Menghargai Diri Sendiri dari Bentangan Tambang Tanah Jawa, HRM Khalilur: Hilirisasi Dolomit, Kapur, dan Silika Bisa Bernilai Rp60 Triliun

Situbondo, Obor Rakyat – Kesadaran besar terkadang datang dari sebuah perjalanan sederhana. Itulah yang diungkapkan Founder & Owner BIG (Bandar Indonesia Grup), HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, setelah menyusuri kawasan tambang yang telah ia bangun sejak 2018 di Gresik, Lamongan, dan Tuban.
Founder & Owner BIG, HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy. (Fot Ist)

Situbondo, Obor Rakyat – Kesadaran besar terkadang datang dari sebuah perjalanan sederhana. Itulah yang diungkapkan Founder & Owner BIG (Bandar Indonesia Grup), HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, setelah menyusuri kawasan tambang yang telah ia bangun sejak 2018 di Gresik, Lamongan, dan Tuban.

Dalam catatan reflektif bertajuk “Menghargai Diri Sendiri, Dari Catatan Subuh Dengan Bentangan Tambang Tanah Jawa”, Khalilur mengaku baru benar-benar menyadari besarnya potensi yang selama ini berada di tangannya.

Menurutnya, selama bertahun-tahun banyak orang, termasuk dirinya sendiri, lebih sering mengagumi pencapaian orang lain daripada menghitung potensi yang telah Tuhan titipkan kepada diri sendiri.

“Ada satu kebiasaan yang diam-diam kita rawat bersama: kita begitu fasih menceritakan kehebatan orang lain. Sampai lupa membaca sejarah hidup kita sendiri,” tulisnya, Senin (4/8/2026).

Delapan Tahun Mengembangkan Tambang Tanah Jawa

Khalilur mengatakan dirinya mulai mengembangkan kawasan tambang di Pulau Jawa sejak 2018. Selama delapan tahun, berbagai kawasan tambang dolomit, kapur industri, kapur bakar, hingga pasir silika berhasil dipetakan dan dikelola di sejumlah wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Momentum refleksi itu, menurutnya, muncul ketika ia mendampingi seorang pengusaha batu bara asal Tiongkok mengunjungi berbagai lokasi tambang miliknya di Gresik, Lamongan, dan Tuban. Perjalanan tersebut membuatnya melihat kembali potensi yang selama ini telah dibangun.

Baca Juga :  Ironi Penegakan Hukum BUMD Jatim: Ketika Putusan Inkrah Menguap di Balik Silogisme Birokrasi

Fokus pada Dolomit, Kapur, dan Pasir Silika

Dalam catatannya, Khalilur menjelaskan bahwa aset pertambangan yang dimilikinya meliputi dolomit, kapur industri, kalsium karbonat, kapur bakar, hingga pasir silika yang tersebar di delapan kabupaten pada dua provinsi.

Ia menyebut komoditas tersebut memiliki prospek besar karena menjadi bahan baku berbagai industri strategis, mulai dari pupuk, kaca, semen, smelter, hingga manufaktur. Menurutnya, potensi terbesar justru berada pada proses hilirisasi, bukan sekadar menjual bahan tambang mentah.

“Hasil tambang baru memiliki nilai tambah yang tinggi ketika diolah menjadi produk industri,” ujarnya.

Hilirisasi Dinilai Mampu Melipatgandakan Nilai Tambah

Khalilur memperkirakan produk dolomit yang diolah menjadi Mesh 100, kapur industri menjadi Mesh 800, hingga kapur bakar dalam bentuk bubuk halus mampu menghasilkan margin yang jauh lebih tinggi dibandingkan menjual bahan mentah.

Ia juga memperkirakan perputaran bisnis industri dolomit, kapur industri, kapur bakar, dan pasir silika di wilayah Gresik, Lamongan, dan Tuban dapat mencapai sekitar Rp60 triliun setiap tahun apabila ekosistem hilirisasi berjalan secara optimal.
Menurutnya, potensi tersebut menunjukkan bahwa komoditas mineral nonlogam memiliki peluang ekonomi yang tidak kalah besar dibandingkan batu bara maupun nikel.

Refleksi tentang Berdikari

Di balik uraian mengenai potensi pertambangan, Khalilur mengaku memperoleh pelajaran yang lebih penting, yakni pentingnya menghargai potensi diri.
Dalam catatannya yang ditulis pada Subuh Ahad, 2 Agustus 2026, ia mengaku menyadari bahwa dirinya selama ini belum sepenuhnya menghargai amanah dan potensi yang telah dimiliki.

Baginya, menghargai diri sendiri bukanlah bentuk kesombongan, melainkan bagian dari rasa syukur kepada Tuhan.

“Saya percaya menghargai diri sendiri adalah bagian dari syukur, dan menyia-nyiakan potensi adalah bentuk lain dari kufur nikmat,” tulisnya.

Ia kemudian mengajak masyarakat agar tidak hanya sibuk menghitung keberhasilan orang lain, melainkan mulai mengenali, mensyukuri, dan memaksimalkan potensi yang dimiliki masing-masing.

Menurutnya, semangat berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri harus menjadi fondasi dalam membangun industri nasional, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pengekspor bahan mentah, tetapi juga menjadi bangsa yang mampu menghasilkan nilai tambah melalui hilirisasi.

Menutup refleksinya, Khalilur mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus membangun Indonesia melalui kerja nyata.

“Berhentilah sibuk menghitung kekayaan orang lain. Mulailah menghitung titipan Tuhan pada dirimu sendiri. Syukuri, lalu maksimalkan sampai batas terjauh yang sanggup kau tempuh,” pungkasnya. (*)


Penulis: Eko Apriyanto
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *