
Bondowoso, Obor Rakyat – Musyawarah Cabang (Muscab) ke-X Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Bondowoso yang digelar pada Senin (4/5/2026) di Hotel Palm Bondowoso menghadirkan dinamika baru dalam proses penentuan kepengurusan partai.
Berbeda dari periode sebelumnya, forum MUSCAB kali ini tidak secara langsung memilih ketua dan sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC). Sebagai gantinya, peserta hanya menentukan lima orang formatur yang akan menjadi aktor kunci dalam proses penjaringan dan pengusulan kepemimpinan.
Pengurus DPW PPP Jawa Timur, H. Imam Thahir, menjelaskan bahwa perubahan mekanisme ini merupakan bagian dari penyesuaian struktural yang menempatkan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) sebagai pemegang otoritas akhir.
“Lima formatur dari unsur DPC dan PAC akan bergabung dengan satu perwakilan DPW dan satu dari DPP. Forum inilah yang akan menggodok dan mengusulkan nama ketua serta sekretaris,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keputusan final tetap berada di tangan DPP, sesuai dengan ketentuan dalam Surat Keputusan (SK) Kementerian Hukum dan HAM yang menempatkan DPP sebagai pihak yang memiliki legitimasi dalam penerbitan kepengurusan.
Mekanisme Formatur dan Dinamika PAC
Dalam proses pemilihan formatur, dukungan mayoritas menjadi syarat utama. Dari total 23 Pengurus Anak Cabang (PAC) di Bondowoso, hanya 21 yang memiliki hak suara setelah dua PAC dinyatakan nonaktif akibat berakhirnya masa SK.
Untuk menetapkan lima formatur, kandidat atau paket formatur harus memperoleh dukungan minimal 50 persen plus satu dari jumlah PAC aktif.
Sementara itu, PAC yang belum aktif tetap diperbolehkan hadir, namun tidak memiliki hak suara.
Situasi ini diperumit oleh adanya sejumlah PAC yang mengalami kekosongan kepemimpinan akibat faktor internal seperti wafatnya ketua atau pengunduran diri, sehingga tidak dapat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan strategis.
Peta Kekuatan Kandidat
Menjelang pelaksanaan MUSCAB mengemuka dua figur yang dinilai memiliki basis dukungan signifikan, yakni Barri Sahlawi Zain dan Saiful Bahri Husnan atau yang dikenal sebutan Gus Sef.
Namun demikian, konfigurasi dukungan terhadap kedua nama tersebut masih sangat bergantung pada hasil pemilihan formatur.
Komposisi formatur diyakini akan menjadi indikator utama arah rekomendasi nama yang diajukan ke DPP.
“Jika formatur didominasi oleh pendukung salah satu kandidat, maka besar kemungkinan nama itu yang akan diusulkan. Tetapi pada akhirnya, keputusan tetap menjadi kewenangan DPP,” kata Thohir.
Sentralisasi Keputusan dan Konsolidasi Partai
Mekanisme baru ini mencerminkan upaya konsolidasi internal PPP dengan memperkuat peran struktur pusat dalam menjaga kesinambungan kepemimpinan.
Di sisi lain, pola ini juga membuka ruang kompromi politik melalui forum formatur yang menjadi titik temu berbagai kepentingan di tingkat cabang.
Dengan demikian, MUSCAB X PPP Bondowoso tidak hanya menjadi ajang pemilihan kepengurusan, tetapi juga arena konsolidasi kekuatan politik yang akan menentukan arah strategis partai di tingkat lokal dalam beberapa tahun ke depan.
Kepastian kepemimpinan DPC PPP Bondowoso kini sepenuhnya menunggu hasil formulasi usulan yang akan diputuskan oleh DPP, sebagai pemegang mandat tertinggi dalam struktur organisasi partai. (*)
Penulis: Latif J