
Bondowoso, Obor Rakyat – Dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. H. Koesnadi Bondowoso kembali menjadi pusat implementasi pelayanan Keluarga Berencana (KB) metode kontrasepsi mantap (kontap), yakni Metode Operasi Wanita (MOW) atau tubektomi secara massal.
Guna memastikan patient safety dan kelancaran tindakan bedah minor tersebut, manajemen rumah sakit telah melakukan sterilisasi serta optimalisasi fasilitas klinis penunjang, Sabtu (20/6/2026).
Pelaksana Harian (Plh) Direktur RSUD Dr. H. Koesnadi Bondowoso, dr. Moh. Jasin, mengonfirmasi bahwa pelayanan kontrasepsi bedah ini merupakan intervensi medis rutin tahunan yang diselenggarakan melalui kolaborasi lintas sektoral, termasuk Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (Dinas Sosial P3AKB) setempat.
Pada pelaksanaan tahun ini, manajemen rumah sakit memfokuskan strategi pada penataan flow (alur) pelayanan pasien untuk mencegah terjadinya penumpukan dan menjaga physical distancing klinis.
Alur tersebut dirancang secara sekuensial mulai dari tahap registrasi dan screening awal, ruang tunggu pre-operasi, instalasi kamar bedah, hingga ruang pemulihan (recovery room) pasca-prosedur.
“Sebagai fasilitas kesehatan pelaksana, fokus utama kami adalah memastikan ketersediaan sarana yang memenuhi standar prosedur operasional. Kami memetakan alur pasien secara ketat, mulai dari penerimaan akseptor, proses intervensi di kamar operasi, hingga fase observasi pasca-anestesi,” papar dr. Moh. Jasin.
Tatalaksana Mitigasi Fasilitas Pasca-Operasi
Menyikapi tingginya animo akseptor yang berpotensi memicu lonjakan beban kapasitas (overcapacity) pada ruang pemulihan konvensional, pihak rumah sakit menerapkan manajemen mitigasi fasilitas.
Mengingat setiap akseptor membutuhkan durasi observasi klinis (monitoring vital sign) pasca-tindakan sekitar 60 menit, ruang aula rumah sakit dialihfungsikan menjadi unit perawatan pasca-operasi sementara (temporary recovery unit).
“Tantangan utama pada model pelayanan massal ini adalah kapasitas tempat tidur untuk observasi pasca-tindakan. Sebagai solusinya, kami melakukan ekspansi ruang pemulihan dengan memanfaatkan aula. Kami juga telah menyiapkan skenario ruang triase tambahan di area luar guna mengantisipasi eskalasi jumlah pasien, sehingga pemantauan kondisi hemodinamik pasien pasca-operasi tetap berjalan optimal,” urai dr. Jasin secara detail.
Sinergi Lintas Sektoral dan Proyeksi Demografis
Kelancaran mobilisasi logistik medis ini juga didukung oleh penguatan sinergi dengan unsur TNI. Personel dari Yonif Raider 514/SY dikerahkan untuk mendukung pemenuhan infrastruktur penunjang, khususnya dalam hal penyediaan hospital bed (tempat tidur pasien) tambahan selama kegiatan berlangsung.
“Kolaborasi taktis dengan Yonif Raider 514/SY dalam suplai fasilitas penunjang ini sangat krusial untuk menjaga kontinuitas pelayanan dan kenyamanan para akseptor selama fase pemulihan,” tambahnya.
Secara epidemiologi dan kependudukan, dr. Jasin berharap akselerasi program MOW ini dapat terus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya pada tahun-tahun mendatang.
Metode kontrasepsi mantap dinilai sebagai intervensi medis yang sangat efektif dalam menekan angka kelahiran (Total Fertility Rate) serta berkontribusi langsung pada penurunan angka kematian ibu dan bayi.
“Sejalan dengan arahan Wakil Bupati, program kontrasepsi mantap ini merupakan instrumen strategis dalam pengendalian penduduk dan peningkatan derajat kesehatan keluarga di Kabupaten Bondowoso. Kami memproyeksikan cakupan akseptor global dapat meningkat di tahun depan, guna mendukung akselerasi pembangunan kesehatan menuju Indonesia Emas 2045,” kunci dr. Jasin. (*)
Penulis: Latif J