
Oleh: Fricas Abdillah
Jangan Sampai Festival Meriah, Petani Tetap Resah
Ada yang menarik dari Bondowoso setiap kali kalender memasuki musim festival.
Alun-alun menjadi ramai. Panggung berdiri. Kopi diseduh. Produk lokal dipamerkan. Pelaku UMKM datang. Petani mendapat ruang. Pemerintah hadir. Masyarakat berkumpul.
Dan kemudian kita menyebutnya sebagai promosi potensi daerah. Festival Kopi Nusantara dan Tembakau memang bukan hal baru bagi Bondowoso.
Festival ke-9 pada 2026, misalnya, dirancang sebagai ruang promosi, interaksi petani dan pelaku usaha, serta mendorong hilirisasi agar nilai tambah dapat kembali kepada petani.
Kini Festival Kopi Nusantara dan Tembakau ke-9 kembali digelar.
Pertanyaannya sederhana, tetapi penting:
Apakah festival ini sekadar rutinitas tahunan atau benar-benar menjadi prioritas pembangunan ekonomi Bondowoso Pertanyaan ini bukan untuk menolak festival.
Justru sebaliknya.
Kalau kopi dan tembakau memang merupakan kekuatan ekonomi Bondowoso, maka festival seharusnya tidak berhenti sebagai pesta tahunan. Ia harus menjadi bagian dari strategi ekonomi yang terukur. Sebab festival bisa selesai dalam beberapa hari.
Tetapi kehidupan petani berlangsung sepanjang tahun.
Festival Boleh Meriah, Dampaknya Harus Lebih Meriah
Kita tidak perlu alergi terhadap festival.
Festival dapat menjadi etalase daerah. Ia bisa mempertemukan produsen dengan pasar, memperkenalkan produk lokal, membangun branding daerah, sekaligus membuka ruang bagi UMKM dan ekonomi kreatif.
Bahkan dalam perkembangan terbaru, kopi Bondowoso mulai didorong bukan hanya sebagai komoditas pertanian, tetapi sebagai identitas daerah dan bagian dari diplomasi budaya.
Itu gagasan yang baik. Tetapi promosi harus berujung pada transaksi.
Branding harus berujung pada pasar.
Pertemuan harus berujung pada kemitraan.
Dan kemitraan harus berujung pada peningkatan pendapatan masyarakat.
Kalau tidak, festival hanya akan menjadi panggung yang selesai ketika lampu dipadamkan.
Di sinilah pemerintah perlu berani mengukur.
Berapa buyer yang datang?
Berapa kontrak dagang yang lahir?
Berapa UMKM mendapatkan pasar baru?
Berapa petani memperoleh nilai tambah?
Berapa investasi masuk setelah festival?
Dan yang paling penting:
Apa yang berubah dalam kehidupan petani setelah festival selesai?
Itulah pertanyaan yang lebih penting daripada berapa banyak orang yang hadir.
Kopi Bukan Sekadar Cangkir
Bondowoso memiliki cerita panjang dengan kopi.
Kopi bukan sekadar produk pertanian. Ia sudah menjadi identitas daerah. Bahkan pemerintah sebelumnya telah mendorong konsep Bondowoso Republik Kopi dan specialty coffee sebagai bagian dari strategi meningkatkan nilai jual kopi lokal.
Namun dunia kopi hari ini tidak cukup dimenangkan dengan slogan.
Petani harus memahami kualitas.
Pasca-panen harus diperbaiki.
Produk harus memiliki standar.
Brand harus kuat.
Rantai pasok harus sehat.
Dan pasar harus diperluas.
Dalam kegiatan penguatan UMKM pada 2026, pemerintah sendiri telah mengangkat isu hilirisasi kopi, kualitas pascapanen, branding, standardisasi, hingga strategi pemasaran global.
Artinya, arah yang dibutuhkan sebenarnya sudah jelas.
Festival tinggal menjadi salah satu pintu masuk.
Bukan tujuan akhir.
Tembakau Lebih dari Sekadar Festival
Demikian pula dengan tembakau.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso pada 2026 menyebut tembakau sebagai salah satu penopang penting perekonomian masyarakat. Data yang disampaikan pemerintah menyebut sekitar 5.000 petani terlibat, dengan luas lahan tanam pada 2024 mencapai 8.424,40 hektare.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pertembakauan bukan sekadar tema festival.
Ia menyangkut kehidupan banyak keluarga.
Karena itu, yang dibutuhkan petani bukan hanya panggung untuk memperkenalkan tembakau.
Mereka membutuhkan kepastian.
Kepastian budidaya.Kepastian kualitas.,kepastian pasar,kepastian harga.
Dan terutama kepastian kebijakan.
Pada Mei 2026, petani tembakau Bondowoso bahkan menggelar rembuk untuk membahas tantangan budidaya, pemasaran, dan regulasi.
Maka festival harus mampu menjadi ruang yang lebih serius.
Bukan hanya tempat memamerkan produk, tetapi juga tempat mempertemukan kepentingan petani, pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan pasar.
Kalau festival hanya merayakan komoditas tanpa menyelesaikan persoalan komoditas, kita sedang merayakan sesuatu yang belum selesai.
