungan diterjemahkan secara praksis ke dalam kultur keseharian madrasah mulai dari rasionalisasi konsumsi energi hingga pemeliharaan ekosistem mikro di lingkungan sekolah.
Bagi Alvin Julian Fikri mewakili tim, kompetisi ini tidak sekadar mempersembahkan trofi, melainkan ruang reflektif untuk menempa ketahanan mental dan ketajaman berpikir kritis.
”Kompetisi ini mengajarkan kami arti penting ketelitian, kecepatan analitis, dan daya juang yang persisten. Kami berharap pencapaian ini menjadi pemantik semangat untuk terus mendalami sains dan mempersembahkan hasil yang lebih optimal di masa mendatang,” ungkapnya.
Capaian di Unsri ini menegaskan bahwa orientasi pendidikan madrasah kontemporer mampu berdiri di titik temu yang harmonis: mencetak generasi yang tajam secara intelektual, matang secara karakter, dan memiliki keberpihakan ekologis yang kokoh bagi masa depan peradaban. (*)
Penulis: Budi Rizkyanto
Editor: Redaksi