
Jember, Obor Rakyat – Kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak cukup dipelajari saat keadaan darurat terjadi. Karena itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember terus mendorong lahirnya budaya sadar bencana sejak lingkungan sekolah melalui Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Sebanyak 400 siswa dan dewan guru SMP Katolik Maria Fatima, Kecamatan Kaliwates, mengikuti rangkaian edukasi dan simulasi gempa bumi selama dua hari, Kamis hingga Jumat (30–31/7)2026).
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan sekolah dalam menghadapi potensi bencana.
Selama pelatihan, para siswa mendapatkan materi mengenai potensi ancaman bencana, cara menyelamatkan diri saat gempa, hingga praktik evakuasi menuju titik kumpul yang aman.
Mereka juga dikenalkan dengan pentingnya Tas Siaga Bencana, yakni perlengkapan darurat yang disiapkan untuk menghadapi situasi krisis.
Tidak hanya siswa, para guru juga memperoleh pembekalan mengenai implementasi Program SPAB, penerapan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), serta pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) agar mampu memberikan respons awal ketika terjadi keadaan darurat di lingkungan sekolah.
Simulasi gempa menjadi puncak kegiatan pada hari kedua. Seluruh warga sekolah dilibatkan bersama Tim Siaga Bencana Sekolah (TSBS), personel BPBD Kabupaten Jember, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Jember Kidul.
Melalui gladi tersebut, peserta menguji efektivitas jalur evakuasi, pembagian tugas masing-masing personel, hingga koordinasi penanganan korban apabila bencana benar-benar terjadi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Jember, Maryani, mengatakan sekolah merupakan salah satu lokasi yang membutuhkan tingkat kesiapsiagaan tinggi karena menjadi tempat beraktivitas ratusan hingga ribuan orang setiap hari.
Menurutnya, Program SPAB bertujuan agar setiap satuan pendidikan mampu mengenali risiko bencana, memiliki prosedur penanganan keadaan darurat, sekaligus membangun budaya siaga yang melibatkan seluruh unsur sekolah.
“Harapannya, kesiapsiagaan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi menjadi kebiasaan yang terus diterapkan sehingga warga sekolah dapat bertindak cepat, tepat, dan terkoordinasi ketika menghadapi situasi darurat,” ujarnya.
Program SPAB menjadi salah satu langkah preventif yang dinilai penting di tengah meningkatnya kesadaran akan mitigasi bencana.
Melalui pelatihan rutin dan simulasi berkala, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang yang aman dan tangguh ketika bencana terjadi. (*)
Penulis: Maria Agustina
Editor: Redaksi