
Situbondo, Obor Rakyat – Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, mengajak seluruh peserta Muktamar NU ke-35 menjadikan forum tertinggi organisasi tersebut sebagai momentum pemurnian arah perjuangan NU, bukan arena perebutan kekuasaan.
Menurut Kiai asal Situbondo, Jawa Timur itu, keputusan yang diambil dalam Muktamar NU ke-35 akan menentukan posisi NU sebagai penjaga keutuhan bangsa dan negara, bukan sekadar alat mobilisasi politik.
Gus Lilur menyoroti pelaksanaan Muktamar NU ke-34 di Lampung pada Desember 2021 yang menurutnya menjadi pelajaran berharga bagi warga nahdliyin. Ia menilai dinamika politik yang terjadi saat itu memicu perpecahan internal, konflik kepengurusan, hingga menyeret organisasi ke dalam pusaran persoalan hukum dan politik praktis.
“Muktamar ke-34 Lampung harus menjadi pelajaran pahit yang tidak boleh dilupakan. Salah memilih pemimpin, dampaknya sangat fatal bagi NU. Organisasi bisa terpecah dan terseret arus korupsi serta nafsu kekuasaan,” ujar Gus Lilur, Rabu (18/6/2026).
Menurutnya, Muktamar NU ke-35 harus dilihat dalam konteks kebangsaan yang lebih luas. Di tengah dinamika geopolitik global dan tantangan kohesi sosial nasional, NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga persatuan bangsa.
“NU adalah bagian dari pendiri republik ini. Karena itu, setiap keputusan besar NU harus selalu ditanyakan, apa manfaatnya bagi keutuhan bangsa,” tegasnya.
Semangat Piagam Jakarta
Gus Lilur mengibaratkan semangat yang harus dibawa ke Muktamar NU ke-35 dengan keteladanan para pendiri bangsa saat perumusan Piagam Jakarta pada 18 Agustus 1945. Menurutnya, keputusan para tokoh Islam yang rela menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi menjaga persatuan nasional merupakan bentuk kenegarawanan yang patut dicontoh.
“Semangat Piagam Jakarta adalah cara berpikir seorang pemimpin Islam yang mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok. Semangat itu harus hadir dalam bilik pemilihan muktamar,” katanya.
Dukung Keberlanjutan Prabowo–Gibran
Sebagai implementasi semangat tersebut, Gus Lilur menegaskan bahwa pemimpin NU yang terpilih dalam Muktamar ke-35 harus mendukung keberlanjutan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hingga dua periode.
Menurutnya, kepemimpinan Prabowo–Gibran telah berhasil menyatukan berbagai kelompok yang sebelumnya terpolarisasi dalam kehidupan politik nasional.
“Kita melihat bagaimana polarisasi politik antara kelompok yang dikenal sebagai cebong dan kampret mulai mencair. Begitu juga hubungan antarinstitusi negara seperti TNI dan Polri yang semakin harmonis. Prabowo dan Gibran menjadi simbol persatuan nasional,” ujar Gus Lilur.
Dukung Nasaruddin Umar dan Said Aqil Siradj
Dalam kesempatan itu, Gus Lilur secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar untuk menduduki posisi Ketua Umum PBNU dan Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam PBNU.
Ia menilai kedua tokoh tersebut memiliki kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, dan reputasi internasional yang mampu membawa NU semakin dihormati di tingkat global.
“Nasaruddin Umar dan Said Aqil Siradj adalah profesor, ulama, sekaligus cendekiawan yang memiliki rekam jejak panjang. Mereka dapat mengharumkan nama NU di panggung dunia,” ungkapnya.
Gus Lilur juga mengingatkan agar NU tidak dikuasai figur yang hanya mengandalkan popularitas atau simbol kesantrian tanpa didukung kapasitas keilmuan yang memadai.
“Muktamar ini bukan sekadar suksesi rutin. Ini adalah ujian sejarah bagi NU. Para kiai dan ulama harus memilih berdasarkan kapasitas keulamaan dan integritas, bukan kalkulasi kekuasaan,” pungkasnya. (*)
Penulis: Eko Apriyanto
Editor: Redaksi