
Bondowoso, Obor Rakyat — Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air, dan Bina Konstruksi (BSBK) secara proaktif mempersiapkan kerangka strategis pembangunan serta rehabilitasi infrastruktur melalui momentum Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD) tahun 2026. Fokus kebijakan diarahkan pada pemerataan distribusi pembangunan dan resolusi terhadap infrastruktur yang mengalami kerusakan berat.
Kepala Dinas BSBK Kabupaten Bondowoso, Ansori, mengonfirmasi bahwa agenda penanganan jalan pada P-APBD 2026 mencakup estimasi bentang sepanjang kurang lebih 12 kilometer. Pelaksanaan program ini dirancang secara komprehensif dan tersebar di berbagai titik wilayah, tanpa berpusat pada satu zona tertentu, guna memastikan kesinambungan pembangunan daerah sekaligus mematuhi regulasi tematik Dana Bagi Hasil (DBH).
”Untuk Perubahan APBD, penanganannya tetap di beberapa lokasi, tidak terfokus pada satu wilayah. Bahkan, programnya berkelanjutan. Ada juga kegiatan yang harus mengikuti ketentuan DBH karena peruntukannya sudah tematik,” ujar Ansori usai menghadiri rapat paripurna DPRD Bondowoso, Rabu (4/11/2026).
Proyeksi Jembatan Koncer dan Rekonstruksi Total
Di samping penanganan jalan kabupaten, Dinas BSBK memfokuskan perhatian pada revitalisasi kawasan Koncer, yang direncanakan masuk dalam dokumen penganggaran tahun anggaran 2027. Tahapan perencanaan awal saat ini tengah digodok melalui P-APBD 2026 sebagai langkah mitigasi teknis agar realisasi fisik dapat berjalan optimal pada tahun berikutnya.
Ansori menegaskan bahwa tingkat kerusakan infrastruktur yang telah melampaui batas ambang pemeliharaan rutin menuntut pendekatan rekonstruksi secara menyeluruh, bukan sekadar rehabilitasi parsial. Pendekatan ini berkaca pada efektivitas penanganan infrastruktur serupa di kawasan Sentong.
- Estimasi Anggaran: Kebutuhan pendanaan awal untuk revitalisasi kawasan Koncer diproyeksikan berada di kisaran Rp20 miliar, yang sifatnya masih dinamis dan akan disesuaikan dengan hasil akhir perencanaan teknis (detailed engineering design).
- Manajemen Rekayasa Lalu lintas: Mengingat skala pekerjaan yang masif, Dinas BSBK mengindikasikan perlunya penerapan manajemen lalu lintas khusus, termasuk opsi penutupan total akses jalan selama masa konstruksi demi menjamin aspek keselamatan kerja dan standar teknis bangunan.
Sementara itu, terkait progres Jembatan Sentong, Ansori menyampaikan bahwa konstruksi fisik utama telah rampung dan kini memasuki tahap penyelesaian akhir (finishing).
Kendati demikian, pihak BSBK masih menanti koordinasi dan pemberitahuan resmi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) perihal kepastian jadwal peresmian serta pembukaan akses untuk publik.
Tata Kelola Pengadaan Logistik Desa
Selain sektor konektivitas darat, Dinas BSBK Bondowoso juga tengah merampungkan proses pengadaan 2.000 unit aspal bakar drum (Aspal Minyak Penetrasi 60/70) yang dialokasikan untuk pemerintah desa.
Ansori menekankan bahwa distribusi logistik ini wajib berlandaskan pada instrumen regulasi yang ketat guna memastikan aspek akuntabilitas serta tertib administrasi dalam tata kelola aset daerah.
Langkah strategis ini mencerminkan komitmen Pemerintah Kabupaten Bondowoso dalam menghadirkan pemerataan pembangunan yang berorientasi pada kualitas, akuntabilitas, serta keberlanjutan fungsi infrastruktur bagi masyarakat luas. (*)
Penulis: Latif J
Editor: Redaksi