Opini  

SEJARAH HMI DAN NU: Dua Tradisi yang Berbeda, Satu Jalan Pengabdian

Sejarah Indonesia tidak pernah hanya ditulis oleh pemerintah, tentara, atau para tokoh besar. Di balik perjalanan bangsa ini, ada organisasi kemasyarakatan dan mahasiswa yang ikut membentuk wajah intelektual, sosial, dan politik Indonesia. Dua di antaranya adalah Nahdlatul Ulama (NU) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
HMI DAN NU: Dua Tradisi yang Berbeda, Satu Jalan Pengabdian. (Ilustrasi)
Oleh: Fricas Abdillah

Sejarah Indonesia tidak pernah hanya ditulis oleh pemerintah, tentara, atau para tokoh besar. Di balik perjalanan bangsa ini, ada organisasi kemasyarakatan dan mahasiswa yang ikut membentuk wajah intelektual, sosial, dan politik Indonesia. Dua di antaranya adalah Nahdlatul Ulama (NU) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Keduanya lahir dari rahim zaman yang berbeda dan memiliki karakter perjuangan yang tidak sepenuhnya sama. NU tumbuh dari tradisi pesantren, ulama, dan masyarakat akar rumput. HMI lahir dari lingkungan perguruan tinggi dan pergulatan intelektual mahasiswa Muslim.

Namun, jika sejarah keduanya dibaca lebih dekat, terdapat satu benang merah yang kuat: keislaman dan keindonesiaan.

NU: Tradisi Pesantren yang Menjadi Gerakan Kebangsaan

NU didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya oleh para ulama pesantren, di antaranya KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan sejumlah ulama lainnya.

Pada awalnya, NU hadir untuk menjaga dan mengembangkan tradisi keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus memperkuat kehidupan sosial masyarakat pesantren. Tetapi perjalanan sejarah membuat NU berkembang jauh melampaui persoalan keagamaan.

Ketika Indonesia memasuki masa perjuangan kemerdekaan, ulama dan warga NU mengambil bagian penting dalam mempertahankan republik.

Salah satu momentum yang paling dikenang adalah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, yang menyerukan kewajiban mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia. Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu landasan historis bagi penetapan Hari Santri Nasional.

Dengan demikian, sejak awal sejarahnya, NU tidak dapat dilepaskan dari pergulatan antara agama, masyarakat, dan negara.

HMI: Mahasiswa, Islam, dan Indonesia

Dua puluh tahun setelah NU berdiri, lahirlah HMI.

HMI didirikan pada 5 Februari 1947 di Yogyakarta oleh Lafran Pane bersama mahasiswa-mahasiswa Sekolah Tinggi Islam, yang kemudian menjadi bagian dari Universitas Islam Indonesia.

Kelahiran HMI berlangsung dalam situasi Indonesia yang masih sangat muda. Negara baru saja merdeka, tetapi menghadapi berbagai persoalan: mempertahankan kemerdekaan, membangun pendidikan, menghadapi perubahan politik, dan menentukan arah kehidupan umat Islam dalam negara baru.

HMI kemudian membawa gagasan bahwa mahasiswa Muslim tidak cukup hanya memiliki kesalehan pribadi. Mahasiswa juga harus memiliki intelektualitas, tanggung jawab sosial, dan kesadaran kebangsaan.

Baca Juga :  Dari MBG hingga Daerah: Korupsi Terus Menertawakan Pancasila

Perjalanan HMI melahirkan banyak kader yang kemudian berkiprah di berbagai bidang: akademisi, birokrasi, politisi, aktivis, pengusaha, intelektual, hingga tokoh masyarakat.

Pertemuan Dua Tradisi

Di sinilah sejarah HMI dan NU menjadi menarik.

NU mempunyai kekuatan pada tradisi keulamaan, pesantren, dan basis masyarakat. HMI mempunyai kekuatan pada tradisi intelektual, kemahasiswaan, dan kaderisasi.

Yang satu berakar kuat di pesantren dan masyarakat akar rumput. Yang lain tumbuh dari ruang kelas, kampus, diskusi, dan organisasi mahasiswa.

Tetapi keduanya bertemu dalam satu persoalan besar: bagaimana menjadikan Islam sebagai sumber nilai untuk membangun Indonesia tanpa mempertentangkan keislaman dengan kebangsaan.

