
Jember, Obor Rakyat – Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali menembus level Rp18.056 per dolar Amerika Serikat, Bupati Jember, Muhammad Fawait, mengajak masyarakat untuk semakin mencintai dan memaksimalkan penggunaan produk dalam negeri sebagai langkah memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Ajakan tersebut disampaikan menyusul melemahnya kurs rupiah pada perdagangan Jumat (5/6/2026) yang dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat akibat meningkatnya biaya impor bahan baku dan barang konsumsi.
Menurut Fawait, pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada sektor perdagangan, tetapi juga berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, hingga layanan kesehatan yang berkaitan dengan produk atau bahan impor.
“Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan baku maupun barang konsumsi ikut meningkat. Dampaknya dapat memengaruhi harga kebutuhan pokok, transportasi, hingga layanan kesehatan,” ujar Fawait, Jumat (5/6/2026).
Momentum Perkuat Produk Dalam Negeri
Fawait menilai kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian harus dijadikan momentum untuk memperkuat penggunaan produk lokal dan mengurangi ketergantungan terhadap barang impor.
Menurutnya, meningkatnya konsumsi produk dalam negeri akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional, mulai dari menjaga perputaran uang di dalam negeri, mendukung pelaku usaha lokal, hingga memperkuat daya tahan ekonomi terhadap gejolak eksternal.
“Jika masyarakat semakin banyak menggunakan produk lokal, maka ekonomi domestik akan lebih mandiri dan lebih tahan menghadapi guncangan ekonomi global,” katanya.
Ia menegaskan bahwa penguatan sektor produksi dan konsumsi dalam negeri merupakan salah satu strategi penting untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan pasar global dan fluktuasi nilai tukar mata uang.
Optimistis Indonesia Lebih Kuat dari Krisis 1998
Politikus Partai Gerindra yang juga menjabat sebagai Presiden Laskar Sholawat Nusantara (LSN) tersebut optimistis Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang jauh lebih kuat dibandingkan saat menghadapi krisis moneter tahun 1998.
Menurut Fawait, berbagai indikator ekonomi dan pengalaman pemerintah dalam menghadapi tantangan global menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Ini saatnya masyarakat lebih memaksimalkan produk dalam negeri tanpa sepenuhnya bergantung pada barang impor. Saya optimistis Indonesia memiliki pondasi yang lebih kuat dibandingkan tahun 1998 lalu,” tegasnya.
Rupiah Dibuka Melemah
Berdasarkan data perdagangan pada Jumat (5/6/2026), nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp18.056 per dolar AS, turun 7 poin atau 0,04 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan mata uang Garuda tersebut menjadi perhatian pelaku ekonomi karena berpotensi meningkatkan biaya impor, menekan sektor industri yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri, serta memengaruhi laju inflasi di tingkat konsumen.
Pemerintah daerah pun berharap masyarakat dapat berperan aktif dalam memperkuat ekonomi nasional dengan meningkatkan penggunaan produk dalam negeri sebagai bentuk dukungan terhadap industri lokal dan kemandirian ekonomi bangsa. (*)
Penulis: Maria Agustina
Editor: Redaksi