Pilih Menepi dari Politik, Gus Firjaun Ingin Fokus Mengabdi Lewat Pesantren

Jember, Obor Rakyat – Setelah menuntaskan masa pengabdiannya sebagai Wakil Bupati (Wabup) Jember, Muhammad Balya Firjaun Barlaman atau Gus Firjaun memilih jalan yang berbeda dari banyak politisi. Alih-alih menyiapkan langkah untuk kembali bertarung dalam kontestasi politik, ia justru memutuskan menepi dan fokus mengembangkan pesantren.
Muhammad Balya Firjaun Barlaman atau Gus Firjaun saat diwawancarai dikediamannya.

Jember, Obor Rakyat – Setelah menuntaskan masa pengabdiannya sebagai Wakil Bupati (Wabup) Jember, Muhammad Balya Firjaun Barlaman atau Gus Firjaun memilih jalan yang berbeda dari banyak politisi. Alih-alih menyiapkan langkah untuk kembali bertarung dalam kontestasi politik, ia justru memutuskan menepi dan fokus mengembangkan pesantren.

Keputusan itu disampaikan Gus Firjaun saat menerima silaturahmi awak media di kediamannya, Jumat (29/5/2026).

Dengan tegas, ia menyatakan tidak lagi memiliki keinginan untuk maju dalam Pilkada maupun kontestasi politik lainnya.

“Sudah tidak lagi. Saya sekarang ingin hidup tenang, santai bersama keluarga dan teman-teman santri, itu saja,” ujarnya.

Bagi Gus Firjaun, masa purna tugas menjadi momentum untuk kembali menjalani kehidupan yang lebih dekat dengan dunia yang telah membesarkannya, yakni pesantren. Setelah bertahun-tahun berada dalam ruang pemerintahan dan dinamika politik, ia mengaku kini menikmati kehidupan yang lebih sederhana dan tenang.

Baca Juga :  Jember Pertahankan Opini WTP 2025, Bupati Fawait: Setiap Rupiah APBD Harus Berdampak untuk Rakyat

Kembali ke Akar Pengabdian

Menurut Gus Firjaun, berakhirnya masa jabatan sebagai Wabup Jember membuatnya merasa lebih ringan.

Meski demikian, aktivitas sosial dan pengabdian kepada masyarakat tidak serta-merta berhenti.

“Saya merasa beban itu sudah lepas, jadi semakin enjoy dan nyaman. Tapi ternyata kegiatan juga tetap banyak, terutama mengabdi kepada masyarakat dan kembali fokus ke pondok pesantren,” katanya.

Ia menyebut pesantren sebagai “habitat” yang sesungguhnya. Karena itu, saat ini dirinya lebih memilih mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk melanjutkan pengembangan lembaga pendidikan yang telah dirintis keluarganya sejak puluhan tahun lalu.

Menurutnya, mengelola pesantren bukan sekadar menjaga keberlangsungan lembaga pendidikan, tetapi juga melanjutkan warisan perjuangan yang memiliki tanggung jawab besar terhadap masyarakat.

“Pondok pesantren ini warisan perjuangan yang harus dilanjutkan. Tanggung jawabnya besar. Kami ingin tetap memberikan manfaat kepada masyarakat melalui pendidikan dan pesantren,” ungkapnya.

Pesantren Tumbuh, Pendidikan Keagamaan Kian Dekat dengan Masyarakat

Gus Firjaun juga menyoroti perkembangan dunia pesantren di Kabupaten Jember yang dinilainya semakin pesat dalam beberapa tahun terakhir. Jika dahulu jumlah pesantren masih terbatas, kini lembaga pendidikan berbasis keagamaan tersebut telah tersebar hampir di seluruh kecamatan.

Kondisi itu, menurutnya, menjadi kabar baik bagi masyarakat karena akses terhadap pendidikan agama semakin mudah dijangkau.

“Sekarang pesantren sudah banyak dan tersebar hampir di semua kecamatan. Itu bagus karena masyarakat punya banyak pilihan untuk belajar agama,” ujarnya.

Ia berharap pertumbuhan pesantren tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan keagamaan, tetapi juga memperkuat karakter generasi muda di tengah berbagai tantangan sosial yang terus berkembang.

Memilih Fokus pada Pendidikan Santri

Di tengah berbagai isu pembangunan yang menjadi perhatian publik, termasuk persoalan pengelolaan sampah di Kabupaten Jember, Gus Firjaun memilih tidak banyak memberikan tanggapan. Ia menegaskan saat ini fokusnya bukan lagi pada urusan politik maupun pemerintahan.

Baginya, membina santri dan mengembangkan pendidikan pesantren menjadi ruang pengabdian yang ingin terus dijalani.

“Saya sekarang fokus di pondok saja, bagaimana mengembangkan pendidikan dan membina santri ke depan,” pungkasnya.

Keputusan Gus Firjaun untuk menjauh dari panggung politik menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu harus dilakukan melalui jabatan publik.

Di pesantren, ia memilih melanjutkan peran sebagai pendidik dan pembina generasi, sebuah jalan yang menurutnya lebih sesuai dengan panggilan hidup yang ingin dijalani saat ini. (*)


Penulis: Maria Agustina
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *