
Diduga Terpeleset Usai Konsumsi Tuak
Simalungun, Obor Rakyat – Pagi itu, Sabtu (18/4/2026), suasana di Jalan Kemiri I, Nagori Lestari Indah, tak seperti biasanya. Teriakan minta tolong memecah keheningan.
Warga berbondong-bondong mendekat ke sebuah parit pembuangan di pinggir jalan. Di sana, tubuh seorang pria tergeletak tanpa tanda kehidupan.
Ia adalah Jon Roy Purba, 51 tahun.
Tubuhnya ditemukan pertama kali oleh seorang pemuda, tetangganya sendiri, sekitar pukul 06.00 WIB. Dalam hitungan menit, lokasi berubah menjadi pusat perhatian warga.
Keluarga pun segera datang. Sang adik, yang mendengar keributan, hanya bisa memastikan satu hal pahit: nyawa abangnya telah tiada.
Jenazah kemudian diangkat dari parit dan dibawa masuk ke rumah.
Respons Cepat, Dugaan Sementara
Laporan masuk ke aparat sekitar pukul 07.00 WIB. Polisi bergerak cepat. Tim dari Polsek Gunung Malela tiba di lokasi dan langsung melakukan pemeriksaan awal, dibantu tenaga medis setempat. Hasilnya? Tidak ada tanda kekerasan.
Dari keterangan keluarga dan saksi, sebuah dugaan mulai terbentuk. Malam sebelumnya, korban diketahui mengonsumsi tuak. Ia diduga berjalan kaki pulang sebelum akhirnya terpeleset dan jatuh ke dalam parit.
Kondisi parit yang terbuka dan minim penerangan memperkuat kemungkinan itu.
Namun polisi menegaskan, penyelidikan tetap berjalan sesuai prosedur.
Pilihan Keluarga dan Akhir Penanganan
Dalam prosesnya, pihak keluarga memilih untuk tidak melanjutkan pemeriksaan medis lanjutan seperti autopsi atau visum. Mereka menerima kejadian ini sebagai musibah.
Keputusan itu menjadi dasar bagi polisi untuk menyerahkan jenazah sepenuhnya kepada keluarga.
Tak ada barang bukti mencurigakan. Tak ada kerugian materi. Kasus ini pun untuk sementara dikategorikan sebagai non-pidana.
Lebih dari Sekadar Peristiwa
Kematian Jon Roy Purba mungkin akan tercatat sebagai kecelakaan. Namun bagi warga sekitar, peristiwa ini meninggalkan jejak yang lebih dalam—tentang risiko yang sering dianggap sepele.
Parit di pinggir jalan, konsumsi alkohol tradisional, dan perjalanan pulang yang tampak biasa—semuanya berpadu menjadi akhir yang tak terduga.
Sunyi di Jalan Kemiri pagi itu menyisakan satu pesan sederhana: bahaya bisa datang dari hal-hal yang paling dekat dan paling sering kita abaikan. (*)
Penulis: S Hadi Purba
Editor: Redaksi