Lumpuh Pascagempa, SMAN 2 Langke Rembong Sulap Bambu dan Terpal Jadi Kelas Darurat

​Manggarai, Obor Rakyat — Dampak gempa bumi yang melanda wilayah Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15–19 Agustus lalu melumpuhkan sejumlah fasilitas pendidikan, termasuk SMA Negeri 2 Langke Rembong.
Pascagempa, SMAN 2 Langke Rembong, sulap bambu dan terpal jadi kelas D darurat.

​Manggarai, Obor Rakyat — Dampak gempa bumi yang melanda wilayah Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15–19 Agustus lalu melumpuhkan sejumlah fasilitas pendidikan, termasuk SMA Negeri 2 Langke Rembong.

Sebanyak delapan ruang kelas di sekolah tersebut mengalami rusak berat dan tidak lagi aman digunakan untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

​Secara keseluruhan, tercatat 20 ruang kelas terdampak kerusakan. Dari jumlah tersebut, delapan unit di antaranya dikategorikan rusak parah sehingga harus dibongkar total dan dibangun kembali dari awal, sementara selebihnya membutuhkan rehabilitasi ringan.

​Merespons kondisi tersebut, para guru bersama Kepala Sekolah SMAN 2 Langke Rembong bergerak cepat dengan bergotong royong mendirikan ruang kelas darurat berbahan bambu dan terpal di halaman sekolah.

​Kepala SMAN 2 Langke Rembong, Valentinus Vitalis Jebagu, menyatakan bahwa langkah ini diambil agar hak belajar para siswa tidak terhenti akibat bencana.

​”Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi saat anak-anak mulai mengikuti KBM. Kita sudah menyiapkan ruang kelas meskipun sederhana. Ruang kelas yang selama ini digunakan sudah mengalami kerusakan berat dan tidak bisa digunakan kembali,” ujar Valentinus, Jumat (21/8/2026).

Baca Juga :  Aksi Heroik Anggota Brimob NTT: Selamatkan Warga Sakit dan Ibu Hamil saat Gempa Manggarai Timur

​Ia turut memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi para tenaga pengajar yang secara swadaya membangun fasilitas sementara tersebut demi menyambut kembalinya para siswa ke sekolah.

​”Semangat ini merupakan bukti cinta dan kepedulian para guru kepada anak-anak. Kita ingin memastikan anak-anak tetap bisa melaksanakan KBM nanti, meskipun untuk sementara harus belajar di bawah tenda dan ruang sederhana,” tambahnya.

​Pihak sekolah berharap ruang kelas darurat ini dapat menopang proses pembelajaran jangka pendek, seraya menanti langkah perbaikan dan pembangunan kembali infrastruktur sekolah dari pihak terkait. (*)


Penulis: Susilo Hermanus
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *