Tuberkulosis (TBC) : Musuh Diam Yang Masih Perlu Diwaspadai

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium Tuberculosis. Biasanya menyerang paru-paru, tapi bisa juga menyebar ke tulang, otak, ginjal, kelenjar getah bening, dan organ tubuh lainnya. Disebut juga sebagai "penyakit diam" karena gejalanya sering muncul perlahan dan disalah artikan sebagai batuk biasa.
Laurensia Framita Mamus.
Oleh: Laurensia Framita Mamus, Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng.

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium Tuberculosis. Biasanya menyerang paru-paru, tapi bisa juga menyebar ke tulang, otak, ginjal, kelenjar getah bening, dan organ tubuh lainnya. Disebut juga sebagai “penyakit diam” karena gejalanya sering muncul perlahan dan disalah artikan sebagai batuk biasa.

Penyakit TBC ini merupakan masalah kesehatan yang masih sangat ramai dibicarakan hingga saat ini.

Di Indonesia, TBC bukan cuma soal masalah kesehatan biasa, tetapi sudah menjadi masalah besar yang merugikan manusia dan perekonomian.

Berdasarkan laporan Global Tuberkulosis WHO tahun 2017, terdapat 10,4 juta kasus insiden TBC di dunia (CI 8,8 juta – 12, juta) yang setara dengan 120 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 2016.

Selanjutnya masih dengan laporan WHO tahun 2018 untuk kasus baru tuberkulosis sebesar 6,4 juta, setara dengan 64% dari insiden tuberkulosis (10,0 juta).

Tuberkulosis tetap menjadi 10 penyebab kematian tertinggi di dunia dan kematian tuberkulosis secara global diperkirakan 1,3 juta pasien Lima negara dengan insiden kasus tertinggi yaitu India, Indonesia, China, Philipina, dan Pakistan.

Sebagian besar estimasi insiden TBC pada tahun 2016 terjadi di Kawasan Asia Tenggara (45%) dimana Indonesia merupakan salah satu di dalamnya dan 25% nya terjadi di kawasan Afrika.

Selama ini banyak orang mengira bahwa penyakit TBC sudah jarang terjadi dan hanya ada di masa lalu. Padahal, kalau kita perhatikan, penyakit ini masih ada di sekitar kita dan menyebar secara perlahan.

Baca Juga :  Ranny Fahd A Rafiq: Stunting Adalah Pembajakan Masa Depan Bangsa, Bukan Sekadar Masalah Gizi

Menurut pandangan saya, TBC bukan cuma masalah kesehatan orang yang sakit saja, tapi juga masalah bersama yang harus diperhatikan semua orang, seperti musuh yang tidak terlihat, diam-diam merusak tubuh, mengganggu kegiatan sehari-hari, bahkan bisa merusak masa depan bagi si penderita kalau tidak ditangani dengan benar.

Jadi ada dua alasan utama kenapa TBC masih sulit diberantas. Yang pertama, masyarakat kurang paham dan memiliki pandangan buruk terhadap penderita masih sangat kuat. Sering kali kita menganggap batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu itu cuma sakit biasa karena cuaca atau kelelahan.

Jadi kita menunda untuk melakukan pemeriksaan ke rumah sakit atau ke fasilitas kesehatan terdekat.

Yang nyatanya, semakin lama kita menunda melakukan pemeriksaan diri, semakin cepat juga kuman berkembang biak dalam tubuh dan menular ke orang lain.

Selain itu, anggapan bahwa TBC itu memalukan membuat banyak orang takut berobat atau tidak mau minum obat sampai selesai.

Saya yakin, selama orang masih menganggap TBC itu aib dan bukan penyakit biasa, jumlah penderitanya akan terus ada setiap tahunnya.

Pendapat ini ternyata sesuai dengan apa yang disampaikan para ahli. Prof. Tjandra Yoga Aditama, pakar kesehatan yang pernah menjabat di Kementerian Kesehatan.

Beliau menyatakan bahwa “Kurangnya pengetahuan dan rasa malu karena stigma sosial justru menjadi penghalang terbesar, padahal pengobatan sebenarnya sudah tersedia secara gratis dan bisa menyembuhkan total”.

Baca Juga :  Dokter Spesialis Patologi Klinik di Jakarta Pilih Merajut untuk Redakan Tekanan Profesi Medis

Begitu juga dengan penjelasan dr. Nastiti Kaswandani, spesialis paru, yang menegaskan: “Banyak orang menyepelekan gejala awal, dan stigma membuat pasien bersembunyi. Akibatnya, penyakit makin parah dan menularkan banyak orang di sekitarnya”.

Ini membuktikan bahwa masalahnya bukan hanya pada obat, tapi juga pada sikap dan pandangan kita bersama.

Sebagai kesimpulan, TBC memang masih menjadi ancaman nyata bagi kita semua. Tetapi semua itu bisa dikalahkan ketika kita berani untuk terbuka dan bertindak cepat.

Oleh karena itu, mari hilangkan rasa malu dan pandangan buruk terhadap penderita. Perbanyak pengetahuan, dan dorong siapa pun yang batuk lebih dari dua minggu atau merasa lemas terus-menerus untuk segera berobat.

Dengan kesadaran dan kerja sama seperti ini, kita pasti bisa menghentikan musuh yang diam-diam ini dan mewujudkan lingkungan yang sehat serta bebas dari TBC.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *