
Bajawa, Obor Rakyat – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Ngada menegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila harus menjadi momentum refleksi terhadap arah pembangunan daerah yang lebih berpihak kepada masyarakat.
Ketua DPC GMNI Cabang Ngada, Florianus Setiadi, mengatakan implementasi nilai-nilai Pancasila tidak cukup hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial seperti upacara dan pidato, tetapi harus tercermin dalam kebijakan pembangunan yang mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Menurut Florianus, keberhasilan pembangunan di Kabupaten Ngada tidak semata diukur dari banyaknya pembangunan fisik maupun pertumbuhan ekonomi, melainkan sejauh mana masyarakat merasakan manfaat pembangunan dalam kehidupan sehari-hari.
“Dalam semangat Pancasila, kesejahteraan rakyat harus menjadi tujuan utama pembangunan. Potensi besar yang dimiliki Ngada, baik sumber daya alam, budaya, maupun sumber daya manusia, harus dikelola untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya dalam pernyataan yang disampaikan bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6/2026).
GMNI menilai masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Di sektor pertanian, misalnya, petani masih menghadapi persoalan akses pasar, fluktuasi harga komoditas, hingga keterbatasan sarana produksi yang berdampak pada kesejahteraan mereka.
Sementara itu, di sektor pendidikan dan kesehatan, peningkatan kualitas layanan dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat memperoleh akses yang lebih baik terhadap layanan dasar.
Selain itu, GMNI juga menyoroti pentingnya membuka ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk berinovasi, berkarya, dan terlibat aktif dalam proses pembangunan daerah.
Organisasi mahasiswa tersebut menegaskan bahwa sila kelima Pancasila, yakni Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, harus menjadi landasan utama dalam setiap kebijakan pembangunan.
Pembangunan, menurut mereka, harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk yang berada di desa-desa dan wilayah pelosok.
“Jangan sampai ada masyarakat yang tertinggal dari arus pembangunan. Setiap kebijakan harus menjawab kebutuhan nyata rakyat,” tegas Florianus.
Di sisi lain, GMNI mengingatkan pentingnya menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal yang selama ini menjadi identitas masyarakat Ngada. Nilai gotong royong, persaudaraan, dan kebersamaan dinilai sebagai bentuk nyata pengamalan Pancasila yang telah hidup dalam kehidupan masyarakat sejak lama.
GMNI berpandangan bahwa pembangunan manusia harus menjadi prioritas utama pemerintah daerah. Investasi pada sektor pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia dinilai lebih menentukan kemajuan daerah dalam jangka panjang dibandingkan pembangunan fisik semata.
Organisasi tersebut juga menekankan pentingnya transparansi, akuntabilitas, serta pelayanan publik yang berkualitas sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai Pancasila dalam tata kelola pemerintahan.
Bagi generasi muda, Hari Lahir Pancasila disebut sebagai momentum untuk mengambil bagian dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa dan daerah, mulai dari kemiskinan, ketertinggalan, korupsi, hingga rendahnya kualitas pendidikan.
Sebagai organisasi yang berlandaskan Marhaenisme, GMNI menegaskan keberpihakan terhadap petani, pelaku UMKM, pekerja, perempuan, dan generasi muda harus menjadi fokus utama pembangunan.
“Ukuran keberhasilan pembangunan bukanlah banyaknya proyek yang dibangun, melainkan meningkatnya kesejahteraan masyarakat,” kata Florianus.
GMNI berharap peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan agar nilai-nilai Pancasila benar-benar hadir dalam kebijakan, pelayanan publik, dan kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Rakyat tidak membutuhkan Pancasila yang hanya terdengar dalam pidato. Rakyat membutuhkan Pancasila yang hadir dalam jalan yang baik, sekolah yang berkualitas, pelayanan kesehatan yang manusiawi, ekonomi yang bertumbuh, dan pemerintahan yang bekerja untuk kepentingan rakyat,” tutupnya. (*)
Penulis: Rudolf
Editor: Redaksi