
Situbondo, Obor Rakyat – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, dinamika internal NU semakin menghangat.
Sejumlah pengamat internal mulai membaca kontestasi kepemimpinan dengan pendekatan tidak formal, salah satunya melalui istilah “pasangan calon” atau paslon.
Tokoh muda NU, Khalilur Abdullah Sahlawiy yang akrab disapa Gus Lilur menilai istilah tersebut relevan untuk menjelaskan realitas politik organisasi yang berkembang menjelang muktamar. Meski secara struktural NU tidak mengenal konsep paslon, dinamika di lapangan menunjukkan adanya konfigurasi pasangan antara calon Rais Aam dan Ketua Umum.
Secara normatif, pemilihan Rais Aam dilakukan melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Namun, dalam praktiknya, komposisi AHWA kerap menjadi arena strategis yang dipengaruhi berbagai kepentingan internal.
Isu terbaru mencuat terkait peran Saifullah Yusuf yang disebut tidak menghendaki dua kiai, KH. Nurul Huda Jazuli dan KH. Kafabihi Makhrus, masuk dalam struktur AHWA. Meski informasi ini masih bersifat dinamis, hal tersebut menunjukkan bahwa penentuan komposisi pemilih menjadi bagian penting dalam kontestasi.
Dalam narasi yang berkembang, kedua kiai tersebut dinilai memiliki kecenderungan mendukung Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam. Sementara itu, Saifullah Yusuf disebut lebih condong mempertahankan Miftachul Akhyar di posisi tersebut.
Peta persaingan pun semakin kompleks. Yahya Cholil Staquf dikabarkan tetap maju sebagai calon Ketua Umum, namun masih mencari pasangan ideal untuk posisi Rais Aam. Di sisi lain, terdapat pula poros yang beririsan dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang mendorong konfigurasi tertentu dengan Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam.
Selain itu, jaringan yang terkait dengan Kementerian Agama Republik Indonesia juga disebut mulai diperhitungkan. Nama Nazaruddin Umar muncul sebagai salah satu figur potensial untuk posisi Ketua Umum, meski konfigurasi pasangannya masih terbuka.
Pengamat juga melihat kemungkinan terbentuknya koalisi besar yang melibatkan tokoh-tokoh seperti Muhaimin Iskandar dan Nusron Wahid. Jika koalisi ini terealisasi, bukan tidak mungkin arah Muktamar sudah dapat diprediksi sebelum forum resmi berlangsung.
Meski demikian, tradisi NU menunjukkan bahwa faktor kiai pesantren tetap menjadi penentu akhir yang sering kali berada di luar kalkulasi politik formal.
Di tengah berbagai spekulasi tersebut, muncul pula pertanyaan mengenai tidak berlanjutnya pasangan Yahya Cholil Staquf dan Miftachul Akhyar seperti periode sebelumnya. Perubahan konfigurasi ini dinilai mencerminkan adanya dinamika internal, baik dari sisi strategi, jaringan, maupun perbedaan orientasi kepemimpinan.
Dengan kondisi yang masih cair, Muktamar NU ke-35 diprediksi akan menjadi arena konsolidasi sekaligus pertarungan berbagai kepentingan yang telah berlangsung jauh sebelum forum resmi digelar. (*)
Penulis: Eko Apriyanto
Editor: Redaksi