
Manggarai, Obor Rakyat — Kecewa lantaran akses jalan yang tak kunjung mendapat penanganan dari pemerintah daerah, warga Kampung Lelit, Desa Persiapan Lereng, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) memilih mengambil langkah mandiri.
Secara bergotong royong, warga menambal kerusakan Jalan Reda–Lelit menggunakan material semen dan pasir yang dibeli dari hasil swadaya dan patungan antarwarga, Jumat (25/9/2026).
Salah satu inisiator aksi, Ilan Magang, menegaskan bahwa langkah ini diambil semata-mata atas dasar kebutuhan mendesak dan kesadaran bersama agar akses transportasi warga tidak semakin terisolasi.
”Perbaikan ini murni lahir dari kesadaran masyarakat. Kami bahu-membahu memberikan sumbangan sesuai kemampuan untuk membeli semen dan pasir. Kami tidak ingin hanya diam menanti,” ujar Ilan saat ditemui di lokasi perbaikan.
Aspirasi Berulang di Meja DPRD
Kondisi Jalan Reda–Lelit sejatinya bukan persoalan baru. Menurut warga, usulan perbaikan jalan ini telah berulang kali disuarakan dalam berbagai agenda reses Anggota DPRD Kabupaten Manggarai dari daerah pemilihan (Dapil) Satarmese.
Menanggapi keluhan tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Manggarai dari Fraksi PKB, Agustinus Nancung, menyatakan bahwa perbaikan Jalan Reda–Lelit dianggarkan dan dijadwalkan untuk dikerjakan pada tahun anggaran ini.
Namun, nada berbeda disampaikan oleh Anggota DPRD dari Fraksi NasDem, Adrianus Nanggur. Ia menyebutkan bahwa keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi daerah menjadi salah satu kendala utama yang menghambat percepatan pembangunan infrastruktur di kawasan tersebut.
Batas Kemampuan Swadaya Warga
Meski aksi tambal sulam ini mampu meminimalisasi risiko kecelakaan secara sementara, warga menyadari bahwa kemampuan finansial dan swadaya masyarakat memiliki keterbatasan.
Perbaikan permanen tetap berada di tangan pemerintah yang memegang wewenang anggaran pembangunan.
Ilan berharap respons cepat dan kepastian jadwal pengerjaan nyata dari Pemerintah Kabupaten Manggarai maupun DPRD setempat dapat segera terealisasi.
”Sampai kapan kita menanti? Jangan sampai janji tinggal janji,” tegas Ilan.
Kini, aksi patungan semen oleh warga Kampung Lelit menjadi simbol sekaligus penanda penting bagi pemerintah daerah: bahwa aspirasi masyarakat yang telah disampaikan berkali-kali membutuhkan kepastian dan penanganan nyata di lapangan, bukan sekadar janji manis. (*)
Penulis: Rudolf
Editor: Redaksi