
Bondowoso, Obor Rakyat — Kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Blawan di Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso, yang dikelola oleh PT Medco Cahaya Geothermal (MCG) entitas anak dari Medco Power Indonesia, seharusnya menjadi pinnacle atau tonggak penting transisi energi terbarukan di Jawa Timur.
Diresmikan pada Juni 2025 sebagai fasilitas geotermal perdana di kawasan tersebut, proyek bernilai strategis dengan potensi daya mencapai 110 Mega Watt (MW) ini diproyeksikan sebagai salah satu pilar penopang keandalan sistem interkoneksi ketenagalistrikan Jawa–Bali.
Namun, di balik narasi megah transisi energi bersih dan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp1,3 miliar per tahun, sebagaimana dikonfirmasi oleh Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bondowoso, Slamet Yantoko menyeruak diskursus fundamental mengenai distributive justice (keadilan distributif) dan dampak sosial-ekologis (socio-ecological impact) bagi komunitas lokal.
Paradox of Plenty di Lingkar Operasional
Eksploitasi sumber daya energi terbarukan bernilai investasi tinggi ini memperlihatkan fenomena paradox of plenty di tingkat lokal. Muncul pertanyaan kritis mengenai sejauh mana artikulasi manfaat ekonomi dari pemanfaatan komoditas strategis ini terdistribusi secara inklusif kepada masyarakat terdampak langsung di tapak proyek.
Hingga kini, belum terbangun kepastian regulasi maupun public transparency mengenai skema afirmasi akses energi khusus, semisal mekanisme substitusi atau kompensasi daya, guna memitigasi eksternalitas negatif dan pergeseran struktur sosio-ekonomi warga setempat.
Di samping itu, efektivitas implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR) yang berorientasi pada pemberdayaan partisipatif dan berkelanjutan masih menyisakan ruang perdebatan di ranah publik.
”Praktik korporasi di sektor energi terbarukan tidak boleh hanya berhenti pada penyetoran pajak ke kas daerah atau sekadar pemenuhan formalitas administratif,” ujar S, pengamat kebijakan publik daerah, dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
“Keberlanjutan proyek geotermal diuji dari sejauh mana kehadiran korporasi mampu mengangkat taraf hidup warga terdampak secara nyata, bukan sekadar menjadikan mereka penonton di tengah gelombang industrialisasi energi.”
Value Creation dan Akuntabilitas Korporasi
Meski kontribusi pajak daerah senilai Rp1,3 miliar per tahun memberikan injeksi fiskal bagi kas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso, kalkulasi value creation tersebut dinilai belum seimbang apabila dikonfrontasikan dengan skala eksploitasi potensi geotermal 110 MW serta kalkulasi risiko ekologis yang ditanggung kawasan Ijen dan sekitarnya.
Guna mewujudkan tata kelola industri ekstraktif yang akuntabel, terdapat tiga aspek mendesak yang membutuhkan transparansi publik:
- Skema Kompensasi dan Proteksi Risiko: Kepastian regulasi yang memberikan jaminan keproteksian dan afirmatif bagi warga dari potensi gangguan operasional maupun risiko penurunan kualitas lingkungan.
- Transparansi dan Partisipasi CSR: Rincian alokasi, indikator kinerja utama (KPI), serta derajat partisipasi masyarakat lokal dalam formulasi program pemberdayaan sosial.
- Audit Sosio-Ekologis Independen: Evaluasi obyektif dan independen mengenai dampak komprehensif operasional PLTP Blawan terhadap ekosistem hayati serta keberlanjutan mata pencaharian warga di lintasan wilayah Ijen, Situbondo, dan Banyuwangi.
Ruang Hak Jawab dan Klarifikasi Imbang
Sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik serta amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, redaksi menyediakan ruang seluas-luasnya bagi manajemen PT Medco Cahaya Geothermal (MCG) dan Medco Power Indonesia untuk menyampaikan tanggapan, klarifikasi, dan penjelasan resmi.
Klarifikasi komprehensif dari pihak korporasi sangat dinantikan untuk menjelaskan reorientasi kebijakan CSR, ketersediaan skema imbal-swadaya/kompensasi energi bagi komunitas lingkar tambang, serta komitmen perusahaan dalam mempreservasi keseimbangan antara profitabilitas bisnis, kontribusi fiskal daerah, dan tatanan keadilan sosial masyarakat setempat. (*)
Penulis: Latif J
Editor: Redaksi