Ketegangan Polri-Kejagung Dinilai Bukan Perang Institusi, Melainkan Ulah Oknum Gagal Koordinasi

Situbondo, Obor Rakyat – Isu liar mengenai adanya "perang" antara dua institusi penegak hukum besar di Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Kejaksaan Agung (Kejagung), belakangan ini menyita perhatian publik.
Buku Prabowo untuk Indonesia Raya. (Fot Ist)

Situbondo, Obor Rakyat – Isu liar mengenai adanya “perang” antara dua institusi penegak hukum besar di Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Kejaksaan Agung (Kejagung), belakangan ini menyita perhatian publik.

Namun, kabar tersebut langsung ditepis dan diluruskan oleh penulis buku Prabowo untuk Indonesia Raya, HRM. Khalilur R Ab. S.

​Menurut Khalilur, situasi yang terjadi bukanlah konflik atau perang antar-institusi secara kelembagaan, melainkan akibat dari tindakan segelintir oknum yang dinilai kurang mawas diri dan gagal membangun koordinasi yang baik.

​Dipicu Salah Momentum dan “Hadiah Hina” di Hari Bhayangkara

​Khalilur menyoroti bahwa ketegangan ini dipicu oleh pemilihan momentum yang tidak tepat oleh pihak Jampidsus Kejaksaan Agung.

Tepat pada perayaan Hari Bhayangkara yang digelar megah dan dihadiri oleh jajaran petinggi negara, pihak Jampidsus merilis penangkapan serta penahanan seorang Perwira Tinggi Polri terkait kasus MBG pada petang harinya.

​”Bukan karena Polri tidak terima perwiranya ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Bukan itu,” tegas Khalilur dalam keterangannya.

Baca Juga :  Akselerasi Reformasi dan Transformasi Polri, Wakapolri Terima Penghargaan Visioner dari Unissula

​”Polri merasa dinista karena penangkapan itu seolah sengaja dipaskan dengan Hari Bhayangkara. Ini seperti hadiah hinaan buat hari jadi mereka.”

​Ia menambahkan bahwa peristiwa ini harus menjadi pembelajaran penting bagi semua pihak agar tidak bersikap jumawa atau merasa paling hebat, terutama dalam hubungan antar-lembaga yang seharusnya saling bersinergi demi kejayaan bangsa.

​Ujian bagi Presiden untuk Menyatukan Para Pembantu Negara

​Menyikapi riak-riak di tubuh penegak hukum ini, Khalilur menilai situasi tersebut sebagai ujian kecil bagi Presiden RI.

Kepala Negara diharapkan dapat bergerak cepat untuk merukunkan kembali para pembantunya agar fokus “berpadu, bukan beradu”.

​Meskipun penuntasan kasus korupsi yang menjerat petinggi tetap harus berjalan, keharmonisan dan sinergi antara Kejaksaan dan Polri jauh lebih krusial demi pembangunan bangsa ke depan.

​”Selamat bekerja Bapak Presiden RI. Saya percaya Anda Presiden Indonesia Raya,” pungkasnya dengan seruan komitmen pada Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. (*)


Sumber: HRM. Khalilur R Ab. S.
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *