
Kupang, Obor Rakyat — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Nusa Tenggara Timur (NTT) mengecam keras dugaan tindakan represif yang dilakukan oknum anggota Polres Sikka terhadap kader GMNI Cabang Sikka saat aksi demonstrasi pada 21 Mei 2026.
DPD GMNI NTT menilai dugaan pemukulan terhadap mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi di ruang publik merupakan bentuk kekerasan yang mencederai nilai demokrasi serta menunjukkan sikap represif aparat terhadap gerakan kritis mahasiswa.
Ketua DPD GMNI NTT, Bonevantura Goan, menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak dapat ditoleransi karena demonstrasi merupakan hak konstitusional warga negara yang dijamin undang-undang.
“DPD GMNI NTT mengecam keras tindakan brutal oknum anggota Polres Sikka yang melakukan pemukulan terhadap kader GMNI saat menyampaikan aspirasi. Aparat kepolisian seharusnya menjadi pelindung demokrasi, bukan pelaku intimidasi terhadap rakyat dan mahasiswa,” tegas Bonevantura dalam pernyataan resminya.
Menurutnya, tindakan represif aparat dalam pengamanan aksi menunjukkan masih kuatnya pendekatan kekuasaan yang anti kritik dan anti gerakan rakyat. Ia menilai, apabila praktik kekerasan terhadap mahasiswa terus dibiarkan, maka demokrasi hanya akan menjadi slogan tanpa makna.
Pernyataan tersebut secara langsung ditujukan kepada Polres Sikka sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam pengamanan aksi demonstrasi. DPD GMNI NTT mendesak Kapolres Sikka segera membuka proses pemeriksaan secara transparan dan menindak tegas anggota yang diduga terlibat dalam tindakan kekerasan terhadap kader GMNI Cabang Sikka.
Selain itu, DPD GMNI NTT juga meminta Polda NTT dan Divisi Propam Polda NTT untuk tidak menutup mata terhadap dugaan pelanggaran yang dilakukan aparat di lapangan.
“Kapolda NTT harus turun tangan. Jangan biarkan institusi kepolisian kehilangan legitimasi di mata rakyat karena membiarkan praktik represif terus terjadi terhadap mahasiswa,” lanjut Bonevantura.
DPD GMNI NTT menegaskan akan terus mengawal proses hukum dan advokasi terhadap kader GMNI Cabang Sikka yang menjadi korban dugaan kekerasan aparat. Mereka memastikan gerakan mahasiswa tidak akan mundur hanya karena intimidasi maupun tindakan represif.
Bagi GMNI, tindakan pemukulan terhadap kader saat demonstrasi bukan sekadar persoalan individu, melainkan ancaman serius terhadap kebebasan sipil dan ruang demokrasi di Nusa Tenggara Timur. (*)
Penulis: Rudolf
Editor: Redaksi