Dalam perjalanan sejarah, hubungan antara kader NU dan HMI tidak selalu berada dalam suasana yang sama. Ada masa ketika mereka berinteraksi erat, ada pula perbedaan pandangan dalam persoalan politik dan kebangsaan.

Perbedaan tersebut sebenarnya merupakan bagian wajar dari sejarah organisasi.

Sebab NU dan HMI bukan organisasi yang lahir untuk menjadi kelompok yang selalu sepakat dengan siapa pun. Keduanya memiliki tradisi berpikir dan mekanisme kaderisasi masing-masing.

Dari Perbedaan Menuju Dialog

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa hubungan organisasi Islam tidak selalu harus dibangun melalui keseragaman.

Justru kekuatan terbesar terletak pada kemampuan untuk berbeda tanpa kehilangan persaudaraan.

NU dengan tradisi pesantrennya memiliki pengalaman panjang dalam mengelola masyarakat yang beragam. HMI dengan tradisi intelektualnya memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan pemikiran dan diskursus kebangsaan.

Ketika keduanya bertemu dalam ruang sosial dan kebangsaan, yang muncul seharusnya bukan pertarungan identitas, melainkan pertukaran gagasan.

Karena Indonesia tidak membutuhkan organisasi Islam yang saling meniadakan. Indonesia membutuhkan organisasi Islam yang mampu menghadirkan akhlak, ilmu pengetahuan, demokrasi, keadilan, dan keberpihakan kepada masyarakat.

HMI dan NU Hari Ini

Hari ini, tantangan HMI dan NU jauh berbeda dengan masa ketika keduanya pertama kali lahir.

Dulu tantangannya adalah kolonialisme, kemerdekaan, dan mempertahankan republik.

Sekarang tantangannya adalah bagaimana menghadapi ketimpangan sosial, korupsi, krisis integritas, perkembangan teknologi, perubahan ekonomi, politik identitas, serta kualitas demokrasi.

Baca Juga :  Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdeka: Memperjuangkan Keadilan dari Ruang Kelas

Karena itu, relevansi HMI dan NU tidak cukup diukur dari seberapa besar jumlah kader atau seberapa kuat pengaruh politiknya.

Ukuran yang lebih penting adalah: seberapa besar kader-kadernya mampu memberikan manfaat bagi bangsa.

NU memiliki pesantren sebagai salah satu kekuatan pendidikan masyarakat. HMI memiliki tradisi intelektual dan kaderisasi mahasiswa. Jika dua tradisi ini saling menguatkan, maka lahirlah generasi yang tidak hanya memahami agama, tetapi juga memahami negara; tidak hanya pandai berbicara, tetapi mampu bekerja; tidak hanya kritis terhadap kekuasaan, tetapi juga memiliki integritas ketika mendapatkan kekuasaan.

Sejarah yang Tidak Boleh Berhenti Menjadi Kenangan

Sejarah HMI dan NU bukan sekadar catatan tentang tahun berdiri, tokoh pendiri, atau peristiwa politik masa lalu.

Sejarah adalah cermin.

NU mengajarkan bahwa agama harus mempunyai akar sosial yang kuat. HMI mengajarkan bahwa keislaman harus berjalan bersama ilmu dan intelektualitas.

Keduanya mempunyai warisan besar yang sama-sama harus dijaga: Islam yang berilmu, Islam yang berakhlak, dan Islam yang mencintai Indonesia.

Maka, jika hari ini terjadi perbedaan antara warga NU dan kader HMI, perbedaan itu tidak semestinya berubah menjadi permusuhan.

Sebab sejarah telah menunjukkan bahwa Indonesia dibangun bukan oleh mereka yang selalu sama pendapat, melainkan oleh mereka yang mampu berbeda, berdialog, lalu menemukan titik temu untuk kepentingan bangsa.

Pada akhirnya, HMI dan NU bukan dua sejarah yang harus dipertentangkan.

Keduanya adalah bagian dari mozaik panjang perjalanan umat Islam Indonesia dalam mencari bentuk terbaik pengabdian kepada agama, masyarakat, dan negara.

Sebab organisasi boleh berbeda jalan, tradisi boleh berbeda warna, tetapi tujuan akhirnya seharusnya tetap sama: menghadirkan kemaslahatan bagi Indonesia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *