
Oleh: Varionardus Janu (Ketua BEM STKIP Citra Bakti Ngada)
Sumpah Pemuda bukan sekadar catatan sejarah tentang tiga ikrar yang diucapkan oleh generasi muda Indonesia pada 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda adalah pernyataan keberanian, kesadaran kolektif, dan tanggung jawab sejarah kaum muda untuk menentukan arah masa depan bangsanya.
Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dan sembilan puluh delapan tahun sejak Sumpah Pemuda diikrarkan, semangat perjuangan generasi muda tetap menjadi bahan refleksi bagi kehidupan bangsa. Namun, pertanyaan mendasar tetap relevan untuk diajukan: di manakah posisi mahasiswa hari ini ketika masyarakat membutuhkan pikiran kritis, keberanian moral, dan tindakan nyata dari generasi mudanya?
Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi seluruh mahasiswa, melainkan menjadi ruang refleksi bersama. Sebab, status mahasiswa tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang kritis, berintegritas, atau peduli terhadap persoalan masyarakat. Semua itu harus dibentuk melalui proses belajar, keberanian mengambil sikap, dan kesediaan mempertanggungjawabkan tindakan.
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STKIP Citra Bakti Ngada memandang bahwa momentum Sumpah Pemuda harus menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kembali makna keberadaan mahasiswa, terutama dalam hubungannya dengan kampus, masyarakat, kebudayaan, dan masa depan pendidikan di Kabupaten Ngada.
Mahasiswa Bukan Sekadar Status, Melainkan Tanggung Jawab
Menjadi mahasiswa bukan hanya tentang duduk di ruang kuliah, menyelesaikan tugas, memperoleh nilai, lalu menunggu kelulusan. Perguruan tinggi seharusnya menjadi ruang pembentukan manusia yang mampu berpikir mandiri, menguji kebenaran, membaca realitas sosial, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengakses pengetahuan dan mengembangkan kemampuan intelektual. Kesempatan tersebut membawa tanggung jawab untuk menggunakan pengetahuan bagi kepentingan yang lebih luas.
BEM STKIP Citra Bakti Ngada menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh terjebak dalam kenyamanan akademik hingga kehilangan kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya. Persoalan pendidikan, kesenjangan kesempatan, literasi, pelestarian budaya, dan berbagai kebutuhan masyarakat harus menjadi bagian dari perhatian mahasiswa sesuai kapasitas dan bidang keilmuannya.
Namun, menjadi kritis juga bukan berarti sekadar lantang berbicara atau mudah menyalahkan pihak lain. Kritik yang bertanggung jawab harus berangkat dari fakta, diperkuat argumentasi, disampaikan dengan etika, dan diarahkan pada perbaikan. Mahasiswa harus berani bersuara ketika menemukan persoalan, tetapi juga harus bersedia belajar, mendengar, dan menawarkan solusi.
Dari Ngada, Kita Belajar Bahwa Identitas Adalah Kekuatan
Bagi mahasiswa STKIP Citra Bakti Ngada, refleksi Sumpah Pemuda tidak dapat dipisahkan dari identitas dan kekayaan budaya daerah sendiri.
Ngada memiliki tradisi, bahasa, pengetahuan lokal, dan praktik kehidupan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Nilai kebersamaan, penghormatan terhadap sesama, tanggung jawab terhadap komunitas, serta hubungan antargenerasi merupakan sumber pembelajaran yang dapat memperkaya cara mahasiswa memahami kehidupan sosial. Keberadaan kampung-kampung adat, ngadhu dan bhaga, serta tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat menunjukkan bahwa pembangunan identitas tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan kebudayaan.
Akan tetapi, kebudayaan tidak boleh hanya menjadi kebanggaan yang diucapkan dalam seremoni. Kebudayaan harus dipelajari, dirawat, dan dikembangkan agar tetap relevan bagi generasi berikutnya.
BEM STKIP Citra Bakti Ngada memandang bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menjembatani kearifan lokal dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Mahasiswa Ngada harus mampu melangkah ke dunia yang lebih luas tanpa kehilangan kesadaran tentang akar yang membentuk jati dirinya.
Pendidikan Ngada: Jangan Hanya Menjadi Penonton
Sebagai mahasiswa di perguruan tinggi yang berfokus pada pendidikan, kita memiliki tanggung jawab untuk menempatkan persoalan pendidikan sebagai bagian penting dari perjuangan intelektual. Pendidikan merupakan salah satu fondasi utama dalam membangun masa depan masyarakat.
BEM STKIP Citra Bakti Ngada berpandangan bahwa mahasiswa pendidikan tidak cukup hanya mempersiapkan diri menjadi lulusan yang memperoleh pekerjaan. Mahasiswa juga perlu membangun kesadaran tentang peran pendidikan dalam memperluasnya kesempatan, mengembangkan potensi manusia, dan memperkuat kehidupan masyarakat.
Kita dapat mengambil bagian melalui kegiatan pendampingan belajar, penguatan literasi di lingkungan desa, pengembangan media pembelajaran berbasis kearifan lokal, serta penelitian sederhana yang menjawab kebutuhan sekolah dan masyarakat. Kampus tidak boleh menjadi ruang yang terpisah dari realitas kehidupan masyarakat, sementara masyarakat tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai objek kegiatan akademik.
BEM Harus Menjadi Ruang Perjuangan, Bukan Sekadar Formalitas
Sebagai organisasi eksekutif mahasiswa, BEM memiliki tanggung jawab untuk membangun ruang partisipasi, mengembangkan kepemimpinan, dan memperjuangkan kepentingan mahasiswa secara bertanggung jawab. BEM tidak boleh berhenti pada penyelenggaraan kegiatan seremonial.
Organisasi mahasiswa harus menjadi tempat tumbuhnya keberanian menyampaikan gagasan, budaya diskusi yang sehat, solidaritas, serta kemampuan menyelesaikan persoalan secara kolektif. BEM harus menjadi rumah bersama bagi gagasan dan perjuangan mahasiswa, bukan sekadar tempat menjalankan jabatan organisasi.
Menolak Apatisme, Meneguhkan Solidaritas
Tantangan mahasiswa hari ini bukan hanya berasal dari luar kampus, tetapi juga dari kemungkinan tumbuhnya sikap apatis terhadap persoalan bersama. Ketika mahasiswa hanya memikirkan kepentingan individual, semangat kolektif warisan Sumpah Pemuda dapat kehilangan maknanya.
Dalam konteks Ngada, solidaritas dapat diwujudkan melalui dukungan terhadap kegiatan pendidikan, kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan, pelestarian budaya, dan kolaborasi lintas komunitas. Mahasiswa tidak harus menunggu menjadi pejabat, pemimpin besar, atau tokoh publik untuk memberikan manfaat. Perubahan dapat dimulai dari hal sederhana yang dilakukan secara konsisten dan bertanggung jawab.
Penutup: Jangan Hanya Mewarisi Sejarah, Lanjutkan Tanggung Jawabnya
Dalam momentum Sumpah Pemuda 2026, BEM STKIP Citra Bakti Ngada menegaskan bahwa semangat persatuan harus berjalan bersama penguatan intelektualitas, integritas, dan tanggung jawab sosial.
”Mari menjadi mahasiswa yang tidak kehilangan suara ketika persoalan membutuhkan perhatian, tidak kehilangan arah ketika menghadapi perubahan, dan tidak kehilangan akar ketika melangkah menuju masa depan.”
Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.
BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA (BEM) STKIP CITRA BAKTI NGADA
Berani berpikir. Teguh berintegritas. Berakar pada budaya. Bergerak untuk masyarakat. (*)