
Manggarai, Obor Rakyat – Kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Loce, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menghadirkan sejumlah figur yang menawarkan gagasan pembangunan bagi masa depan desa. Salah satunya adalah Wilibrodus Engeltus Rian yang menyatakan kesiapannya maju sebagai calon kepala desa dengan membawa visi pembangunan berbasis partisipasi masyarakat, penguatan ekonomi lokal, dan pelestarian budaya.
Mengusung slogan “Muda Berkarya, Desa Berdaya”, Wilibrodus menempatkan pemberdayaan masyarakat sebagai fondasi utama pembangunan Desa Loce. Baginya, kemajuan desa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik semata, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk tumbuh bersama melalui ekonomi yang kuat, pelayanan publik yang baik, dan ruang partisipasi yang terbuka.
“Desa Loce memiliki potensi besar untuk berkembang. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi, keterbukaan, dan komitmen bersama agar setiap potensi yang ada dapat memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat,” ujar Wilibrodus, Senin (1/6/2026).
Pertanian dan Peternakan Jadi Prioritas
Sebagai wilayah yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan peternakan, Wilibrodus menilai kedua sektor tersebut perlu mendapat perhatian serius.
Ia menawarkan sejumlah langkah strategis, mulai dari pendampingan kelompok tani dan peternak, peningkatan kapasitas produksi, hingga perluasan akses pasar bagi hasil pertanian dan peternakan masyarakat.
Menurutnya, pembangunan ekonomi desa harus dimulai dari sektor yang paling dekat dengan kehidupan warga. Dengan dukungan yang tepat, petani dan peternak dapat meningkatkan pendapatan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
Wisata Budaya dan Songke Loce sebagai Kekuatan Baru Ekonomi Desa
Selain sektor ekonomi dasar, Wilibrodus melihat peluang besar pada pengembangan wisata budaya berbasis kearifan lokal.
Ia menilai sejumlah lokasi seperti Natas Gendang, Niang Manga, Wae Petus, dan Watu Empo memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya yang mampu menarik kunjungan wisatawan sekaligus memperkenalkan identitas Desa Loce kepada publik yang lebih luas.
Menurutnya, pengembangan sektor wisata tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kerja sama antara pemerintah desa, lembaga adat, pelaku UMKM, komunitas pemuda, Dinas Pariwisata, dan seluruh pemangku kepentingan.
Di sisi lain, Songke Loce yang telah dikenal sebagai produk budaya khas masyarakat setempat juga dinilai memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan sebagai produk unggulan UMKM.
“Budaya bukan hanya warisan yang harus dijaga, tetapi juga dapat menjadi sumber penggerak ekonomi masyarakat jika dikelola secara baik dan berkelanjutan,” katanya.
Anak Muda Harus Menjadi Bagian dari Perubahan
Dalam visi pembangunan yang diusungnya, Wilibrodus memberikan perhatian khusus terhadap keterlibatan generasi muda.
Ia menilai anak muda desa memiliki kreativitas, semangat, dan kemampuan beradaptasi yang dapat menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan pembangunan di masa depan.
Karena itu, ia mendorong agar pemerintah desa memberikan ruang yang lebih luas bagi kaum muda untuk berinovasi, berwirausaha, serta terlibat dalam berbagai program pembangunan.
“Banyak ide dan energi positif yang dimiliki generasi muda. Mereka harus diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari solusi dan kemajuan desa,” ujarnya.
Pengalaman Demokrasi dan Komitmen pada Pemerintahan Terbuka
Wilibrodus bukan nama baru dalam penyelenggaraan demokrasi dan kepemiluan di Manggarai.
Ia pernah menjadi Anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) Desa Loce pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT periode 2017–2018. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Reok Barat pada Pilkada 2020.
Pengalamannya berlanjut sebagai Anggota Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) Reok Barat pada Pemilihan Serentak 2024, sebelum akhirnya menjabat sebagai Ketua Panwascam Reok Barat pada Pilkada 2025.
Berbekal pengalaman tersebut, Wilibrodus mengaku memahami pentingnya tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan terbuka terhadap aspirasi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa kritik tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian penting dari proses pembangunan desa.
“Saya berkomitmen membuka ruang diskusi seluas-luasnya bagi masyarakat. Kritik dan saran bukan ancaman, tetapi energi perubahan yang dapat membantu pemerintah desa bekerja lebih baik untuk masyarakat,” tegasnya.
Pilkades Harus Menjadi Ruang Persatuan
Di tengah dinamika politik yang mulai berkembang menjelang Pilkades Loce, Wilibrodus mengingatkan pentingnya menjaga persatuan masyarakat.
Menurutnya, perbedaan pilihan politik merupakan hal yang wajar dalam demokrasi.
Namun, proses tersebut tidak boleh mengorbankan kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat desa.
“Pilkades adalah sarana demokrasi untuk memilih pemimpin terbaik. Setelah proses itu selesai, kita tetap satu keluarga besar yang memiliki tanggung jawab bersama membangun Desa Loce,” pungkasnya.
Dengan mengusung semangat kolaborasi, pelestarian budaya, dan penguatan ekonomi masyarakat, Wilibrodus berharap Pilkades Loce dapat menjadi momentum lahirnya gagasan-gagasan baru yang mampu membawa desa berkembang tanpa meninggalkan akar tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur. (*)
Penulis: Susilo Hermanus
Editor: Redaksi