Rutinitas atau Prioritas?
Di sinilah perbedaannya.
Rutinitas berarti festival digelar karena tahun lalu digelar.
Ada panggung.lomba, hiburan, stan dan seremoni. Setelah itu selesai.
Prioritas berarti festival menjadi bagian dari desain pembangunan ekonomi.
Ada target. indikator. buyer. kontrak investasi, peningkatan kualitas produk, hilirisasi, evaluasi.
Dan ada ukuran yang paling sederhana:
petani dan pelaku usaha harus mendapatkan manfaat ekonomi yang nyata.
Festival tidak harus selalu semakin besar.
Yang harus semakin besar adalah dampaknya.
Jangan sampai anggaran festival tumbuh setiap tahun, sementara persoalan petani hanya berganti tema.
DPRD Perlu Bertanya
Dalam konteks ini, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) juga tidak cukup hanya hadir dalam pembukaan atau penutupan.
DPRD perlu menggunakan fungsi pengawasannya untuk menguji apakah festival benar-benar menghasilkan manfaat sesuai dengan tujuan yang ditetapkan pemerintah.
Berapa anggaran yang dikeluarkan?
Apa target ekonominya?
Berapa transaksi yang tercipta?
Berapa pelaku UMKM yang naik kelas?
Apa hasil kerja sama dengan buyer?
Apa dampaknya terhadap petani?
Dan apakah kegiatan tersebut memberikan return ekonomi yang sepadan bagi daerah?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan berarti anti-festival.
Justru sebaliknya.
Pengawasan adalah cara memastikan festival tidak berubah menjadi sekadar rutinitas anggaran.
Kalau pemerintah yakin festival memiliki dampak besar, maka data seharusnya menjadi
sahabatnya.
Tidak perlu takut pada evaluasi.
Sebab program yang baik bukan program yang tidak pernah dikritik.
Program yang baik adalah program yang mampu menunjukkan hasil.
Dari Festival Menuju Ekosistem
Bondowoso tidak membutuhkan festival yang hanya semakin ramai.
Bondowoso membutuhkan ekosistem ekonomi yang semakin kuat.
Festival bisa menjadi pintu masuk menuju ekosistem itu.
Di sana petani bertemu buyer.
UMKM bertemu pasar.
Anak muda bertemu industri kreatif.
Produk lokal bertemu konsumen.
Pemerintah bertemu pelaku usaha.
Dan semuanya bertemu dalam satu kepentingan:
meningkatkan nilai tambah Bondowoso.
Karena itu, ukuran keberhasilan festival tidak semestinya berhenti pada jumlah pengunjung.
Ukuran yang lebih penting adalah:
berapa banyak hubungan ekonomi baru yang tercipta setelah festival berakhir.
Kalau festival mampu membuat kopi Bondowoso masuk pasar baru, itu keberhasilan.
Kalau mampu meningkatkan nilai jual hasil petani, itu keberhasilan.
Kalau mampu membuka lapangan kerja baru, itu keberhasilan.
Kalau mampu membuat UMKM naik kelas, itu keberhasilan.
Tetapi jika setelah panggung dibongkar semuanya kembali seperti semula, maka kita harus berani bertanya:
Apa sebenarnya yang kita rayakan?
Prioritas Bukan Berarti Tanpa Festival
Festival tetap penting.
Tetapi festival harus ditempatkan pada tempat yang tepat.
Ia bukan pembangunan itu sendiri.
Ia adalah instrumen pembangunan.
Panggung bukan tujuan.
Pasar adalah tujuan.
Seremoni bukan tujuan.
Kesejahteraan adalah tujuan.
Branding bukan tujuan.
Nilai tambah adalah tujuan.
Dan festival bukanlah akhir dari perjalanan.
Ia seharusnya menjadi awal dari transaksi, investasi, inovasi, kolaborasi, dan peningkatan kesejahteraan.
Maka, ketika Festival Kopi Nusantara dan Tembakau kembali digelar di Bondowoso, kita boleh menikmati kemeriahannya.
Kita boleh bangga.
Kita boleh merayakan kopi dan tembakau sebagai bagian dari identitas daerah.
Tetapi setelah musik berhenti dan lampu panggung dimatikan, satu pertanyaan harus tetap menyala:
Apakah festival ini akan mengubah nasib petani?
Jika jawabannya iya, maka festival bukan sekadar rutinitas.
Ia adalah prioritas.
Tetapi jika festival hanya hadir setiap tahun, menghabiskan anggaran, menghadirkan keramaian, lalu menghilang tanpa meninggalkan ekosistem ekonomi yang lebih kuat, maka kita perlu jujur mengatakan:
Itu hanya rutinitas yang diberi nama pembangunan.
Bondowoso tidak kekurangan festival.
Yang dibutuhkan adalah festival yang menghasilkan masa depan.
Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang petani bukan seberapa megah panggung yang pernah berdiri.
Mereka akan mengingat satu hal:
apakah setelah festival, harga hasil kerja mereka menjadi lebih baik dan kehidupan mereka menjadi lebih sejahtera. (*)