Proyek Jembatan Sentong Picu Kerusakan Jalan Rp20 Miliar, Ketua DPRD Bondowoso Tuntut Tanggung Jawab Pemprov Jatim

​Bondowoso, Obor Rakyat – Pelaksanaan proyek pembangunan Jembatan Sentong di bawah naungan Dinas Binamarga Provinsi Jawa Timur menyisakan persoalan pelik bagi warga dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso. Sepanjang 25 kilometer ruas jalan desa yang terbagi di tujuh titik dan dialihkan menjadi jalur alternatif, kini kondisinya rusak fatal akibat dihantam kendaraan logistik bermuatan berat.
Ketua DPRD Kabupaten Bondowoso, H. Ahmad Dhafir, S.H., M.H. (Fot Ist)

​Bondowoso, Obor Rakyat – Pelaksanaan proyek pembangunan Jembatan Sentong di bawah naungan Dinas Binamarga Provinsi Jawa Timur menyisakan persoalan pelik bagi warga dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso. Sepanjang 25 kilometer ruas jalan desa yang terbagi di tujuh titik dan dialihkan menjadi jalur alternatif, kini kondisinya rusak fatal akibat dihantam kendaraan logistik bermuatan berat.

​Padahal, sebelum dijadikan jalur alternatif, jalan desa tersebut dalam kondisi mulus terlapisi aspal hotmix jenis Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) dengan variasi lebar 2,5 meter hingga 4 meter.

​Kondisi Lapangan: Layaknya “Ular Sawah”

​Berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi infrastruktur di tujuh titik alternatif tersebut saat ini sangat memprihatinkan akibat beban kendaraan yang melintas jauh melampaui kapasitas kelas jalan.

​Kerusakan masif yang ditemukan meliputi:

  • Penurunan Badan Jalan: Permukaan aspal ambles dan bergelombang.
  • Lubang di Mana-mana: Titik-titik lubang dalam yang mengancam keselamatan pengendara.
  • Bibir Jalan (Bereman) Ambles: Bagian pinggir jalan menganga dalam karena tidak mampu menahan beban tonase.
  • Hancurnya Fasilitas Pendukung: Kerusakan merembet pada hancurnya sistem drainase dan saluran air di sepanjang jalur.

​Warga setempat menggambarkan kondisi aspal saat ini sudah kehilangan bentuk idealnya.

“Kondisi saat ini, jalan tersebut tidak ubahnya seperti ular sawah yang terlihat tul-tul (belang-belang penuh tambalan),” ujar salah seorang warga.

Dinas BSBK Bondowoso Terkendala Anggaran Material dan Upah

​Merespons dampak tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur sebenarnya telah menyerahkan bantuan hibah berupa 300 drum aspal bakar kepada Pemkab Bondowoso melalui Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air, dan Bina Konstruksi (BSBK). Namun, hibah tersebut rupanya belum menjadi solusi tuntas.

Baca Juga :  Satreskrim Polres Jember Bantu Dua Lansia Bersaudara di Jelbuk Lewat Program Jum'at Senyum

​Kepala Dinas BSBK Bondowoso, Ansori, menegaskan bahwa dari 300 drum aspal yang diberikan, saat ini baru 25 drum yang dapat diaplikasikan untuk penambalan jalan.

Pihaknya mengaku kelabakan karena hibah tersebut murni hanya berupa aspal baku, tanpa disertai material pendukung dan biaya operasional.

​”Yang terpakai baru 25 drum. Untuk perbaikan selanjutnya kami terkendala anggaran untuk pembelian bahan material (seperti batu dan pasir) serta upah tenaga kerja. Jalan yang perlu diperbaiki ini cukup panjang,” ungkap Ansori saat dikonfirmasi, Selasa (23/6/2026).

​Ansori mengakui dan mengapresiasi langkah Pemprov Jatim yang memberikan aspal bakar tersebut.

Namun, realita di lapangan membutuhkan pembiayaan yang jauh lebih besar.

​”Kami akui Pemprov Jatim telah turun tangan dengan menghibahkan aspal bakar. Tapi komponen yang memakan biaya lebih besar untuk perbaikan jalan desa yang dijadikan alternatif ini adalah upah kerja dan bahan materialnya,” tegas Ansori.

​Untuk mengatasi jalan buntu ini, Dinas BSBK Bondowoso telah melayangkan surat resmi ke Pemprov Jatim guna mengoordinasikan bantuan anggaran perbaikan yang lebih komprehensif.

Selama ini, Dinas BSBK terpaksa memaksimalkan pos-pos anggaran rutin daerah yang jumlahnya sangat terbatas, sehingga hasil penambalan dinilai sia-sia karena jalan terus digerus truk logistik yang melebihi kapasitas kelas jalan.

​Ketua DPRD Bondowoso: Kerusakan Jalan Lebih Besar dari Nilai Proyek Jembatan

​Sikap tegas langsung disuarakan oleh Ketua DPRD Kabupaten Bondowoso, Ahmad Dhafir. Ia menyoroti ironi di mana kerugian infrastruktur yang dialami daerah jauh melampaui nilai proyek jembatan itu sendiri.

Baca Juga :  Polsek Tanah Jawa Gerak Cepat Tindaklanjuti Laporan Judi Tembak Ikan, Pemeriksaan Nihil Aktivitas

​”Pembangunan Jembatan Sentong dianggarkan sebesar Rp17,5 miliar oleh Pemprov Jatim, sedangkan kerugian akibat kerusakan jalan kabupaten yang terdampak mencapai Rp20 miliar lebih untuk memperbaikinya,” tegas Dhafir dengan nada masygul.

​Dhafir mendesak agar Pemprov Jatim tidak menutup mata dan melimpahkan beban finansial perbaikan ini kepada APBD Bondowoso.

Menurutnya, kerusakan ini adalah dampak langsung (multiplier effect) dari proyek provinsi.

​”Kami meminta kepada Pemprov Jatim, kerusakan jalan kabupaten jangan dibebankan ke Pemkab Bondowoso. Pemprov Jatim harus bertanggung jawab, karena kerusakan jalan kabupaten ini penyebab utamanya adalah proyek pembangunan Jembatan Sentong,” imbuhnya.

​Dhafir menambahkan, jalur alternatif yang memutar terlalu jauh ini tidak hanya merusak aspal, tetapi juga memukul urat nadi kehidupan masyarakat Bondowoso secara luas.

​”Dengan adanya jalan alternatif yang memutar jauh, mobilitas logistik terhambat, perekonomian lesu, dan akses pendidikan anak-anak sekolah juga terganggu. Ini jelas yang dirugikan adalah daerah,” pungkas Ketua DPRD Bondowoso tersebut. (*)


Penulis: Latif J

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *