
Jember, Obor Rakyat — Di tengah anak-anak yang semakin akrab dengan layar gawai dan dunia digital, Festival Egrang yang digagas komunitas Tanoker kembali hadir sebagai ruang alternatif untuk tumbuh, bermain, dan belajar bersama.
Festival Egrang ke-14 resmi diluncurkan di kawasan Pasar Lumpur, Jember, Sabtu (9/5/2026), bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional. Kegiatan tahunan ini tidak hanya menjadi panggung permainan tradisional, tetapi juga berkembang sebagai ruang kreativitas, edukasi, hingga penggerak ekonomi masyarakat.
Ratusan peserta dari berbagai kalangan hadir dalam peluncuran festival tersebut. Mulai dari siswa TK hingga SMA, guru, kepala sekolah, komunitas seni budaya, hingga tokoh masyarakat dan perwakilan pemerintah. Total peserta diperkirakan mencapai sekitar seribu orang.
Festival Egrang sendiri merupakan agenda budaya tahunan yang didedikasikan sebagai wadah berekspresi bagi masyarakat. Berbagai karya seni, keterampilan, hingga kuliner lokal ditampilkan dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Tahun ini, festival kembali melibatkan sekolah-sekolah prototipe yang telah memasukkan permainan tradisional dan tari egrang ke dalam modul pembelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler.
Sejak 2024, Tanoker bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Jember dengan melibatkan 24 sekolah prototipe. Partisipasi sekolah pun terus meningkat.
Pada festival sebelumnya, tercatat sebanyak 20 sekolah dan empat komunitas seni budaya ikut ambil bagian.
Direktur Tanoker menyebut festival ini tidak hanya bertujuan melestarikan permainan tradisional, tetapi juga membangun ruang interaksi sosial yang sehat bagi anak-anak dan masyarakat.
“Egrang bukan sekadar permainan. Di dalamnya ada nilai kebersamaan, keberanian, disiplin, dan semangat untuk terus mencoba,” demikian pesan yang mengemuka dalam peluncuran festival.
Puncak Festival Egrang ke-14 dijadwalkan berlangsung pada 1 Agustus 2026. Sebelum acara utama, sejumlah kegiatan pendukung akan digelar, seperti lomba mewarnai tingkat TK, senam beregu untuk ibu-ibu dan eyang-eyang, hingga berbagai permainan tradisional dengan tema “Ayo Mencintai Rupiah dan Permainan Tradisi Egrang”.
Peluncuran festival di Pasar Lumpur juga diramaikan dengan outbound, polo lumpur, tarung bantal, balap bakiak, dan permainan egrang yang melibatkan peserta lintas usia.
Selain menjadi ruang budaya, festival ini juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat melalui lapak kuliner tradisional dan produk kerajinan warga.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital
(Wamenkomdigi) RI, Nezar Patria, yang hadir sebagai keynote speaker menilai permainan tradisional tetap relevan di tengah derasnya arus digitalisasi.
Menurutnya, anak-anak membutuhkan ruang untuk menyeimbangkan kehidupan digital dengan interaksi sosial secara langsung.
“Anak-anak membutuhkan jeda dari dunia digital. Mereka sudah terbiasa bermain gim di ruang digital, sehingga permainan tradisional menjadi sarana penting untuk menyeimbangkan kecerdasan emosional mereka,” ujar Nezar.
Ia menilai permainan egrang mengandung nilai pendidikan karakter yang penting bagi generasi muda, mulai dari kerja sama, keseimbangan, ketekunan, hingga daya juang.
“Melalui permainan ini anak-anak belajar berkolaborasi, menjaga keseimbangan, dan belajar bangkit ketika jatuh. Ada semangat untuk terus berdiri dan melangkah,” katanya.
Nezar juga menekankan pentingnya digitalisasi budaya agar permainan tradisional tetap dikenal lintas generasi. Menurutnya, budaya lokal perlu terus didokumentasikan dan diperkenalkan melalui platform digital agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Festival Egrang selama 14 tahun terakhir dinilai berhasil membangun ekosistem sosial di tengah masyarakat Jember. Tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memperkuat jejaring antara sekolah, komunitas seni, dan masyarakat dalam menjaga budaya lokal sebagai bagian dari identitas bangsa.
Melalui festival ini, Tanoker berharap semakin banyak generasi muda terlibat dalam pelestarian permainan tradisional egrang sekaligus menjadikannya ruang belajar yang menyenangkan di tengah era digital yang terus berkembang. (*)
Penulis: Maria Agustina
Editor: Redaksi